Aku berhenti disini
Malam gelap dan dingin..
Udara berkabut diluar sana..
Sedang aku masih terduduk disini, memandangi kaca jendela, lalu lalang jalanan malam ini..
Kamu..
Duduk terlelap di bangku sebelah.
Wajah itu tampak sangat lelah..
Kerut di keningmu menanda cemas yang kerap melanda mu..
Pun juga, tak nyenyak ataupun tenang tidurmu malam ini..
Ku fikir karena ini di bus kota.
Tak nyaman karena kita sedang di jalan umum. Tempat yang tak cukup nyaman dan aman untuk lelap.
Jalan ini terjal dan tak rata.
Sesekali terasa guncangan yang mengombang ambing arah tubuh kita.
Dan tiap kali kau tampak terganggu atau hampir jatuh dari bangku, tiap itu ku eratkan dekapanku di tubuhmu. Ku biarkan kepalamu bersandar padaku..
Sayang,
Malam ini aku tak nafsu tidur.
Bahkan sekalipun ada kamu disampingku.
Atau mungkin, justru karena ada kamu lah, aku tak bisa tidur. Aku tak tahu..
Di kepala dan ingatanku terus terngiang,
seolah flashback.
Tentang bagaimana kamu, aku, pernah tertawa bersama.
Pernah pula kau menangis di pelukku..
Juga semua perdebatan dan selisih ego kita.
Hingga di akhir, kamu tak sanggup lagi dan memilih menyerah.
Mataku berpejap..
Tapi hatiku tak tahu lagi apa yang dia rasa..
Pun apalah daya kita,
Yang mungkin masih saja sama tersiksa..
Kiranya tujuan dan jalan kita masih kadang searah atau berpapasan jalan..
Seperti sekarang ini. Kita belum sampai ke tujuan.
Bus ini tadinya penuh orang.
Hingga kita pun harus lagi bersebelahan..
Ini godaan sekaligus siksaan bagi hati renta..
Kita belum sampai.
Tapi aku sudah tak tahan lagi.
Mataku perih, tapi air mata bahkan sudah habis.
Kuketuk pintu jendela, beri isyarat pada pak sopir dan kondektur.
Berkemas aku.
Kamu masih lelap Abang..
Mendusel ke arah tengkukku.
Tak mengelakkan, kecup ku mendarat di kepalamu. Jemariku mengusap lembut bioah rambutmu..
Biarkan aku.
Kali ini saja.
Menikmati kamu dan aromamu dan segala tentangmu.
Bus melambat.
Ku kecup kamu panjang tuk terakhir.
Selamat malam sayang..
Jaga diri ya kamu..
Beberapa langkah, ku tengok kamu masih lelap tapi gelisah mungkin karena sadar hilangnya kehangatan di sisi.
Tapi kali ini sudah tak bisa mundur.
Aku pamit.
Di halte ini aku berhenti.
Comments
Post a Comment