Friend for life

"...Love is simply friendship without unjust expectations.  It is a quiet understanding, a mutual confidence, and a commitment to sharing and forgiving.  It is loyalty through good and bad times.  It settles for less than perfection and makes allowances for human weaknesses..."

ekspektasi ku terlalu berlebih mungkin, and it my flaw. always think and expect the best from other.. padahal itu karakter yang baik sebenarnya, tapi apa daya.. kadang malah jadi salah pakai dan salah sasaran. Yang ada malah jadi banyak nuntut, banyak kecewa saat tuntutan dan ekspektasi tak sesuai realita. Dan tak berhak menyalahkan siapa-siapa selain dirinya sendiri.

Harusnya tak jadi serumit ini di kepalaku. Tak perlu berasa banyak drama melelahkan dan jaluran benang kusut begini. Hati ku yang memang rapuh tak harusnya ku biarkan tanpa perlindungan. Dan perlindungan itu memang tak sepatutnya aku pasrahkan padamu. Aku lah yang pegang kuasa, akulah yang harus memagarinya sendiri. Dan memang terlalu banyak ekspektasi, berharap, bersama dan mendengarkan selentingan menuduh dari orang lain itu bukanlah jalan yang sehat. 

Rasanya apa yang kita rajut ini bukankah tak berorientasi untuk semata pacaran kan yah?! Karena pacaran itu kan tujuannya adalah untuk putus. Kita disebut pacaran juga rasanya asing dan aneh banget di telingaku.

Lah kita?

 Dari awal kita berkenalan sebagai kenalan sebatas teman satu lingkaran tempat bermain. Lalu sedikit demi sedikit kamu menjadi teman bicara dan bercerita yang seru, sekedar buat tik-tok hal remeh remeh, hingga berbicara hal apa yang aku tadinya kurang tahu tapi jadi tahu karena kamu tahu dan membagi semangat keingintahuan itu. Lalu jangan tanya kenapa kamu asik ndusel di sisiku, atau kepalaku di bahumu dengan tanganmu yang asik mengelus kepalaku. Kita tak tahu apa yang dilakukan selain insting dan pengetahuan bahwa bisa menyediakan kenyamanan bagi orang lain. Kamu, dan aku.

Kenyamanan memang jerat paling berbahaya.. dan aku terjerat. Kalau aku bilang baper, itu masih di kasta tertarik dan suka saja kok sayang. Aku tak segitu gampangnya mempercayakan hatiku pada orang lain kok. Dan bila bagimu malam saat kamu mencium ku adalah titik balik kita.. bagiku itu bukan apa-apa selain touchy-feely aktivitas kita. Cuma lagi agak kesetanan aja malam itu. 

Titik balik kita, bagiku, justru saat malam itu di ritual telfon kita itu dan kamu membuatku sukses tak bisa tidur lagi saat pertama kau berucap ingin mengajakku nikah tahun ini (ebuset gila nih orang).. tapi apalah hidup tanpa sedikit kegilaan. 

Kamu adalah hubungan yang kubawa serius pertama kalinya. Pun dari sebelumnya aku sudah tahu aku lelah bermain cinta lagi. Capek support orang tak ingin diajak berjalan dan berjuang bangun berbenah diri dan menata hidup menjadi lebih baik setiap harinya. Lelah disia-siakan lah intinya.. kalo pacaran hanya untuk teman makan, ojek kemana-mana, bawain ini itu, ya kali mending aku nyari bodyguard atau asisten aja sekalian. 

Aku lebih mencari ketenangan dan perasaan aman, nyaman, dan kekuatan yang ku dapat dari sebuah ikatan dan komitmen yang stabil. Perasaan "being wanted", "being needed", "be strong enough to conquer anything ahead and dont afraid to fall. Cause i know that even if i fall, there is you who'll catch and help me standar back again.." sahabat hidup yang seimbang dan bisa banteran secara mental, fisik, psikologis, dan lainnya.. sepanjang waktu. Jadi yah benar, peran sebagai teman, sahabat spesial yang sebenarnya paling dibutuhkan. Dimana kita sama-sama mengerti, komitmen yang mutual untuk saling berbagi dan memaafkan, kepercayaan, loyalitas buat bertahan dan pendampingan nyata ada saat kalanya tinggi maupun rendahnya kita. 

