Will it get better?
Abaang...
Aku pikir aku sudah bisa bilang sudah. Tapi kenapa aku terus sedih begini ya
Orang bilang adalah wajar kalau menjadi limbung setelah kehilangan cinta yang dalam.
Aku ingin meringis sendiri akan hal itu..
Hari ini bahkan aku tak lagi yakin apa yang kurasa padamu bisa disebut cinta.
Kamu selalu minta aku berfikiran terbuka. Dunia bukan hanya hitam dan putih. Dan cinta tak hanya sekotak harus selalu saling memiliki..
Aku masih tak paham caranya menjadi seperti itu. Iyah.
Dan itu yang buatku sangsi..
Apa benar yang kurasa ini masih bisa disebut kasih yang tulus?
Ketika bahkan rasional ku tau kita sama-sama lebih baik saling melepaskan. Tapi kenapa aku masih begitu rindu, mengapa aku begitu shock dan terpukul saat ditampar kenyataan bahwa kau tak menginginkanku lagi.
Kenapa aku begitu kehilangan Abang..
Kenapa..
Kenapa saat aku rasa aku mulai merangkak berjalan lagi, desir angin ini datang membawa kenangan dan kerinduan yang memekakkan.
Kenapa aku begitu ingin tahu kabarmu..
Bertemu denganmu..
Padahal sadar, melihat nama atau photo mu muncul tak sengaja saja sudah menyayat diri.
Ini kesempatan ku untuk mengejar mimpi-mimpi ku sendiri lagi. Menemukan yang lebih baik dari sekedar kamu, itu katamu..
Lalu kenapa aku masih pilu..
Sajak mengenalnya, kami berbagi kegundahan dan berusaha saling menopang mempertemankan kehilangan..
Setidaknya membantunya keluar dari depresi nya, menemaninya.. itu membuatku merasa seolah berguna lagi. Tak jarang kata-katamu dan definitifku yang ku bagi ke dia..
Sekedar teman yang bisa diajak bicara,,,
Sejak dia. Aku mulai terbiasa tak lagi memfokuskan padamu. Ada beberapa kepala yang harus ku serahkan lagi harinya.. dan aku tak keberatan..
Tapi aku juga menyimpan khawatir Abang.
Ketika orang bilang waktu akan menyembuhkan luka dan melupakan. Aku khawatir berapa lama waktu yang ku butuhkan. Dan akankah perih ini segera membaik..
Aku si kepala beton. Yang masih egois dan selfish.. aku masih saja belum keluar dari kesendirian ku..
Duku ku sering bercanda andai ada mesin canggih buat exit kehidupan, buat brainwash dan hapus memory kaya di film-film itu. Akankah aku memilih melakukannya dan melupakanmu, biar tak perlu lagi ingat rasa sakitnya..
Tapi berkali semakin ku fikir. Semakin ku sadar . Aku akan menolak. Lagi dan lagi. Aku adalah bukti bagaimana sisa luka yang hilang ingatannya tak pernah pulih. Dan kamu, tak benar-benar sesuatu yang ingin aku lupakan.
Aku ingin kita kembali kaya dulu saja abang. Saling nyaman. Tapi di kepala ku aku lebih punya control diri, kamu hanya sebagai abangku saja .
Dimana kita bisa ngobrol ngalor-ngidul , banter-banteran tanpa perlu ada baper.. aku ingin berteman lagi denganmu. Itu saja..
Dan ternyata, yang kuingin bukan menghilangkan ingatan tentangmu. Namun melupakan perasaanku padamu.
Lupakan kalau aku pernah mencintaimu begitu dalam hingga berakhir keliru dan egois. Lupakan bahwa kamu pernah bilang kau mencintaiku yang setiap beberapa hari sekali pasti ngabsenin 'kamu sayang banget ya Ama aku?' lupa kalau setiap kamu ngomong gitu, itu yang bikin perasaanku terus hidup dan bertumbuh.
Namun aku sudah keliru. Aku lepas kendali. Dan aku tak tahu di titik mana mulai salah, ketika aku tak lagi bisa menawarkan kehangatan dan kenyamanan yang dijanjikan untukmu berpulang dulu.
Dan sekarang kamu pergi jauh. Tak lagi pulang ke aku.
Rumah ini tampak begitu megah. Tapi juga kosong. Aku berasa kosong Abang.
Beberapa medsos sudah kucoba blokir. Menahan ego ku untuk mencari kamu lagi.
Tapi hari-hari ini aku bertanya kembali. Benarkah yang kulakukan..
Aku ingin melepaskanmu dengan dewasa..
Mencintaimu dengan dewasa, tanpa perlu embel-embel drama dan atribut media.. aku ingin melepasnya..
Aku ingin bisa segera merelakan kamu ..
Tapi apakah memutus komunikasi adalah jalannya denganmu? Bukankah itu malah membuat ku bertanya-tanya parah akan kabarmu..
Aku Takan bilang siapa dia. Kamu kenal dia abangm dan ia mengenalmu baik. Makanya aku ragu. Aku tak nyaman bertemunya ditempat publik dimana orang bisa berasumsi aneh tentang aku, kamu , dia , dan keluarganya..
Tapi tanpa ku bilang . Kamu akan tau sendiri nanti siapa kok.
Aku Takan mempublikasi apa tentang nya.
Darimu juga dari mamasku, aku tahu betul. Hubungan, teman, pacar, suami istri, sahabat, ya cukup diantara mereka saja, tak perlu umbar seluruh dunia tahu..
Semakin erat, semakin tulus, semakin kamu enggan jadi voyeur.
Kalau suatu hari nanti aku bertemu lelaki yang akan mencintaiku balik seperti aku padanya, menerima semua kurang dan lebihnya aku. Aku harap saat itu aku sudah menjadi manusia yang lebih pantas. Juga yang patut dan bisa mencinta dengan dewasa . . .
Aku akan.
Comments
Post a Comment