Day 1 : restart
Day 1 : 12 Desember 2016
Hari ini, mulai lagi dari nol.
Aku akan belajar sepenuhnya menjauh. Aku akan berusaha menghormati pilihanmu. Aku tak kan lagi ngontak kamu.
Kufikir ada baiknya. Mungkin harus ku blokir sejenak kamu dari segala fungsi ponsel ku. Kamu. Namamu dari kamus hidupku. Wajahmu dari kaledeiskop hidupku..
Ga mudah. Ga ada yang bilang hidup itu mudah. Tapi kali ini, aku menolak jadi korban.
Kiki bilang, aku harus menghormati pilihanmu dan benar-benar hilang, tak lagi berusaha ikut campur, tak boleh lagi tunjukan peduli secara nyata. Mungkin saja , disana, perpisahan ini, bukan hanya aku yang terluka. Kamu berat. Pasti berat menjadi seorang brengsek begitu bagiku.
Maafkan Abang.
Maaf.
Ada begitu banyak hal yang ingin aku katakan. Yang ingin aku tanyakan. Yang ingin aku berikan...
Tapi tiba-tiba kamu membanting pintu di depan mukaku.
Soal rumor itu. Kamu mau tahu kejujuran ku ? Aku tak berbuat apapun. Aku bahkan tak pernah menyebut atau menyalahkan gadis itu ditengah kesedihanku akanmu. Aku. Selalu menyalahkan diriku sendiri, seorang aku yang terlalu bodoh dan lemah , terlalu banyak mencintai , terlalu buta dan tuli, delusional, aku gadis kesayanganmu kala itu, yang ternyata ga cukup pantas untukmu..
I put you in high pedestal...
Di kepalaku. Ini semua nightmare. Aku lemas. Kamu yang begitu aku banggakan...
Lalu sempat ingin menyalahkanmu, membencimu. Tapi aku tak bisa. Kita sudah janji untuk tidak jadi pembenci. Dan sekalipun aku tak tahu kamu ingat itu atau tidak, paling tidak aku tak ingin merusak diri dengan kebencian.
Akan sangat mudah membencimu Abang. Akan. Tapi aku akhirnya bisa berfikir waras.
Cukup lama. Cukup lama kabut itu akhirnya berkurang dan aku bisa membaca dengan jelas. Kita memang tak bisa. Kita memang tak punya masa depan panjang bila harus dipaksa.
Kamu dengan jelas dari awal bilang tak bisa bersama siapapun saat ini karena dia. Aku yang bodoh dan naif kamu mau belajar melepasnya perlahan. Begitu oercaya mulut janji manismu.
Kadang dalam amarah aku bertanya dan berkata.. kamu memang begini. Tak sedikitpun, secuil pun pernah peduli dan mencintaiku.
Tapi tak sengaja hari ini ku lihat wajah lamamu, seringaimu, di hutan Pinus pagi itu. Selfie. Seorang kamu ?
Ah. Kamu tampak sangat bahagia dan bebas disana sayang. Kamu pernah sangat bahagia bersamaku. Apapun artinya itu.. aku tahu aku pernah berarti sedikit dimatamu, hingga bisa melahirkan senyum dan bahagia yang luar biasa seperti itu.
Aku mungkin hanya safehaven bagimu. Oase setelah Padang tandus dan haus karenanya..
Dan kamu, adalah pohon hijau subur dengan ayunan kayu dibawahnya, yang buat aku betah dan berhenti cukup lama. Membuatku menanggalkan headset dan musikku, mengistirahatkan kaki setelah panjang perjalanan ku.
Darimu, aku tahu.. tuk tak lagi jadi orang yang memberi secara berlebihan, mencintai lebih banyak. Karena semua kisah itu hanya sementara.
Darimu mataku terbuka.. sama seperti lawan hitam bukan berarti putih. Lawannya cinta bukanlah benci, melainkan pergi. Jarak. Tidak cinta.
Dan aku mempelajarinya dengan cara yang pahit.
Kini aku berharap boleh membencimu. Akan sangat mudah. Tapi tak menghasilkan apa-apa selain kepedulian dan rasa bersalah yang semakin memuncak. Hidupku terus terkait denganmu.
Tapi pergi ? Aku akan belajar...
Ah sayang. Aku sungguh iri padamu. Aku ingin radang enteng masalah dan cueki yang lalu dengan. Pergi. Aku ingin seperti itu. Tapi aku pasti abis itu sadar. Nggak. Aku bukan orang jahat kaya gitu. Aku hadis yang empat terlalu peduli... Aku takkan mungkin meninggalkan sejauh dan rusak apapun kamu.
Tentang dia..
Ya. Aku sering melihatmu dengannya lagi. Dan aku cuma bisa tersenyum miris...
Entah kamu benar kembali dengannya atau tidak, aku tak tahu. Itu bukan urusanku juga.
Aku yang seolah merebutmu darinya kan, dan sekarang jelas dimata temannya dan membenciku, ya pada dialah akhirnya kamu kembali. Kuharap mereka puas dan tak lagi mengusikku.
