Reasoned

Aku tak baik saja..

Dan aku tak peduli bila kamu bilang aku cengeng, mewek kaya anak kecil, lebay dan lainnya.. aku tak peduli.

Tau apa kamu soal sakit ku ?
Soal perasaanku ?
Soal aku ?

Kamu tak tahu apa-apa..
Kamu lelaki logisku. Yang tak peduli apa-apa diluar rentang logika cakrawalamu..

Dulu aku mungkin berfikir, kamu segitu percayanya padaku. Percaya kekuatanku untuk terus baik-baik saja dan akan baik saja..

Tapi kalo dipikir lagi. Dari kacamata yang lain.
Kamu mungkin hanya tak peduli. Kamu tak pernah mau perduli atas apa yang terjadi diluar bubble idealis positif nya kamu..

Everything' happen for a reason..

Dan bagiku tak patut judge something tanpa kita tahu, tanpa betul paham sejarah , latar belakang dan alasan dibalik semua perkara.

Bagimu mungkin lawan hitam tak hanya putih. Tapi bisa juga non-hitam..

Ya itu kamu. Lelaki kritis ku..

Tapi di mataku, semua orang punya putih versi mereka masing-masing. Apa yang di mata orang hitam, bisa tampak putih sebenarnya, bila saja kita mau melihat dari kacamata orang tersebut.

Dan mungkin kamu. Aku pun begitu..

Selalu ada alasan di balik semua yang terjadi. Dibalik semua tindak dan tanduk kita.

Ingatkah Abang?

Kita begitu sama..
Karakter, kemalasan, sepakat atas beberapa nilai hidup dan kebaikan..
Sama-sama bullheaded.
Penyendiri, tapi juga seorang teman..

Kamu melihat dirimu di aku. Dan kamu adalah bayanganku tentang aku versi lelaki dan seperti apa andai pilihanku berbeda...

Mungkin aku ingin seperti kamu..

Tapi aku juga tak ingin lagi seperti kamu..

Kita bukan orang yang gampang bicara perasaan. Ga tahu malah bagaimana ekspresikan perasaan, memperlakukan orang lain..

Kita yang pernahnya begitu mengkhawatirkan satu sama lain. Khawatir akan menyakiti..

Tapi waktu. Ego dan entahlah..

Kini kita malah saling menyakiti, baik sadar maupun tak sadar.

Kita. Dua orang yang tak sengaja terlalu nyaman nyender, saat memang saatnya kita ingin berhenti mencari, menemukan kenyamanan di tubuh yang lain.

Tapi ya. Kenyamanan saja tak cukup. Tak cukup bilakah tak ada ketangguhan dalam berjalan, keberanian dalam ambil resiko, kepercayaan untuk saling menjaga, dan kepedulian untuk saling melindungi..

Itu ga cukup.

Dan.

Adalah sebuah kebodohan untukku tuk tetap bertahan mengingin kau kembali.

Kamu takkan datang.

Aku tahu itu.

Seberapa lama pun aku menunggu. Kamu tak akan datang..

Aku fikir sudah akan baik saja tuk kembali menjalin kontak denganmu. Tapi tak.

Itu semakin membuat kita gila dengan amarah.

Ya. Aku masih marah.
Sangat marah.
Padamu.
Pada diriku sendiri.
Pada kepengecutanmu..
Pada cintaku yang terlalu padamu..

Dan mungkin amarah itu, yang membuatku masih saja bisa berlinang air..

Aku belum memaafkan. Kamu. Ataupun diriku sendiri yang terlalu mencintaimu, lebih daripada yang kamu tahu, yang pernah kamu rasa..

Menyesal?
Aku tak tahu...

Aku mungkin limbung. Tapi melupakanmu. Atau menyesalinya . Membayangkan hidup andai tak pernah ada kamu, itu rasanya dosa besar.

Ya aku takkan bisa bohong. Kamu adalah bagian dari diriku. Kamu yang udah bantu banyak aku belajar , menghargai diriku sendiri, mensyukuri dunia, dan banyak hal.

Malah mungkin aku akan menyesal bila tak bertemu kamu..

Mencintai terlalu besar, apa itu disesali? Mungkin. Sedikit.

Tapi tak lah..
Setidaknya aku tahu, aku pernah benar mencintai seseorang dengan apa adanya dayaku, tanpa semua facade.. aku jujur pada dunia.. setidaknya aku tahu aku telah berusaha semampuku.
Jadi bila kini kita memang berakhir selamanya,. Tak ada banyak sesal 'what if' lagi..

Aku telah berbuat apa yang ku bisa..
Dan sisanya?
Aku tak kuasa..

Mungkin cemburu ku keliru, ketidak percayaan ku keliru, posesif ku keliru,,,
Tapi ya ini aku.
Si gadis kecil 20 tahun yang masih labil yang masih gagal mengontrol diri.

Dan aku sadari...

Dan aku berusaha jadi lebih baik lagi.
Paling ngga aku sadar lemahku dimana..

Dan semoga berikutnya aku akan lebih baik mengontrol diri.

Pun aku jadi lebih menghargai diriku juga..

Tak lah bersamai orang yang belum selesai dengan masa lalunya.. orang yang tak bisa mengimbangi ku dan balik membuatku secure.. menghargai aku.

Aku juga manusia biasa.

Sama seperti kamu...

Bedanya. Selama ini aku meredam banyak egoku hanya untuk menuruti polahmu. Aku jarang nurut ego cuma buat diri sendiri..

Hidup berjalan.

Aku mungkin agak limbung. Tapi hidup takkan menunggu kita tegak dulu buat jalan..

Hari ini dan besok dan seterusnya.. ku rintangan hati dan balut luka lama saat kamu pergi.

Aku tak mau jadi victim .

Walau aku gatau caranya. Aku akan jadi survivor bang. Harus!

Kalaupun sayangku ke kamu ga ilang. Atau nyatanya sampe hari kapan aku masih mengingatmu, biarlah. Aku memang begitu..

Tapi yang penting aku udah harus bisa melangkah tegap lagi. Dengan senyum terpatri. Tak peduli dan lebih tangguh pada halang rintangan.

Dan suatu hari nanti. Melihat, mendengar, membaca nama atau wajahmu Takan lagi menyesakan. Takkan lagi buatku berhenti dan lama melihat.

Suatu hari..

Kamu . Hanya akan sebagai salah satu part yang pernah mengisi, tapi cukup sebatas itu.

Aku memang harus membuat batas.

Kamu lelakiku..

Ku harap kamu takkan lagi jadi pengecut yah. Jangan lagi menyakiti hati perempuan manapun. Tak juga ibumu.

Jagalah..

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know