Kamis
Kamis 22 Desember
Oh Iyah. Ini hari ulang tahunnya Ka bagus yaak. Selamat bertambah tua pak itsnain. All best wishes pokoknya buat kamu dimana pun berada mas tutor.
Badan terasa sekali lelah dan pegal. Sisa-sisa pergulatan nvda kemarin.
Aku belajar banyak. Dapet keseruan banyak. Nambah teman banyak.
Dapat dilihat dari banyaknya kawan yang berpelukan saat waktunya pamit.
Ah. Perpisahan. Akan selalu hadir sepaket dengan kedatangan dan kebersamaan.
Liburan kita selesai..
Tapi tidak dengan persaudaraan kita..
Sampai jumpa bertemu di keseruan bermain dan berjuang yang lain-lainnya lagi..
Malam yang lelah juga. Harus berkebut waktu
Untuk mencapai kereta malam tadi.
Yap. Aku memajukan jadwal mudik demi bisa pulang bareng orang-orang Greenpeace. Dan utamanya ya jelas, Revin.
Hahahaha si mas Hadi ngerti ajah. Aku ditempatkan di samping Revin.
Yah walaupun sepanjang malam kami hanya saling kikuk dan memilih tidur.
It a bit awkward you know...
Especially when everyone notice ya and expect we really di something and become together..
Ah.
Tapi ini agak lucu juga sih ya.
Saat Revin si otak mesum ketemu cewek tomboy macem aku.
Beberapa kali terlihat menghilang bersama, mencuri kesempatan di tiap momen sempit, mencuri waktu dan ruang gelap agar tak banyak yang tahu, kucing-kucingan..
Saling menggenggam tangan dan mencuri peluk di sela malam, bersandarkan kepala, emosi atas luka yang ku dapat di malam lainnya..
Hahahaha..
Ada apa dengan kami berdua ? Entah.
Agak aneh juga jadi bahan ceng-cengan. Seolah dunia tahu dan lebih tahu apa yang terjadi dengan kami melebihi diri kami sendiri.
Saat disela pembicaraan rekan-rekan seolah berusaha mengaitkan dan mencomblangkan.
Aku hanya khawatir membuatnya tak nyaman...
Tapi nyatanya dia malah tertawa bahak pagi ini saat ku minta maaf. Lah kan..
Waktu akan terus berlalu dan tak ada yang tahu..
Jarak kami yang terpaut jauh. Aku yang tak begitu saling mengenal dalam dengannya. Kesempatan bertemu dan bersama yang terbatas.
Aku tak tahu..
Kalau ia merasa tak nyaman.
Nah kan dia yang menggenggam tanganku. Merengkuh jemariku dan melingkarkan di pinggangnya..
Ia hanya tak terduga. Si Revin itu.
Comments
Post a Comment