Cerita yang belum selesai
Rasanya tak adil bila aku sering berujar dan mengeluhkan kamu yang tampak belum selesai dengan kisah masa lalumu..
Sedang aku?
Tak pernah begitu dalam kubahaskan..
Bahwa ada sebuah nama yang selama dua tahun sebelum kamu, aku memilih menyendiri. Yang nama dan sosoknya masih kadang membawa desir asing di dada. Satu nama lain selain kamu yang keluarga kmpa ku menerima dengan tangan terbuka, hingga akhirnya ia menghilang dari sampingku dan aku pun mulai menghilang dari peredaran.
tentang kelumit jatuh-bangunnya aku. Tentang sebuah nama yang pernah kerling matanya begitu kuingat, dimana radar kami pernah sangatlah kuat terpancar bahkan saat ada dijarak yang berjauhan sekalipun. Sesosok wajah yang telah hilang namun begitu membekas dengan memutarbalikkan duniaku saat kami memutuskan saling melepaskan.
Namanya Muhammad Sigit Bahtiar biasa dikenal sama anak-anak PA purwokerto dengan sebutan 'Mamat'.
Yang kutahu tentangnya pertama kali adalah ia sohib dekatnya mas ridho 'mayapada, kemana-mana berdua kaya upin-ipin.
Kedua. Ia menggilai naik gunung, fotografi dan milkyway.
Ya. Iya orang yang pernah ku ceritakan padamu tentang partner jalan dan berburu milkyway.
Ia dan aku seolah punya satelit pemancar kita sendiri yang saling terkait, radar pribadi. Bisa saling berbincang dan berkomunikasi dalam diam, bertelepati dari jauh, bisa merasa dan tahukan sedang apa dan dimana keberadaan satu sama lainnya. Chemistry-nya yang kuat katanya, kami pernah berfikir satu sama lain ya soulmate. Alaaah....
Seringnya waktu bersamanya menyadarkan yang kala itu sedang berusaha move on dari lelaki blangsak yang telah mengambil banyak hal dariku, bahwa ada yang hilang dari diriku selama ini. Aku kosong. Aku tak sebaik-baik saja seperti yang kupikir ku bisa, ku kuat, ku komplit. Nyatanya tidak.
Ia yang menyadarkan ku pertama kali ada rongga-rongga kosong yang begitu menganga dan selama ini kosong.
Masih banyak part kosong dalam karya seni ku. Ada warna yang kurang. Ada elemen yang kurang.
Tadinya kusangka akan dia yang bisa memenuhi rongga itu, tapi ternyata tidak. Ia pergi sebelum sempat campur tangan lebih jauh.
Lalu aku sadar..
Ya. Mungkin ada sosok yang kehadirannya sebagai pelajaran semata, untuk memberi tahu, agar sadar akan ketidaktahuan. Kealphaan.. namun bukan berarti ia orang yang sama yang bisa membuka cakrawala fikir dan menjelajah ilmu pengetahuan yang luas tentang ketidaktahuan itu.
Ada orang yang datang sekedar untuk membukakan mata, mengkritik, menunjuk bagian mana yang salah dan kurang.. dan ada lagi yang datang sambil berusaha mendorong, dan memberi solusi bagi kecacatan itu.
Nampaknya bukan dia orangnya. Karna sejak ada kamu sayang, aku tahu itu. Kamu tak hanya melek dengan kecacatanku namun kamu yang berusaha support untuk berubah jadi lebih baik, atau berusaha mengisi part yang tak bisa ditutup sendiri. Kamu cukup. Mengisi ku dengan pas.
Dia yang sebelum kamu, bersamaku menggila, menari dan menyanyi dibawah bintang. Diskusi hal random , membangun mimpi mau terbang ke New Zealand. Yuhuuu..
Ya.. aku menggandrungi Traveling, Camping, Milkyway dan New Zealand karna ketularan orang ini. Ia yang pertama memperkenalkan ku akan hal-hal itu. Selain camping yah..
Dan kini, walau bertahun sosoknya telah pergi. Ada kebiasaan dan impian yang masih tetap kunikmati dan kugandrungi. Dan salah satunya, New Zealand. Naik Land Rover.
Ah sayang, untuk beberapa hal kamu mengingatkanku akannya. Dan hatiku pilu tentang itu. Pun aku takut kisah kita akan berlalu terbawa angin begitu saja seperti ceritaku dan dia. Akan ada titik kamu akan menemukan yang jauh lebih baik, lelah akan Ku dan memutuskan untuk berkemas dan melangkah pergi meninggalkanku yang masih terpulas dalam tenda dan sleeping bag ku.
