Reanswer satrio

FYI puisi yg kemarin kamu liat itu, aku bikin udah berhari-hari-hari yang lalu.

sebenernya aku lagi bikin blog baru sambil buat ngarsipin kata dan tulisan yang pernah ku buat.
and to be honest i dont know why suddenly i remember you, kamu yang kemarin minta liat tulisanku yang lainnya. walaupun tadinya pengen pelit. tapi entah, kufikir ya untuk terakhir kalinya gapapa lah, sedikit kamu juga perlu menikmati ini, dan biarkan kamu ngebaca dan ngedenger tentang pernahnya kekecewaan itu menyiksaku.

btw makasih sayang dah rela jadi objek inspirasi juga pembaca pikiranku selama ini. walau aku tahu itu jelek, aneh, ga jelas, lebay, bikin malu dan lainnya.. tapi seperti yang kamu pernah minta, biarkan ini jadi memorial yang suatu hari akan kita liat ke belakang dan bernostalgia atau tertawa kan.

tenang aja. yah. aku udah lebih waras kok sekarang. atau setidaknya nanti pasti aku akan baik-baik aja sayang, Im Survivor, yeah?! 😆

aku ga berhenti ucap syukur pada Tuhan, pada semestaku.. ia sedang baik saat itu hingga menjawab pintaku. dalam wujud kamu..

kok?
hehe.. Iyah..

Tak ku hitung hari, tapi masih ingat jelas. Aku minta dan bertekad juga.. bahwa untuk pertama kalinya aku ingin jujur sejujurnya pada seseorang, melepas semua topeng dan costumku, dengan semua cacat dan tanpa kebohongan lagi. Aku ingin percaya lagi!

Dan disitu kamu..
Dan di kamu akhirnya aku mati-matian buat terbuka lagi, belajar jujur sejujur-jujurnya tanpa masqurade lagi. Aku nepatin janjiku, dan di kamu aku tahu, ini titik balik ku. Kamu membantuku menjadi manusia lagi.

Kita hampir mirip tapi juga berbeda. Aku banyak melihat diriku di kamu dan kamu pun kadang sebaliknya.

Aku menghargaimu Abang, mendengarmu sejak awal bukan hanya karena kamu kakakku. Tapi karena aku tahu dalam beberapa hal, usiamu yang jauh lebih matang, namun juga karena banyak asam pahit hidup udah kamu icip sendiri. Yang beda sayang, adalah bagaimana dan kapan masing-masing kita belajar mengenal dunia.

Aku dibesarkan di keluarga yang disfungsional. Neglect and underappreciated by everyone. Tekanan, hinaan, kekerasan verbal, simbolik dan kadang fisik, ah aku sudah ngecap itu seumur hidup. Me against the world. Aku tahu aku berbeda, dan masyarakat tak terima yang berbeda, aku dipaksa untuk menjadi normal dan biasa. Dan ini aku hasilnya. Aku yang telah kehilangan banyak hal, mimpi, masa kecil, kasih sayang, kesehatan jiwa dan mental.

Kamu tahu aku pernah depresi parah hingga hampir bunuh diri. Kamu tahu cita-citaku sesederhana ingin bahagia. Tapi tahukah? Aku bahkan ga tahu makna bahagia ku itu yang kaya apa..

Marah, dendam, takut, benci adalah emosi konstan yang aku paham betul. Tapi sedih ? Bahagia? Seperti apa itu saja aku cuma bisa mengawang-awang di kepala saja sebelumnya.

Menjadi jujur dan terbuka bagi pembohong sepertiku tak mudah. Ternyata, dibalik semua topeng itu 'im so fragile'..

Kamu bertanya kenapa aku jadi gampang baper? Berkat kamu, aku berhasil unlock emosi sedih ku. Aku menjadi lebih empaty juga penyayang. Tapi konsekuensinya yaa itu cengeng.

Bersamamu aku belajar banyak hal. Makna bahagia, kenyamanan, seperti apa itu mencintai dan dicintai.

