Spasi.. Jeda..
Kamu ada di depanku. Di hadapan ku. Di dimensi waktu dan ruang yang sama denganku, namun aku gagal memecahkan belenggu bisu diantara kita. Aku tak mampu menjamah isi hatimu lagi.
Ada yang berbeda. Itulah yang ku fikir, yang kurasa. Entah memang nyatanya begitu atau kah perubahan itu hanya ilusi sepihak ku saja. Sebelah dari ku saja yang rasa. Tanpa kamu pernah terasa itu. Karena memang aku sendirilah yang telah terusik hati dan jiwanya. Terkoyak keyakinan akan mu nya. Cuma aku. Hanya aku. Sendirian.
Kini. Aku sengaja biarkan jeda sunyi diantara kita. Tak upaya lagi berjuang menghancurkan tembok bisu antara kita sendirian. Lagi. Kamu diam. Jadi aku pun menjadi diam. Kamu cuek, aku pun berusaha keras kembali menjadi cuek. Untuk kamu. Aku berusaha lagi. Keras. Terlalu keras.
Biar sendirian. Biar lelah menyergap sepi an aku. Tak apa. Sungguh ku biarkan. Aku baik-baik saja. Aku tak mau fikirkan. Jangan dirasa!
Karna memang tak ada gunanya bagiku. Tak ada artinya. Aku akan tetap begini saja. Aku memang keras kepala. Saat sudah memutuskan, aku tak bisa berhenti berusaha, tak semudah itu berubah.
Aku tak bisa. Belum siap. Aku memilih tidak menyerah. Aku tidak mau. Tak mau melangkah tanpamu. Beranjak dari kamu. Apapun yang terjadi. Sesakit seperih apapun itu.
Comments
Post a Comment