Rabu meraba

Hari ini aku akan bercerita lagi..

Lelah dan kantuk luar biasa. Aku masih saja kelelahan jiwa raga.

Pagi ini ku bangun dengan niatan meet up bareng mayapada Amerta dan nemuin bang Dinar perwakilan Greenpeace yang sekali lagi mampir ke Purwokerto. Harusnya semalam, cuman berhubung mereka kemaleman, ya jadilah pending Ampe siang tadi.

Ah. Yaudahlah. Azza bakal rewel kalo a ku ga datang..

Dan yah. Terngiang kata-katanya Pras..
"Aku mah senang-senangnya kalo Ama kalian.."

Dan yah. Aku pun beranjak mandi dan bersiap. Yap. Kumpul dan ketemu anak mayapada emang selalu menyenangkan, punya cerita.. kebanyakan gaul Ama bocah kaya azza, Alif, Dika.. yah mereka sukses bikin aku gampang seneng. Nurture that little child inside of me..

Makan siang di kantin biar murah. Semeja Ama ka gembel. Walau agak canggung dan malu awalnya, semua baik-baik saja. Walau disela itu ka gembel terus membawa-bawa namamu, mungkin dia ga enak kali yah Ama kamu bang.

Ah semua sudah selesai dan baik saja antara aku dan dia. Semoga nanti aku akan bisa baik-baik saja juga terhadapmu Abang.

Hape rame ama Azzah dan kerewelannya.

Masmase itu sedang tak berkabar.
Yah biarkan saja. Dia banyak kerjaan. Sibuk kerja. Biarkan kita sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing, toh nanti kalo saling butuh juga nyaut.
Dia bilang target bulan depan harus ada mobil biar jalan-jalan enak. Yah aku mah bantu doa dan semangat aja. Bukan siapa-siapa juga.

Aku pun sibuk nulis dan desain aneh-aneh lagi, ngelakuin ini dan itu yang kiranya bisa menghasilkan uang. Yap. Ini aku yang sedang susah payah membiayai kehidupanku juga, aku tak lagi bisa meminta orang tua. Jadi sekarang ga boleh berpangku tangan. Harus kerja keras..

Comeback-nya to the story....

Aku dapat motor dan bersiap meluncur ke society.

Theugh..!

Aku mengenal betul motor dan helm itu. Dan benar saja. Disana kamu dan Sweater kuning kesayanganmu.. yang dulu mirip Minion. :P

Awalnya gatau harus rasa apa.
Cuma bisa ketawa miris aja..

Kamu pingin sendiri.
Kamu membuangku..
Kamu mengunci dirimu di kantormu, berpuas menjadi zombie.. bahkan ga lagi keliatan di dunia nyata, makanya jadi banyak yang mempertanyakan keberadaanmu padaku.
Tapi dia datang. Atau dia minta..
Dan kamu dengan siap siaga meluncur ke sisinya..

Ah. Hidup itu lucu yah..
Cinta itu emang lucu. Ga bisa di logika kan..
Membuatku bodoh. Dan nyaman aja jadi bodoh..

Sudahlah..
Sampai di society. Azzah dan bang Dinar langsung menyambut, nyuruh mesan dan nawarin rokok.

Aah. Kopi dan rokok.
Nikmat dunia yang tak lagi bisa ku nikmati..

Tak lagi bisa ngopi, tapi nongkrongnya di warung kopi Mulu. Duh jaant Azzah kan nih..

Rokok. Ah aku rindu.
Ia biasa jadi teman saat sedang merasa kekosongan dan kesesakan seperti ini.
Tapi tak bisa lagi..
Aku masih ingat pintamu untukku tak lagi merusak diriku dengan rokok.
Juga harapannya agar aku lebih menjaga diri dengan baik lagi.

Hari ini. Aku berpakaian berusaha baik.
Azzah, bahkan si istri bilang aku kakak mereka yang cantik . Ah Alhamdulillah kalo gitu..

Meet up Greenpeace. Yah seperti biasa. Serius santai. Ngobrolin bisnis, campaign dan hura-hura.
Satu persatu datang. Dan makin Alif dan Pras datang. Aku makin senang.

Disana aku melihat temenmu bang. Mas Wisun. Dan aku tahu ia melihatku. Aku bisa merasakan ia terus melihat ke arahku.
Tapi mejaku ramai orang, kami tak saling bertegur. Saling mengacuhkan saja.

Tapi lagi-lagi ia adalah pernik dari kamu.

Bang Dinar dan mbak kelana berangkat ke Jogja. Aku pun balikin motornya biko.

Aku bersyukur tak lagi melihat motormu. Kufikir kamu sudah ngantor.

Selang setengah jam berlalu,
Adikku merengek minta ditemenin antar surat ke mapala CB. Jadi lah kami berangkat.

