Masa kadaluarsa

Aku mencoba menjadi orang yang konsisten dan tanggung jawab atas komitmen yang pernah ku buat, dalam hal apapun itu.

Tapi sayangnya.. kelemahanku. Semua itu punya masa kadaluarsa.

Akan ada titik jenuh di tengah perjalanan itu.

Dan disana keberanian ku akan diuji dan dipertanyakan.

Sayangnya.. aku yang belum selesai an berdamai dengan diri dan masa lalu ku ini, merasa ini adalah cacatku. Ada part di diriku yang gagal. Dan aku menjadi terlalu pesimis, skeptis, dan kadang memandang segala sesuatu dengan pragmatis.

Aku pengembara, petualang, pengelana sepanjang hidupku. Aku merasakan itu di nafasku, di nadiku. Keliaran diri, dan kerinduan akan kebebasan.

Namun sayangnya aku tidak bisa menjadi seperti itu. Ego dan self esteem ku di surpress dan dikerdilkan sajak di masa remaja ku.
Hingga aku tak lagi berani melangkah dan memikirkan diri sendori lagi. Aku berhenti mengharap kasih sayang kepadaku. Aku menyerah. Biarkan. Biar aku saja yang membagi sisa persediaan kasih yang ku punya ke orang-orang terdekatku. Selama aku masih bisa.

Aku selalu skeptis , yah. Bila ada orang yang berusaha mendekat. Bagiku semua punya masa kadaluarsa.

Aku mencari tempat, mencari rumah dan keluarga baru di luar dimana pun aku berada. Karena bagiku tak pernah, rumah tempat ku dibesarkan itu jadi perwujudan rumah yang kuidamkan.

They said "blood is thicker than water" then why i hate it. Why i never feel it in my body and soul that we are connected and could be rely and trust upon each other.

Fuck it off!

Berkali ku bangun rumah dan ikatan kekeluargaan yang menyenangkan. Aku curahkan segala yang ku bisa untuk mereka, karena di alam bawah sadar ku membayangiku.. semua ini ada kadarnya.

Pada akhirnya semua yang datang akan pergi juga. Entah karena harus begitu alamiahnya atau karena sabotase lain.

Entah mereka yang kan pergi dan membuangku, atau aku yang akan pergi meninggalkan. Self mechanism defense ku yang memaksa ku memilih menjadi escapist.. aku memilih pergi karena ku masih sayang. Daripada harus menanggung perihnya ditinggalkan.

Semua fana. Tak mungkin ada yang bisa abadi. Perubahan itu pasti.

Aku akrab dan membuka diri, namun disisi lain aku pun detach dan membentengi diri menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan orang lain.

Pks, Pramuka, osis, paskibra, tarung derajat, badminton, smadok, bem, candradimuka, kmpa, mapala13, b-a-c..

Sahabat, kawan lama, mantan sahabat..

Lelaki-lelaki yang pernah ada,, pajar, fauqi, Dicky, Ari, Fajar, Broni, golenk, ridho, Johar, bani, mamad, ian, angga, Guntur, revin, gembel, dan yang sekarang Satrio..

Pilihan dan akhirnya sama..
Semua berakhir. Entah mereka yang pergi. Aku yang bodoh dan memilih bersama orang yang salah.
Atau saat ada yang begitu berusaha akanku, justru aku yang merasa crowded. Dan tak nyaman. Dan akhirnya memilih pergi.

Saat memulai sesuatu, aku selalu melihat kemungkinan akhirnya dulu.

Riario ku..
Memulai bersamamu aku melihat itu. Aku begitu takut. Karena aku tak bisa melihat apa-apa. Semua begitu berkabut. Aku tak bisa melihat my sad ending story seperti biasanya. Dan jujur kadang itu meresahkanku..

Sedang dunia tidaklah konstan. Kita akan jatuh bangun berjalan. Aku yang masih terlalu bocah ini tak punya banyak untuk ditawarkan ke kamu. Tak akan pernah ada jaminan kita bahagia selamanya. Baik-baik selalu. Tak ada yang mungkin bisa memintamu tinggal.

Dan aku takut karna tak mampu melihat titik akhir tragis, aku takut aku tak siap bilamana hal itu terjadi.

Aku sempat melupakan keresahan ini dan membiarkan kepalaku mengudara bersamamu. Tapi keraguanmu yang hendak melepasku membangunkan lamunanku.

Resah dan berfikir tuk mengakhiri dan saling melepas kini tak lagi jadi milikmu seorang Riario sayangku.. kini aku pun terlintas tuk menanggalkanmu rengkuh dan hangat tubuhmu.

Bukan karna aku bosan. Aku terlalu sayang kamu. Tapi bisa saja itu kulakukan karna kutahu kan berat bagimu tuk pergi dan menyakitiku, sedang memilih bersamaku hanya membawa badai yang semakin besar dan tak kunjung reda. Dan aku benci melihatmu menderita karenanya, karena pilihanmu tuk tetap tinggal bersamaku.

Mungkin saja benar, bila dengan saling melepaskan itu akan sedikit melegakan gundahmu, menenangkan lagi harimu..
mungkin itu akan kulakukan. Karena aku sayang kamu. Aku cuma pingin yang baik buat kamu.

Aku pergi karna aku terlalu sayang kamu. Biar kamu tak perlu rasa perih dan beratnya melangkah pergi meninggalkan harta yang paling kau genggam erat yang tak ternilai harganya.

Biar aku yang tanggung. Biar aku yang merindu. Tak perlu kamu. Ini berat , kamu takkan kuat.

Atau mungkin aku akan pergi karna tak ingin kau tinggalkan. Jadi biar aku yang egois dan pergi. Agar tak lagi merasakan kecemasan akan kehilanganmu dan ditekan di segala arah seperti yang terjadi. Biar aku bisa bebas pergi jauh an menghilang pergi lagi jauh kedalam ruang antah berantah.
Tak ada beban untuk pergi, untuk menghilang, untuk menjadi pengecut dan tak akan kembali. Tak ada kekhawatiran dan pengharapan bodohku akan masa depan yang menyenangkan bersamamu.

Entahlah. Entahlah..
Akankah bersamamu mencapai masa kadaluarsanya? Akankah kita menjadi pengecut lemah dan memilih jalan pintas pergi atau menjadi sok kuat dengan jalan terus.

"You and Me vs the world" katamu.

Entahlah sayaang. Entahlah.

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know