Sudden realization

Tuhan..
Atau siapapun yang memegang skenario kehidupan. Kalau bolehk hamba yang hina ini meminta satu kali ini saja..

"Yang ini saja Tuhan, plis. Kumohon.."

Aku ingin berhenti di orang ini Tuhan. Biarkan lelaki ini jadi partner dalam perjalanan sisa hidup ku dengannya Tuhan. Izinkan aku memohon untuk restumu Tuhan..
Bila kau meridhoi, bantu genapkan keyakinan ku dan dia Tuhan, agar teguh.
Atau bilakah tak diizinkan bersamanya, bolehkah aku pinta yang seperti dia?

Aku tak sempurna.. ia pun lelaki yang tak sempurna..
Kami ibarat dua sisi koin yang menghadap ke arah yang berbeda namun masih dalam satu kesatuan unit.
Begitu berbedanya kami. Ya memang. Dan mungkin sepanjang jalan kami, perbedaan itu akan sesekali menyandung jalan kami. Membuat celah, kritik, debat, melesut amarah dan emosi, membuat lebam ego dan perasaan.
Dan bukan sekali mataku telah pernah nya banjir karena orang ini.

Tapi entahlah Tuhan, aku masih yakin dengan lelaki ini.
Ingin ku menjadikannya partner berjalan menghabiskan sisa hidup berpetualang dan belajar.

Aku sungguh berterimakasih Tuhan, mempertemukan jalan kami. Menghadirkannya di celah kehidupanku.

Aku meminta bukan sebagai egois bocah yang masih kasmaran. Tak.

Bertemu dengannya membantuku dalam memaknai hal-hal yang sebelumnya masih tanda tanya bagiku. Tentang cinta. Tentang hidup. Tentang amarah. Tentang kenyamanan. Ketenangan. Kebahagiaan.

Aku begitu perduli dan mengasihi nya, menyayanginya sebagai sosok spesial di hidupku. Mau disebut pacar ya silahkan, tapi bagiku ya dia lebih jadi kakak, saudara yang protektif, partner, sobat, sahabat dalam segala aspek hidup. Teman spesial, spesial pake touchy-feely antara kami berdua.

Bukan karena cinta egois aku ingin memohon..
Sayang, cinta akan mudah habis terkikis waktu dan kejenuhan.

Kalau egois, ya aku maunya yang lebih udah kaya, ganteng seperti John Mayer, atentif luar biasa terhadap keinginan dan kebutuhan ku. Mau selalu sedia ngelakuin apa aja untuk membahagiakan ku.

Karena nyatanya aku telah sempat buta menyayanginya. Menganggapnya 'Mine'. Hingga menjadi posesif dan baper parah. Terlalu mencintai membuatku rentan.
Mataku telah pernah banjir karenanya.. hati, perasaan dan ego sudah lebam kayaknya..
Dan tiap itu aku masih harus struggle dengan konflik lain selain dia, dan dia malah cuma bakal risih saat ku memasuki mode baper.

Karena menjadi tomboy, dan berkenal dengan banyak lelaki di hidupku. Dia tampak mirip tapi spesialnya beda sendiri.

Yah memang bersyukur ada yang mau, kataku. Tapi sebenarnya karena dikelilingi banyak lelaki, tak akan sulit bila ingin settle down sebenarnya. Aku bukannya ga laku kok. Aku yang begini. Benar katanya, orang yang mengenal dan pernah berinteraksi lah yang mungkin jatuh hati padaku. Jojoo pun pernah bilang, pesonaku, kharismaku disana. Di pembawaanku dan hangatnya terbuka mau berteman dengan siapapun. Gampang nyambung dengan orang.

Dua tahun aku memilih menyendiri, itu pilihanku. Aku dengan enteng dan angkuhnya mengabaikan perhatian dan uluran tangan dari lelaki yang peduli padaku.
Dan pada akhirnya aku memilih disampingnya dan ditahui orang sebagai 'Ceweknya rio' ya itu juga pilihanku. Entah kenapa, diantara mereka yang lebih lama dan jauh ku kenal dan bersamai tapi tak pernah mau ku buat janji komitmen apapun, aku malah memilih berhenti dan dengan rela ingin menjaga komitmen bersama lelaki satu ini. Entahlah.

Mungkin karena ia benar special. lebih karena ya dia teman hidup yang asik, yang kurasa ku butuhkan. Yang bisa menjaga sekaligus terus mendorong dan menantang ku untuk maju dan menjadi lebih baik.

And here we are..

Bahkan ketika kadang ragu sering datang. Berfikir atau membayang tanpanya begitu menyebalkan dan menyedihkan aku pasti.

Dan aku sadar aku yang belum selesai dengan diriku sendiri akan menyela jalan kami, jalan ke depan mungkin sulit dan panjang. Tak melulu senangnya mungkin. Yah seperti Nietzsche bilang: "what is do not kill you, Will make you stronger.."

Entah energy apa. Melihat ironi saat disekitaku banyak sobat yang baru saja mengakhiri hubungan asmaranya. Mendengar mereka bercurah, membuatku berkaca. Dan tiba-tiba saja, sebuah kesadaran menghinggapi diriku malam lalu dan masih terjaga hingga detik ini, "ya orang ini menyebalkan. Tak melulu seperti yang kuinginkan. Tapi aku yakin ingin berhenti di orang ini, bilakah ia berkenan.."

Terimakasih lelakiku. Sehat, dan kuatlah selalu lelakiku..

Terimakasih Tuhan. Untuk segalanya..

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know