Dan disana. Di depan kosan perempuan itu. Motor , helm, dan lelaki yang pernah sangat ku kenal bahkan dari jauh, bahkan saat sedang tak berkacamata.

Astri bertanya ada apa?

Akhirnya aku menemukan jawabannya.

"Tiba-tiba sedih banget Sri. Menyedihkan. Tapi aku bersyukur tak ada lagi kesesakan disana. Udah ga sesak. Tapi aku masih sedih banget, rasanya kaya mau nangis aja.."

Dan sepanjang nyetir aku menyadari.
Penyakit ku lebih banyak berkembang karena stress.. karena stres dan sesak hati jiwa raga. Dan sedikit banyak kamu jadi alasan stress itu.

Hari ini.
Saat jelas kesedihanku masih ada. Lekat. Pekat. Tapi rasanya udah ga ada beban jiwa yang menyesakan dan menyakitkan itu lagi.

Aku memilih positif. Bersyukur. Fokus pada diri dan teman-teman yang ada , melakukan apa yang menyenangkan ku.. membuang yang tidak menyenangkan ku..

Aku berusaha menjaga kesehatanku . Tinggal permasalahan dana yang jadi masalah untuk makanku.. makanya rajin nyari seminar buat voucher makan.

Sekarang sedih iya. Tapi setengah dari stress itu tak ada. Kamu membuat perih mataku. Seolah memotongnya dari ingatan sama seperti memotong bawang dan cabe didepan mata. Pedas.

Aku akan lebih berusaha segera sembuh dan sehat lagi.

CB. Tak banyak..
Aku malah sebenernya gatel mau nanya gimana kabarnya mas Broni. Masa lalu ku itu. Hanya ingin tau aja apa ia masih hidup.

Maghrib berlalu.
Sakti mengabari ia telah menyiapkan tiket nonton untuk kami berdua malam ini. Aah thanks so so saksak nya gue. Akhirnya kesampean juga nonton fantastis beast.

Astri bercerita bahwa ia nyaman bersamaku, dan bahwa ia ingin jadi sepertiku, wanita berkarakter. Ah dek, jangan jadi kaya aku. Ambil yang baik-baiknya aja yak, yang bodoh dan jeleknya jangan dicontoh. Aku ga baik!

Aku ga sempurna.
Aku ga cantik, seksi, pintar ataupun kaya..
Yang ku punya hanyalah ketulusan.
Aku hanya bisa menawarkan hangatnya tangan persahabatan bersamaku. Aku bisa jadi tempat sampah kalian..
Bisa jadi pilar saat kalian lemah dan berusaha bangkit..
Bisa jadi bahu bersandar saat lemah.
Sapu tangan yang menghapus luka kalian..
Dan kata orang , itu yang membuat mereka nyaman bersamaku.

Maka aku Takan berubah. Aku akan jadi aku.
Yang tulus. Yang kuat. Yang tangguh. Tapi tetap hangat.

Itu yang sempat ku lupa selama akhir ku bersamamu..

Aku fokus ke diri sendiri.hingga aku lupa dan tak sadar, aku tak lagi bisa memberi rumah yang nyaman bagimu berpulang. Aku tak lagi bisa jadi pilar dan tonggak kekuatanmu..
Dan aku minta maaf.

Hari ini. Masih saja kamu.
Dan hari ini aku sedih kembali. Karena kamu.
Tapi semakin sadar, bersamamu bukanlah option yang tepat untukku saat ini . Itu terlalu perih, terlalu menyesakan.
Aku sanggup dan rela jadi tonggak kekuatanmu, tapi ternyata, kamu tak bisa. Kamu tak cukup tangguh menjadi pilar kekuatanku balik.
Kita tak lagi seimbang.
Makanya lebih baik. Kita temukan keseimbangan kita masing-masing.

Kamu guru dan pelatih ku yang hebat. Aku bersyukur pernah belajar banyak .

Dan semoga saja, saat aku lolos naik level.
Orang setelah kamu, akan menemukan aku yang jauh lebih baik, baik pada diriku sendiri, hidupku, hubungan dengan orang sekitarku, dan tentang bagaimana menjaga dan mempertahankan komitmen dan kepercayaan.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi besok.

Tapi kepala ku sakit mungkin gegara kehujanan.

Tapi tanganku gatal, ingin menulis sesuatu.
Jadi ini salah satu tulisan malam ini.

Besok tak ada yang tahu. Quesera Sera aja kan yah..

Biarkan semua berjalan sebagaimana skenario nya. Santai aja. Nikmati saja . Fokus pada hari ini dan detik ini..
Karena kita emang gatau masa depan.

Berharap untuk yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk.

Ya. Karena perubahan itu nyata.

Kamu telah berubah.

Dan aku akan berubah.

Sekian

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know