Keretaku sudah tiba
Hari ini. Aku tak bisa bilang telah menjalani no-contact rules lagi.
Tapi hari ini aku selesai. Selesai yang kemarelin tertunda. Aku sudah bayar semua hutangmu yah..
Dan harusnya itu jadi satu-satunya anchor kontak antara kita.
Aku sudah transfer. Dianggap lunas.
Dan aku pun sudah pamit. Ucap selamat tinggal.
Aku tahu mungkin itu tak ada gunanya. Tak ada artinya juga bagimu, lebay menurutmu..
Tapi aku tak lagi peduli apa katamu.
Hari ini. Aku hanya ingin menjadi versi terbaik diriku.
Kuat. Kalau itu facade yang selama ini ku bangun, yang telah kuruntuhkan demi telanjang di hadapanmu. Maka selepas ini, aku akan menjadi kuat sungguhan. Apapun caranya, apapun resikonya. Seberapa pama pun waktu yang ku butuhkan.
Kamu.
Memang benar godaan terhebat di jalanku.. zona nyaman ku.
Tapi bukankah hidup dimulai saat kita berani keluar dari zona nyaman ?
Maka harus kutanggalkan kamu juga, dan mulai meniti jalanku sendiri...
Terimakasih sudah mengajarkan banyak hal. Terimakasih sudah pernah mengukir senyum cerah bahagia terhebatku, juga telah membuka kunci air mataku.
Aku berhutang banyak padamu. Yang mungkin aku tak tahu apakah mampu membayarnya.
Kamu pernah bilang aku tanggung jawabmu. Aku buku kosong yang diberikan Tuhan padamu, seolah kesempatan baru untuk hidup.
Terlepas masih bodoh dan cacatnya aku, kamu sedia jadi pelatih ku..
Tapi bukankah kamu sendiri yang selalu menasihati, tak baik memulai yang baru ketika yang lama belum kau selesaikan.
Aku pergi.
Sama seperti kamu yang telah melangkah lebih dulu menjauh, melepaskan aku. Berhenti terbebani oleh tanggung jawabmu akanku.
Ini Takan berarti apapun mungkin bagimu.
Tapi sebelum ini, aku masih terus menggenggam erat bayang kenanganmu seolah hidupku bergantung pada itu. Padahal aku tahu, betapa bodohnya aku terlihat begitu. Betapa akan sangat tidak nyamannya kamu. Betapa aku bertransformasi menjadi sosok yang sangat menyebalkan, menjengkelkan. Aku menjadi sosok yang selama ini aku coba hindarkan.
Tapi aku ingin berhenti.
Sudah saatnya berhenti.
Waktu berkabungku sudah selesai. Waktu meratap pun sudahi disini.
Aku tak ingin lagi mengemis cintamu...
Aku memilih pergi juga. Aku memilih melepasmu, merelakan kamu...
Bukan karena ku menyerah mencintaimu, lebih pada ku hanya mencoba menghormati pilihanmu. Juga menghormati diriku sendiri...
Terkadang, melihat dan mendengar namamu disebut seperti hari ini masih menyisakan sembilu dan rindu. Tapi itu aku terima. Kamu adalah bagian dari perjalanan hidupku. Dan berapapun waktu berlalu. Aku takkan lupa kamu. Pun takkan berkurang kepedulian ku padamu..
Aku terima itu semua sebagai pin tanda kenangan darimu. Hadiah terakhir yang akanku bawa di kereta menuju perjalananku berikutnya..
Aku akan rindu rumahmu Abang.
Aku rindu celotehan dan kebawelanmu..
Sumpah serapah yang jadi tular aku.
Tawa jahil dan iseng itu, emosimu yang meledak-ledak, manjanya kamu, ngambeknya kamu, senyum ramah dan baiknya kamu, kikuknya kamu..
Aku masih ingat detil kecil tentangmu.
Bagaimana kamu selalu suka aku menyentuhmu dengan benar, otot leher , pundak dan keningmu yang sering kaku karena stress.. lembut rambutmu..
Bau kucing rokok dan kamu yang terasa ketika kamu terlelap disampingku, atau gesek kumismu itu yang khawatir menggangguku.
Aroma tubuhmu yang selalu mampu menenangkan diriku.
Bagaimana aku harus menyentuh Michael mu yang kau suka..
Bagaimana kamu bisa turn on ketika aku berfantasi liar dan erotis juga..
Ah.
Biarlah itu sudah berlalu.
Koper dan backpack ku sudah dikemas rapih.
Rumah ini, yang dulu begitu nyaman ku tinggali sendiri. Aku sudah tak suka lagi, kamu pernah menghuninya bersamaku. Terlalu banyak kaku disini.
Aku sudah berlalu.
Kereta ku segera tiba Abang.
Biarlah perjalanan ini sesekali membuatku terngiang kamu. Ya, kamu adalah bagian besar dari aku. Tapi aku sudah tak bisa lagi tinggal.
Kereta hidupku harus berjalan lagi.
Aku tak tahu akan sampai di stasiun mana setelah ini. Juga apa yang akan ku temui disana.
Aku cuma bisa berusaha sebisa ku. Semoga aku cukup kuat dan semakin kuat. Aku bisa menghadapi apapun. Aku harus percaya itu!
Terimakasih sudah membenarkan perbekalan perjalanan ku.
Untuk segalanya, terimakasih.
Aku pamit.
Selamat tinggal Satrio hapsoro
Comments
Post a Comment