sakit ternyata joo

Jojoooo
maaf aku bandel dan lemah, ga dengerin apa katamu..

aku selalu menganggap dia berhak diberi kesempatan lagi dan lagi.. untuk sekedar bicara, untuk mendengar versi bagaimana mata dan hatiku melihat ini, kesempatan bilakah dia akan mau berubah sedikit, mengerti yang gue rasa, belajar melihat dan menurunkan ego, mengalah buat membahagiakan gue juga..

desya pernah bilang "The true mark of maturity is when somebody hurts you and you try to understand their situation instead trying to hurt them back"

kamu minta aku ngasih waktu buat diriku sendiri, menjauh sejenak, diamkan, biar kita liat apakah dia mencari, biarkan dia berusaha lebih, berjuang lebih. hati gue perlu istirahat katamu joo,, kamu ga rela, ga tega dan ga mau melihat mata gue berair lagi. gue sahabat perempuan terkuatnya jojoo, ga boleh cengeng. ga boleh ada yang nyakitin. katamu gue ga boleh ngerasa sendirian lagi, biar kakak dan sobat gue yang lain sedang jauh. gue masih punya jojoo,, jojoo-nya gue akan selalu ada buat gue kapanpun..

 aaaaa jojoo aku butuh kamu sekarang juga! bawa aku pergi joo.. kamu lagi sibuk nyiapin macan? aku bantuin kamu sibuk aja deh ya.. aku ga mau sendirian joo.. nanti air mataku pecah lagi.

tapi bahkan belom se-jam kamu minta aku menjauhinya, satu detik nyampe dan ketemu di sekre, buyar aku lupa harusnya nyuekin yah. aku ga tega joo.. menjauh dalam diam, membuatnya kebingungan dan ikutan bete, atau malah marah. melukai egonya saja aku ikhlas ga ikhlas,, aneh ya, padahal berapa kali harga diri gue yang jatoh, ego gue yang terluka, hati gue yang sakit karena dia..

kami saling bicara joo.. ada hal-hal yang kita saling jelaskan.. dan dia menjelaskan dirinya dengan rasional. sesuatu yang selama ini mengganjal bagiku, dia jelaskan dengan simpel, dan aku pun bisa melihat sendiri betapa situasi yang tidak enak kadang dia hadapi dan dilemakan. baginya aku wanita tangguhnya joo. dia percaya aku cukup kuat menghadapinya, bertahan tegak, tak memerlukan perlindungannya setiap saat.

dan aku coba mengerti. aku mengerti kadang situasinya ga menyenangkan dan tepat. aku mengerti ya beginilah dia. ia tak pernah maksud menyakiti siapapun, ia hanya berusaha berbuat baik dan menjaga perasaan semua orang. walaupun dimata manusia awam kaya kita "menyenangkan semua orang itu sia-sia, ga mungkin" Ya, karna realistis ajah. akan selalu ada pihak yang ga suka, yang ga senang, yang cemburu atas usaha kita, atau malah terluka dan merasa dirugikan.
Tapi aku tetap diam, menelaah kata-katanya. mencoba melihat ini dari kacamatanya, berfikir skeptis sepertinya. lagi, aku yang menahan kekanakan dan sisi posesif ku. aku mencoba beranggap ini sebagai proses pendewasaan bagiku juga. biar lebih sabar. nggak cengeng. ga gampang baper. aku yang mengalah mengikuti dan menerima dia yang emang begini. dan sepele "mengalah" itu ya sudah bagian "Fight for" , berjuang juga. berjuang menahan diri, melawan my own demon self,

sesekali berfikir ingin juga menyakitinya balik. tapi nggak. itu bukan pitri yang kamu bakal banggain joo. itu bukan aku. aku bukan pendendam kaya gitu. aku ga akan bisa..

nyatanya mau kamu dan sobatku yang mana pun merutuki dan ngomelin aku bodoh, aku tetap memilih bertahan. entah kenapa. aku malah balik membelanya di depan penny, retno, dan lainnya. aku mencoba mengerti dan memahami kondisinya. aku mengerti dia joo.

dan aku dengar kamu dan desya bertanya serupa "lalu kapan dia yang mengerti kamu fit?"

lho.. bukannya selama ini, kepeduliaan dan kehadirannya itu, berusaha ada saat memang aku sedang butuh.. bukankah dia mencoba mengertiku?

