And life go on, ganti chapter.. kita? Ah quesera sera aja lah ya sayang
"lebih dari 50% pengguna smartphone di dunia itu lajang."
Ya aku mengamini selama ini bahwa gadget membuat manusia teralienasi dari lingkungan sosialnya. Kita terlalu sibuk dengan follower, loker tak terlihat di seberang dunia sana, sampai kadang hubungan dan interaksi sosial di dunia nyata menjadi menurun kualitasnya.
Tapi hari ini aku membaca kalimat itu, aku cuma menyeringaikan sungging senyum ironi.. kemarin saat hp ku masih sekedar hp China Abal yang terbatas ga bisa apa-apa dan sering rusak, malah udah rusak lama parah, aku punya kamu Abang. Pun ga melulu sering, tapi nama dan motif tentangmu darimu selalu menghangatkan dan mencerahkan hari. Ada yang meramaikan. Ada yang khawatir dan sibuk juga menanyakan kabarmu. Dan walau kadang terasa jengkel, i know im being loved by a little thing you are doing.
Sekarang aku pakai hape lumayan berat merk, dengan spesifikasi yang lumayan bagus juga. I could touch and reach the world with it, but then, some shit happen, i couldn't reach you again.
Today, we just call each other up, if we have some urgent bussiness to do or ask for help. We are so awkward. I dont know you anymore, and i. Try my hardest to being differnt, so you dont know anything beyond the surface anymore.
Kemarin kita bertemu sejenak. Sesuatu yang disatukan sisi kuinginkan tapi di sisi lain kucoba hindari.
Aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau. Yang kutahu pasti ku benci untuk mencintaimu..
Begitu canggung. Aku senang bertemu kamu, melihat kamu baik-baik saja walau entah bagaimana sisanya aku tak lagi berhak tahu, paling ngga aku tahu kamu masih menyempatkan diri melakukan hal yang kau suka, kembali ke air. Aku senang tahu kamu masih sedikit ada peduli, yah aku Takan geer, toh kamu lelaki yang baik ke semua orang biasanya.
Aku masih nyaman denganmu ternyata. Walau kehangatan itu sudah luntur berganti getir hampa. Aku tahu pasti aku masih sayang banget ke kamu, tapi aku juga sekarang terlampau marah dan sungguh ingin membencimu. Aku benci setelah waktu berlalu, aku masih seperti ini saja padamu. Dengan segala perubahan di lain, tapi kenapa kamu sayang masih jadi satu-satunya nama which i held close.
Bertemu kamu dan sesudahnya. Aku tahu. Dan makin meyakinkan aku bahwa ini sudah baiknya begini saja , entah untuk sementara atau selamanya, kita lebih baik jalan masing-masing. Kamu bilang tak ingin menghalangi kesempatan ku dalam kerjaan, sekolah, prestasi, mimpi bahkan jodoh. Kamu selalu bilang aku akan dapat yang lebih baik.
Dan aku kian merutuk karena masih saja susah payah menghilangkan rasa padamu. Aku ingin seperti kamu. Menjadi tak peduli lagi. Fokus pada improve diri sendiri dan lupa dengan hal lainnya .
Aku ingin bisa mengatakan hal yang sama padamu tanpa fake. Tanpa menjadi munafik. Berarti menjadi ikhlas. Nerimain keadaan. Kita udah berakhir. Aku mungkin tak bisa jadi pengecut lagi yang lari untuk melupakanmu. Karna tahu itu tak baik. Satu-satunya jalan, aku Nerima kamu sebagai chapter hidupku yang untuk sekarang harus kutanggalkan karena sudah tak tahu plot ceritanya mau seperti apa lagi.
Aku pun harus bisa mengamini dan berkata hal yang sama.. kamu pun berhak mendapat yang lebih baik sayang, you are the one who matter here. Hidupmu harus lebih baik. Aku akan berusaha mundur, semoga tak lagi menjadi penghalang atau pengganggu langkahmu atau kesempatanmu dalam kerjaan, mencari rezeki, mencapai goal hidupmu, juga persoalan jodoh.
Hingga mungkin satu saat nanti, di hari pernikahanmu, entah aku ada dimana atau diundang atau tidak. Aku bisa tersenyum bahagia karna kamu pun bahagia, dan akhirnya fase lain dari hidupmu pun sudah berganti. Semoga kamu semakin tangguh dan kuat dan bisa menjadi sosok suami yang hebat bagi istrimu juga ayah yang hebat dan hangat bagi anak-anakmu kelak. Dengan siapapun itu, ku selalu doakan yang terbaik untuk mu, lelaki kesayanganku.
kesepian ini memang merajam. Iyah. Gloomy Everyday masih. Sedang tak banyak yang tahu apa yang terjadi selain Desya, vitri juga wewe dan Kiki gegara truth or dare waktu itu. Aku tidak mood untuk membagi apapun tentang apa yang terjadi ke dunia. Bahkan Penny dan Retno pun tak lagi tahu apa-apa.