Kita sama-sama tahu bukan makhluk sempurna, masih punya banyak cacat dan kekurangan. Karena kita memang manusia, ya biarkanlah ikhlaskan kekurangan kita sebagai manusia. Jangan saling menghakimi. 

Kamu memilih berhenti di aku, dan aku di kamu. Entahlah ini sekedar persinggahan sementara sebelum nanti persimpangan memaksa kita berjalan lagi masing-masing, ataukah memang sudah Tuhan mempertemukan kita sekarang, agar kita bersiap dan segera berbenah mulai menata diri dan kehidupan yang mungkin saja memang jalannya terjal panjang dan harus dilalui dua orang, kamu dan aku. Itu rahasia semesta. Biarlah semesta sedang asik berkonspirasi terhadap kita. Quesera Sera sayang..

Aku bodoh terlalu mudah mendengar dan terpengaruh kata orang memang. Kenapa lama kelamaan kamu benar tampak jadi romansa pacar saja, aku pun tak mengerti. Aku mudah goyah dan insecure, lemahku. Dan itu berdampak. Aku tak lagi bisa sebebas senyaman dulu untuk berucap panjang kali lebar telanjang jujur sebagai manusia di depanmu. Aku malah memporos kamu, ah bodoh. 

Padahal yang ku takutkan sebelumnya itu yah, bukan kehilangan cintamu tapi kehilangan sahabat dengan segala pereketek yang kau tawarkan. Pendampingan, kuping untuk mendengar, dan mulut yang selalu mengkritik biar sama-sama berkembang, bawel dan seru buat diskusi. Isi kepalamu yang misterius apa aja didalamnya. Kecewa banget bakal pasti saat ternyata Tuhan tak jadi mengabulkan pintamu agar sudah jangan nambah lagi jumlah mantan ku dan mantanmu, 4 aja cukup. bete saat tak ada sosok yang biasa digangguin atau diisengin, padahal kita pernah berencana buat bangun tiap pagi bareng dan gangguin, dan ngisengin, dan mengkritik dunia dan jatuh cinta lagi dan lagi pada orang yang sama. 

Dan hingga hari ini aku bertanya-tanya, egoku yang mana sebenarnya? Memilih bertahan denganmu yang tak paham akan kondisi kebutuhanku dan sedang sering membuat tak nyaman hati.. ataukah justru berfikir untuk saling melepaskan karena alasan sepele aku telah terlalu cinta, dan terlalu selalu tak baik makanya harus segera dihentikan. Yang mana sebenarnya ego ku itu? Entah. Apa yang kulakukan ini malah mengikuti ego semata, aku belum paham. Tapi melepasmu pun masih begitu penuh ragu. Aku tak tahu..

Aku insecure Iyah. Dan aku sedang berusaha berfikir logis disini. Aku khawatir sayangku. Insecure adalah lemah yang paling dibenci dan berusaha mati-matian ku matikan. Karena hal itu, aku sudah pernah jatuh bangun kehilangan harta terberharga ku, orang terkasih ku. Dan aku khawatir. Aku takut sayang.. aku tak ingin hal serupa terulang lagi menjadi lingkaran setan semata. Yang akan menghancurkan luluh lantak apa yang ku genggam erat. Aku pun tak mau.
 Itu peer terbesarku. maafkan aku sayang. Aku pun ingin dan berusaha menekannya, aku ingin berubah.. bukan buatmu tapi buat diriku sendiri. Kamu hanya menjadi salah satu alasanku untuk segera berbenah dan berubah. 
Terimakasih sayang dan maaf. Tolong bersabar lah.. aku pun sedang berjuang melawan my own demon. Jangan terlalu cepat menghakimi ku baper plis, aku malah jadi frustasi dengan diri sendiri. Semuanya butuh proses. Aku bukan power Tangerang yang bisa gampang berubah. Aku manusia biasa dengan kepala yang masih kecil, dan hati yang sedang ku besarkan.. dengan mentalitas dan psikologis setengah Mateng dan masih perlu digodok dan dibumbui juga biar sedap dan siap saji. 

Tolong bersabarlah.. 
maukah kau menunggu aku juga selesai dengan diriku? 

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know