Dalam amarahku, aku ingin membencimu saja. Dan percaya bahwa kau hanya penipu. Biar bisa luap amarah.

Tapi aku tahu, entah itu nyata atau tidak, aku pernah tahu rasanya dicintai oleh orang lain. Mencintaimu memberiku kekuatan dan semangat sendiri, tapi dicintai ternyata menyenangkan. Aku merasa seperti manusia yang berharga, aku menemukan sumbu ku untuk bersinar terus.

Belakangan kamu mengeluh aku kekanakan, kaya bocah! Aku baru sadar, ternyata ini aku. Aku yang kehilangan kepolosan dan kesenangan kecilku, aku tumbuh dan terus hidup dibalik topeng. Aku dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya , atau aku takkan sekuat ini bisa bertahan.

Dan saat ini, kamu yang udah bantu aku unlock diriku juga. Aku minta maaf ternyata aku tak sekuat , setangguh dan sedewasa yang kamu harapkan. Aku baru menyadari aku hanya anak-anak. Aku masih anak-anak dan aku masih ingin menebus kesenangan ku menjadi anak kecil.

Aku uang tumbuh sebatang kara, tak punya apa atau siapa. Aku terbiasa akan kehilangan. Makanya aku posesif seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya.

Dan seperti yang kamu bilang, aku hanya ingin dimanja sebenernya. Secara mewah. Salahnya adalah aku expect itu dari kamu. Aku terlalu percaya dan mengandalkanmu.

Berbicara soal harapan.
Kamu tak suka harapan. Sedang harapan itu segalanya bagiku. Ketika semua yang kutahu adalah negativity dan tekanan berat. Satu-satunya yang membuatku terus berontak adalah karna aku punya harapan. Api harapan yang ga mati, bahwa suatu hari aku akan bebas.

Jadi saat kau minta untuk jangan berharap. Sungguh aku tak tahu caranya. Bagiku itu sama seperti menyuruh hidup tanpa tujuan, tanpa arti. Bagiku itu malah membuat tak kemana-mana.

Yang salah mungkin adalah kekurangmampuanku dalam memanajemen harapan.

Maaf bila kamu masih terbeban akan harapanku. Aku tak sadar.

Tapi maaf, aku agak kesulitan membunuh harapan tentangmu. Aku tak ingin membunuhnya sayang. Aku hanya akan belajar keras memanajemen nya.

Dua hari terakhir ini, aku sedang belajar apa itu ikhlas. Seperti ini saja sayang. Aku pun tak lagi mengharapkan kamu yang sekarang untuk kembali bersamaku. Kamu orang yang baik tapi saat ini kamu sedang tak baik untukku.

Harapanku sekarang sesederhana kamu baik saja, jaga diri dan tetap kuat. Kamu segera naik level . Selesaikan apa yang harus diselesaikan, dapatkan apa yang harus dicapai. Jadilah manusia yang lebih baik sayang.

Terimakasih atas penjelasannya. Dan maaf. Padahal aku pernah janji untuk ga ngeliatin kamu air mata . Ga boleh ada yang tumpah di kota ini.
Tapi aku sedang tak sekuat itu. Aku belum mampu meninggalkan kota ini juga. Dan maaf sayang bila malam ini tangisku pecah tak sanggup tertahankan..

Aku bahkan tak tahu kenapa aku menangis.
Aku biarkan saja tumpah yah, semuanya, biar semoga ini terakhir kalinya aku harus tumpah karena seorang kamu.

Lebih lega juga sakit setelah mendengarmu bicara. Tapi makasih untuk membantu mengambil keputusan sekali lagi.

Kamu tenang aja. Aku akan baik aja. Aku akan sembuh dan ngebut skripsi dan nyari jalan ke new zealand dan Costa rica, tapi berarti maaf yah sayang aku takkan mengajakmu :P

Ini bukan akhir, kita hanya menanggalkan chapter kita. Dan memulai menulis chapter baru kita masing-masing lagi.

Like you said, see you on top babe 😊

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know