Aku mungkin delusional. Terlalu menginginkanmu. Hingga tak sadar sejak awal. Betapa matamu memang selalu tertuju padanya. Dia adalah prioritas utama bagimu..
Aku marah dan membencinya bahkan tanpa pernah mengenalnya, hanya karena ia adalah gadis yang mendapat lebih darimu . Aku iri hati.
Dan sekarang kalo dipikir. Mungkin kalian berdua emang begitu cocok. Kamu lelaki hebat tapi payah, dia gadis kuat, udah mengalami banyak hal, tapi tetap ga pernah berhenti menyerah. Ia manusia yang tahu apa dan siapa dirinya, apa yang dia inginkan. Dan itu karakteristik yang hebat, yang kuingin capai tapi belum sampai kesitu. Kalian cocok. Dia akan bisa membeti nasihat yang lebih waras. Membukakan pintu bagi kebutuhanmu..
Bukan aku yang hanya bisa jadi sofa nyamanmu dirumah. Mendukungmu dari belakang tapi masih gelagapan dengan diri sendiri.
Bukan aku. Bukan aku yang sekarang yang bisa bersamamu. Kamu butuh sosok yang seperti dia emang bang.
Tau kenapa ?
Karena kita begitu mirip. Kita sama aja.
Kamu adalah versi lelaki dan dewasaku. Dan aku adalah versi perempuan dan muda bodohnya kamu.
Kita sama. Makanya bodoh dan egonya sama. Maka kenyamanannya pun begitu luar biasa.
Lalu aku berfikir..
Apakah kita hanya saling jatuh cinta pada bayangan diri kita sendiri ? Narsis banget!
Abang.
Aku masih memandangi langit, tapi aku berhenti berfikir tentang alam semesta dan universe diluar sana. Itu mengingatkanku padamu, dan kadang itu perasaan rindu tak menyenangkan...
Kalau kamu mendengar aku dekat dengan si ini si itu. Sudahlah lupakan..
Aku tak sedang cari pacar baru. Aku tak ingin.
Aku sadar . Aku lebih butuh sibuk mencintai diriku sendiri, bersyukur dan positif saja pada dunia...
Tapi aku tak menolak berkenal dengan orang baru, siapapun itu..
Abang..
Dulu kamu khawatir aku akan gampang pergi saat lagi jatuh dan nemuin kenyamanan ditempat lain. Lelaki lain.
Tapi kamu tak kenal aku berarti. Aku bukan perempuan kebanyakan kan..
Kalau emang aku gampang pindah senderan... Harusnya saat aku terluka karena ka gembel, bukan kamu yang ku bukakan hatinya kan ?
Mas wulluh lah sumber peneduh piluku saat itu, bahkan saat kamu pergi..
Aku memilih melihat kamu, beri kamu kesempatan. Karena hanya kamu sumber kewarasan diantara orang-orang kasihan itu...
Hari ini ?
Peneduh piluku banyak bang.. sobat-sobatku.. wejangan mas wullu..
Sumber ketidakwarasanku bisa kutemui di Revin..
Buat aku berguna, saat aku hari ini memilih jadi pilar dan senderannya mas deskon dan Lennon..
Orang yang peduli dan mengjadap ku masih ada johar dan Bani..
Dan makhluk baru ini, latar belakang jelas beda dengan kamu dan aku. Musik. Games. Dia lebih banyak asik sendiri. Aku khawatir kalau akan membuatnya bosan. Karena aku sungguh lama-lama canggung, awkward dan ga nyaman.
Tapi dia mau nemenin ngobrol nlberjam-jam, ngebuntutin aku belanja dan bawain belanjaan, nemenin nonton konser yang jelas dia males dan ga suka karena rame dan sumpek. Dan ia masih saja berharap mengulang hari denganku..
Aku tak geer dia mau denganku. Tak.
Aku hanya akan senang punya teman baru lagi. Tapi jangan sampe kecium dan disumbuin aneh-aneh. Itu awkward.
Anehnya , bersama manusia ini aku malah ingat kamu. Sadar kalo emang aku belom siap..
Mungkin hari-hari berikutnya aku masih akan bercerita payah tentangmu.
Dan sadar, kamu tak bakal juga baca jadi boam.
Paling nggak, aku ga akan mencari reassurance dengan mengontakmu lagi..
Pergilah Abang.
Menjauhlah..
Jangan muncul muncul lagi di hadapanku..
Atau bila kamu yang malah akhirnya kembali ke lingkaran, aku yang akan balik arah...
Aku gatau berapa lama waktu yang dibutuhkan. Tapi aku akan jadi orang bang. Yang jauh lebih baik. Nemuin diriku dan apa mauku. Dan berusaha kejar itu..
Kalau kamu udah nemuin sosok itu di gadis itu. Jaga dia baik-baik Abang..
Mungkin suatu saat aku akan nemuin sosok yang bisa menginspirasi dan meneguhkan jalanku. Ga mesti dalam bentuk kekasih kan
Selamat malam Abang.
Selamat tidur
Comments
Post a Comment