Mereka bilang aku pasti bisa. Cari aja lalaki yang ganteng cari aja yang laen. Ntar juga beburu move on. Lupa.
Ah andai bisa sesepele itu.
Masalahnya aku yang masih belum mau .
Pertemuan dan waktu bersamamu sayang, telah mengajarkanku banyak hal. Salah satunya untuk tak lagi jadi pengecut. Pun aku jadi lebih tahu apa yang ku inginkan dan tak kuinginkan dari hidupku, dari sosok teman hidup. Dan aku belum selesai juga dengan diriku sendiri, aku kini sadar ini penting. Nanti mungkin kalau ada uang aku akan ke profesional. Aku perlu menghadapi ketakutan ku. Menyelesaikan luka dan trauma hidupku. Biar aku bisa jalan langkah tegap ke depan . Biar aku ga nyusahin orang lain lagi. Aku pun harus selesai dengan hidupku.
Kamu selalu meremehkan sayang. Dimatamu berfikir positif dan tenang itu udah cukup. Tapi bagiku nggak. Aku bisa aja kalem, kamu tahu facade ku hebat. Tapi pun hidupku ga akan ada bedanya kalau jauh di dalam sana ada part dari diriku yang terus mengamukn dan menggemukkan badai.
Aku ingin menenangkan diri dengan sendiri. Tak. Aku takkan mencari lelaki lain secepat itu. Bukan karena tak ingin move on. Tapi lebih karena aku rasa aku memang belum siap untuk itu. Aku takkan mencari bersusah payah lagi. Aku hanya akan bersusah payah untuk menjadi hebatku sendiri .
Kamu selalu khawatir aku akan tumbuh dan menjadi kamu, mengalami yang kamu alami. Ah ketakutanmu bukan tak beralasan memang.
Kita begitu mirip. Banyak hal yang kita sama, tapi disaat yang sama kita benar-benar berbeda.
Pun aku akui, bahkan sebelum pernahnya menjadi terjerembab rasa begini padamu. Kamu iya adalah sosok yang kudengar, Kagumi, Someone that i look up to', yah mungkin karena kamu jauh lebih dewasa dari segi umur, karena semua kakak-kakakku pun segan padamu, tapi lebih karena aku suka cara berfikir mu, banyak hal yang benar dari cuapanmu, dan mungkin menginspirasi, atau kalau berbeda kamu makhluk yang asulik buat diajak bertukar fikiran. Dan bahkan mengenalmu lebih dalam, kadang ingin bisa kaya kamu .
Tapi tak lah.
Tenang saja sayang, kita memang sama tapi juga berbeda. Aku belajar dan memetik yang baik dan hebatnya saja dari kamu, tapi aku tetap diriku sendiri . Aku tetap hidup dengan semestaku, mimpi-mimpi yang bertabur di bumi dan di langit. Hanya saja aku akan lebih hebat dan tangguh dalam melangkah dan berupaya mengejarnya.
Aspek yang begitu kita berbeda. Soal faham dan makna spiritualitas dan eksistensi di dunia. Kita beragama yang sama Iyah. Tapi bukan itu yang ku maksud .
Yang sangat membedakan, aku hidup dengan mimpi, sedang kamu tak anggap penting hal itu. Aku punya jutaan mimpi, yang kalau memang satu tak berfungsi, makan bukan saatnya merudung, banyak hal yang harus kulakukan lagi.
Kamu boleh bilang aku naif. Irasional. Kaya anak kecil. Biarlah, aku tahu aku tak ingin membunuh anak kecil dalam diriku lagi. I wioo nurture them so they Will grow as a healthy, happy and tough child, like suppose to be. Karena aku tak ingin menjadi tua dan membosankan.
Karena aku ingin seperti yang seringkali kita katakan satu sama lain dulu..
I (don't) wanna grow old with you..
Aku ga mau.
Aku maunya, bahkan bila umurku menginjak berpuluh tahun, rambut mulai beruban banyak. Semangatku, kreatifitas ku, mimpiku dan cintaku pada dunia akan terus muda, padamu atau siapapun kelak akan tetap tak menjadi tua yang membosankan.
Aku tetap akan menjadi gadis kecilnya kamu yang bersinar hidup dan bahagia.. 😊😇
Comments
Post a Comment