Spiritual
Aku bukan makhluk yang terlalu religius. Aku masih dangkal. Agama yang tertera di kartu identitas bahkan akta kelahiran ku pun hasil titah warisan orang tua. Masih terkadang aku mempertanyakan kepercayaan ku sendiri akan agama dan Tuhan yang katanya ku sembah. Masih sering mengingkari ritual keagamaan yang katanya mesti wajib kulakukan sebagai umat beragama, untuk apa? Untuk dapat pahala katanya mah. Ah ibadah ku saja masih bolong-bolong.
Aku masih dalam pencarian ku memaknai Tuhan, kehidupan, tujuan dan peran yang akan ku ambil sebagai manusia.. aku belum selesai.
Melihat di tayangan media atau mendengar kawan-kawan khusyuk dengan ibaratnya, membaca Qur'an nya dengan merdu. Ada malu dan sembilan iri dalam diri. Aku ingin..
Tapi entahlah. Setan dan iblis di diriku mungkin terlalu kuat kuasanya. Aku masih manusia gagal nan lalai nyatanya..
Keluargaku mengecamku, sudah sering kudengar. Padahal mereka tak tahu gejolak konflik dalam diriku. My own struggle..
Aku belajar tutup telinga.
Aku orang yang enggan membahas hal bullshit, omong kosong tak berdasar. Melakukan sesuatu setengah-setengah.. all or none..
Dan di kepalaku, selama aku belum selesai dalam menemukan esensi kehidupan dan Tuhan versi ku sendiri. Aku tak berani mengaku-aku berpura-pura sok alim seolah orang paling suci di bumi karena telah beribadah.
It not justify what i am doing, yes i know it! But what else can i do?
I hate hypocrate and fake people, so i dont wanna regist as one.
Kalau aku akan menjadi manusia salehah, dan religius akan apapun keyakinan yang ku percayai. Ya itu harus atas kehendak hati nurani dan logika ku sendiri, harusnya bukan karena agama keturunan, bukan karena tuntutan orang lain.
Sejak kecil aku terbiasa disebut anak setan.. durhaka.. karena apa? Karena berani bertanya. Mempertanyakan apa yang ada dan sudah dianggap biasa oleh orang kebanyakan. Aku hanya anak kecil, tak tahu apa-apa kata mereka. Tak pantas berbicara dan mempertanyakan yang lebih tua, agama. Pokoknya ikutin aja. Dosa kamu! Durhaka!
Aku hanya bertanya tuan dan nyonya..
Tuhan menciptakan ku lengkap dengan kecerdasan dan keingintahuan luar biasa akan dunia, aku manusia. Maka akan kugunakan karunianya itu untuk belajar apapun, berfikir, terus mengeksplor dan ingin tahu, mengkritisi segala sesuatu, mengagumi dan mendukung yang benar dan membenarkan yang kiranya salah. Tak ada yang konstan di kehidupan. Tuhan menjadikanku manusia, bukan domba yang hanya mengikut pengembalanya.
Apa aku salah tak ikut rombongan yang tunduk pada titah?
Karena pemahaman ku yang tak sempurna dan tak lengkap sebagai anak beragama, aku pun memutuskan mencari pemaknaan ku sendiri.
Spiritual ku hanya aku dan siapapun entitas Tuhan yang maha tahu, yang tahu. Tak perlu sesumbar bagiku. Riya.
Ya, shalat, puasa, mengaji,dzikir ku belum sempurna seperti seharusnya..
Ritual spiritual ku adalah dengan melakukan perjalanan, bertemu makhluk lain, menyatu dengan alam mahakarya Tuhan. Menghirup nafas panjang, menghayati, mengapresiasi dan terus bersyukur setiap waktu akan karunia dan keajaibannya di hidupku. Kesempatan masih bisa bangun dan bernafas menghirup udara pagi, melihat laut dan gunung, bercengkrama, berbagi senyum dan mengajak gelak tawa manusia lain. Menolong dan berbuat kebaikan. Bagiku itu ritual magisku. Ibadah ku.
Beribadahku tak ingin mencari pahala atau apapun.. aku hanya ingin. Ingin berbagi. Ingin berbuat baik dan melihat dunia setidaknya tampak sedikit lebih baik.
Absurd?
Utopis?
Biar.
Itu yang bisa ku pahami sekarang. Kan ku bilang pencarian ku belum selesai.
Cakrawala mental ku masih sempit, belum terbuka katanya.. dan itu pecutan. Aku ga boleh leha-leha dan berpuas diri. Dunia masih begitu luas tak berbatas, cicipilah.. belajarlah! Terbanglah ai..!
Comments
Post a Comment