Itu kenapa aku begitu ragu tuk ingin memilikimu bersamamu, aku takut keegoisanku lagi-lagi menghancurkan. Aku mengkhawatirkan detik dimana kamu akan melepas genggam jemarimu.
Dan janji dan bayangan bahwa kita akan tetap biasa saja, tetap berteman baik, tetap bersahabat hebat, tetap menjadi kakak-adik dan partner satu team akan tinggal asa semata.
Dan ketakutanku tak sendirian, Sahabat dan kakak-kakak tercintaku mengkhawatirkan hal yang sama berulang. Dan bila itu terjadi , apalagi sama kamu.. mereka hanya bisa jadi penonton sad romance yang tak bisa berbuat apa saat kita semakin renggang dan hilang. Dan begitu besar kemungkinan aku akan kehilangan sinarku lagi. Aku akan meredup lagi. Aku akan menghilang. Dan bila itu terjadi mereka tak akan bisa menemukanmu lagi, dan tak pernah ada jaminan aku akan kembali.
Dua tahun yang terasa begitu panjang dan koyah. Dan aku meredup aku menghilang.
Ia pernah membuatku menjadi pincang sepeninggalnya pergi. Aku sempoyongan. Kegalauan kefrustasian dan kegilaan ber 'what if' tapi aku tak pernah punya keberanian. Aku begitu pengecut. Aku yang begitu pemalu.
Sulit teramat sulit berjalan. Bernafas. Membedakan warna lagi. Seolah warna hilang dari pendar mataku.
Aku mulai menarik diri. Aku memilih berhibernasi panjang. Aku mengisolasi diri. Mengunci rapat-rapat. Mengeraskan hati. Dan aku menghilang dari peredaran lamaku. Dari tempat dari hobby dan hal-hal yang kucintai namun pernah sangat mengingatkanku akannya.
Aku berhenti menikmati camping sejenak. Aku tak lagi menikmati milkyway dan bintang-bintang di langit malam yang begitu menenangkan hati. Aku berhenti menulis. Bermimpi ketinggian.
Dua tahun aku mengais-ngais diriku lagi. Susah payah untuk berdiri berjalan dan berlari lagi. Membangun topeng pokerku ini. Berganti elemen menjadi antara air dan angin. Menjadi lebih pendiam, tertutup dan tampak lebih serius.
Aku menenggelamkan diri dengan bekerja. Menjadi robot.
Aku hampir sering berkata aku sudah selesai mas-mba, aku udah selesai dan ga ada apapun yang tersisa dengannya. Tapi benarkah?
Dua tahun kami hilang.
Aku hanya tau kabar burung saja tentangnya. Tak pernah sekalipun berjumpa lagi.
Aku agak takut.
Aku tahu dia pun tak berani menemuiku.
Tapi aku ragu kadang benarkah sudah ikhlas, sudah move on? Ketika masih begitu banyak tanya yang tak pernah terjawab.. banyak hal yang ditinggalkan berserakan begitu saja, dan aku masih terlalu enggan menyentuhnya kembali.
Radarku masih menyala dan masih ada desir aneh dan kekhawatiran tiap mendengar namanya, tiap muncul kemungkinan bertemu dengannya.
Ha. Bukan. Bukan berarti aku mendua atau masih mengharapkannya. Hanya saja ia bagian dari bibliografiku dengan chapter uniknya sendiri. Dia akan selalu ada. Ada tempat sendiri baginya di diriku dan ada bagian dari diriku yang pernah ku titipkan dan masih dibawanya.
Yah nyatanya mungkin tak hanya kamu yang masih berpeluh dengan kisah lamamu. Aku pun masih ada yang belum selesai. Hanya bedanya aku tak seperti kamu yang masih berusaha menjaga semua hati dan enggan melepaskan.
Bagiku dan dia, saling melepaskan adalah jalan kami untuk saling menyayangi dan membuka pintu bagi kebahagiaan lain untuk hadir dan mengisi lembaran hidup kami. Kami tak lagi saling mengikat Iyah.
Tapi pun aku tahu, akan selalu ada benang merah yang menghubungkan ku dengannya. Tatapan yang berubah sendu dan lembut saat tak sengaja saling bertatap. Akan ada radar kami yang hidup di alam bawah sadar kami.
Dan saat suatu hari nanti aku dan kamu berhasil melanglang buana ke new Zealand.
Yeayh.. aku ingin memvideokan kita sayang. Mewujudkan salah satu mimpi kita.
Trus aku mau pamer ke dia "aku dah bahagia dan sekarang di New Zealand, Kapan kamu nyusul mas?" Hahahaha..
Comments
Post a Comment