ah entahlah.

aku struggle menahan diri dan jealous itu sendirian juga. "as long as he be honest and dont lying or stab me at my back, it will be fine" ujarku. "selama dia masih menjaga percayaku"..

terdengar naif ?
atau malah munafik?

nyatanya mendengar ia memberi tahu akan dan sering bertemu, menyempatkan diri untuknya saja itu bikin aku terhenyak sejenak. "biasa aja, ini biasa aja", kataku dalam hati. melihatnya yang bahkan hingga di sepertiga malam masih begitu asik dengan ponselnya, berkomunikasi dengannya. padahal aku ada. ada aku disampingnya, didekatnya. tapi ia milih menjauhkan badan, "agar aku tak melihat? terlambat sayang. aku sangat sadar apa dan dengan siapa kamu sibuk."

ia yang sering mengaku orang yang tak bisa fokus. anehnya bisa sangat fokus kalo udah hapean. aku tak mengapa dihiraukan di depanmu sayang, kataku. tapi lebih tak menyenagkan tiap menyadari betapa saat bersamanya orang yang ku sebut lelakiku ini pun menghiraukanku juga. tak bisa membagi fokus seperti yang biasa ia lakukan saat bersamaku. jujur aja aku kecewa.

aku ijinkan kan sayang.. aku tak melarang kau mengkontaknya. aku tak menuntut paksa kamu memutus kontak dengannya. (atau belum? aku tak tahu).

tapi ternyata sakit yah joo..
beda cuma mendengar ceritanya, dan melihatnya langsung di depan mata. rasanya beda joo..

bukan. ini bukan sakit seperti kemarin joo..
aku terhenyak joo..
rasanya entahlah. desiran senyap apa ini joo.. rasanya hambar. rasanya....
ini bukan lagi emosi atau perasaan yang sakit.

aku telat sadar joo..
aku telat sadar untuk membuangnya dari fikiranku.
detik berikutnya jantungku berdebar sangat kencang joo..
dadaku kembali terbakar sangat nyeri. vertigo itu kembali menyerangku dengan sengit.
dan mataku kenapa perih joo..
tapi aku di tempat umum. aku ditengah jalan, aku tak boleh lemah.
tapi aku juga ga mau segera pulang dan tinggal sendirian di kamar.
aku butuh ramai dan sibuk joo..
atau aku butuh kamu joo..

tapi sayangnya aku tak punya alat untuk menghubungimu. aku tak memegang alat komunikasi apapun.

aku berjalan limbung joo.. beberapa mobil dan motor sempat beberapa kali hendak menabrakku saat hendak menyebrang jalan.

aku tak tahu harus kemana lagi saat tada kamu joo.. sekre? sejak lama itu berhenti jadi rumahku joo. aku menikmatinya disitu karna seringkali disitu aku menemukan dia joo, menemaninya bermalasan menghabiskan waktu ga jelas. tapi kali ini nggak. sekre rame. dan aku ga butuh makin merasa kesepian karena dia joo..

ia melihatku di jalan joo..
tapi aku tak bisa berekspresi apa-apa joo,,
aku sedang menahan nyeri jantungku kala itu, menahan kaca-kaca di mataku. aku tak bisa membalas sapaan anehnya.

aku butuh istirahat. aku ingin istirahat.
tapi aku ga bisa joo..

aku menulis ini, sehabis berkali mencoba menghubungimu lewat line, hingga ku menyerah, aku lupa kamu ga lagi pake line. aku di atas tempat tidurku tergelak joo.. dan aku kesulitan bangun lagi joo..
kepalaku berat banget joo.. dadaku nyeri banget joo.. makanan dan obat yang coba ku telan pun termuntahkan semua.. aku tak tahu sepanas ini bisa disebut demam atau bukan.

tapi kamu ga bisa dihubungin joo..

tapi ga ada yang bisa dihubungin.

reza dan edo lagi pergi ada acara dan ga bisa diganggu.

aku gatau lagi minta siapa lagi joo..

aku gatau joo..

masbro ku lagi skripsi dan jauh semua.

ijaal, yuli, desya lagi kkn.

bani lg repot ngurus ukt lagi.

dan lebih ga mungkin menghubunginya kan joo.. kan dia ga ingin aku bergantung apa-apa padanya. ia tak ingin aku membebaninya..

aku gatau joo


Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know