Berkecambuk

Abang maaf..
Maaf sekali lagi bikin masalah di hidup lu..

Walau aku tak begitu paham betul situasinya hingga menjadikan apapun yang ku laku tampak menimbulkan masalah bagimu..

Maaf..

Aku marah. Aku frustasi. Aku sedih sendiri..
Aku hilang..

Dan aku tak tahu lagi harus apa untuk melampiaskannya. Mengeluarkannya. Segera menyelesaikannya aku belum menemukan jalan.

Aku tahu hidupmu bukan tentang aku, dan harusnya dunia ku pun bukan cuma tentang kamu. Tapi tahu dan menerima itu ternyata proses yang berbeda..

Aku fikir satu-satunya jalan mengenyahkan adalah dengan menambah kesibukan, keluar, ketemu orang baru, ambil kerjaan baru, alih perhatian, ngabisin waktu biar ga sendiri. Tapi yah seperti kamu bilang, itu ga nyelesain masalah. Yang ada malah cuma ngumpulin kerjaan baru.

Dan kamu benar sayang. Kamu benar..
Untuk sejenak aku mungkin bisa mengenyahkanmu dan berusaha ngalihin perhatian ke apapun yang aku lakuin saat itu. Tapi kamu tahu aku bukan orang yang fokus. Berhenti sibuk dikit, istirahat atau berhenti bicara aku akan meremang kembali. Tentang kamu, tentang dia dan dia dan kasusnya si dia, tentang papa Mama, tentang kamuflase hidup, tentang perketel ini dan itu..

Aku mulai agak lelah. Menyerah juga akhirnya. Tubuhku terus limbung. Kesehatanku terus turun naik. Jam tidurku berantakan lagi. Aku semakin sering melamun. Aku kehilangan imaji. I lost the apetite to do anything in life..

Aku ingin marah. Aku ingin teriak. Aku ingin menyalahkan. Tapi pada siapa?

Menyalahkanmu di kepalaku..
Menjadi jalanku untuk menemukan kepuasan atas gegap ini. Maaf

Aku marah padamu sayang..
Padamu yang pada akhirnya melukai dan mengecewakan ku begitu hebat, setelah aku menaruh percaya dan berhenti melihat yang lain dari kamu. Padamu yang terus menjadi egois. Padamu yang selalu baik pada semua orang tapi tak denganku. Padamu, kamu yang cukup bagiku, tapi. Ternyata aku tak cukup bagimu. Aku tak cukup hebat, tak cukup dewasa, tak cukup terbuka, tak cukup percaya diri, tak cukup tangguh, aku tak cukup mampu mengikuti semua maumu..

Aku ingin berhenti bertanya-tanya kabarmu. Aku berhenti mendatangi tempat yang biasanya ada kamu,Sekre, kantin. Selain karena kesibukan lain, aku memilih menghindar bila bisa.

Bukan menghindari nya karena kamu. Tapi karena disana ada bagian dari kamu. Ada kenangan dan hawa kamu pernah ada disana. Kamu biasa disana. Nanti aku bakal terus gila bila terus datang dan mencari sosokmu. Ada rasa hampa yang luar biasa. Disana, tapi kamu tak lagi bersamaku. Aku masih terjebak. Tenggelam membolak-balik halaman lama cerita kita yang menggantung ini.

Aku berusaha tak lagi liat gambarmu. Berhenti kepo. Aku ubah juga nama mu di kontakku juga kuhapus dari list priority.

Ah. Seandainya hidup segampang ngapus delete gitu ajah. Andai ngilangin perasaan ke kamu segampang itu. Aaah. Harusnya kamu bukan lagi prioritasku.

Aku dah ga punya hak juga..

Aku ingin menjadi biasa saja Abang.
Kita balik kaya dulu aja, saat semua masih begitu platonis tanpa ada embel-embel hati di dalamnya, saat Lo masih hanya sobat dan kakak yang gue liat dan denger nasihatnya..

Harusnya kamu tak lagi muncul Abang

Atau mestinya aku yang hilang dari kota ini. Jauuuh.
Biar ga ada alasan lagi berusaha beralasan untuk masih cari perhatianmu..

Harusnya aku membunuh semuanya.
Membekukan lagi diri. Menjadi gadis ice kaya sebelumnya..

Harusnya aku segera sehat.
Harusnya bangun. Dan segera temuin lagi hidupmu pit!

Bukan gini..
Dengan balik jadi kaya anak kecil yang kurang kasih sayang. Aku paham betul hatimu kembali ciut pit. Luka ini mengingat kanmu akan rasanya dikecewakan karena kehancuran fungsi di keluargamu fit. Perasaan terasing, ditinggalkan, ga berguna, ga ada daya. Dan terus karena kamu broken home, kamu milih jadi nakal. Karena tahu, hanya saat dapet masalah atau nilai jelek baru ada yang akan ngeh dengan keberadaanmu..

Dan kini kamu melakukannya lagi. Padanya. Pada Abang.  Pada lelaki yang hari ini masih belum bisa kamu lepaskan..
Dia. Orang pertama yang tahu luar dalemnya kamu. Orang pertama yang kamu perlihatkan dirimu telanjang berusaha terbuka dan lepas semua kostum dan topeng kamuflase yang biasa melapisi. Dia yang tampak mengenalmu bahkan kadang lebih baik dari dirimu sendiri. Dia yang selama ini perlahan mulai mengikis trauma dan perasaan worthless atas banyak hal fundamental di hidupku. Dia yang berhasil mencair kan iceberg mu. Dia orang pertama yang masuk dan tinggal cukup lama dalam castle dirimu. Dan sekarang dia ingin pergi, kamu pun bingung..

Aaaah..

Aku tidak ingin membuatmu marah sebenarnya Abang . Aku upload Poto itu bukan untuk apapun. Aku hanya sedang mengenang . Dan bukankah kita sudah tak ada apa-apa. Harusnya kamu tak berhak lagi melarang langkahku. Toh itu biasa, rame dengan yang lain. Dengan caption yang ga menyiratkan apa-apa tentangmu. Malah berusaha meyakinkan diri sendiri untuk tertawa lagi, sama seperti kamu yang bergelak waktu itu.

Toh ini bukan hal-hal mesra aneh intim kaya yang biasa memenuhi ig mu dan gadis itu.

Aku ga punya apapun tentangmu bang. Aku cuma ingin menyadari saja, bahwa kamu benar pernah jadi bagian hebat dari diriku . Bahwa aku pernah sebahagia itu bersamamu.

Tapi kamu marah . Sama seperti setiap aku mengungkit dirimu sedikit saja.

Jelas. Ada hati yang begitu keras kau jaga.

Khawatir ibumu?
Kok kamu ga pernah khawatir dengan semua gambar kemesraan kalian yang dipampang memenuhi igmu dan dia?

Ah. Bodoh aku memang.
Padahal udah tau .
Padahal udah sadar kalo jalan sendiri-sendiri mungkin lebih baik bagi kita. Tapi kenapa masih aja belom bisa berhenti. Kenapa belom nerimain kenyataan. Kenapa belom mampu melepas dan merelakannya..

Ah fit

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know