Aku, kamu harus bahagia... Dengan ataupun tanpa menjadi Kita
Hai kamu,
lelaki yang sempat singgah walau sejenak namun masih berjejak..
Sosok yang bertahun ku kenal dalam cerita perkawanan platonis hingga kini berubah jadi ironis..
Kamu yang kehadirannya selalu ku tunggu, ku cari untuk sekedar bersandar dan upaya bahagiakanmu.. Walau kau selalu begitu, begitu saja tak pernah merindu..
Hari ini...
Sekian hari sejak kisah sejenak kita mereda. Sejak jeda itu semakin ber jarak dan membentengi hati dan diri masing-masing kita..
Sejak ombak besar menerjang karang kepercayaanku padamu.. Sejak kamu semakin hilang dalam malam yang hening.
Sejak aku dipaksa bangun oleh kawan dan keluarga, dan kamu sendiri yang mempertontonkannya.. Di depanku.. Di hadapanku.. Kamu tunjukkan itu, kenyamananmu tak lagi ada padaku.. Dan aku harus tersayat teriris menyaksikan kamu memilih bersamanya.. Ia.. Dan bukan aku..
Awan gelap menyelimuti hariku belakangam ini.. Dan aku tak akan menampik inilah kebodohan ku sendiri yang telah membuahkan kekecewaan mendalam padaku. Aku yang memilih bertahan, jatuh cinta pada hati yang salah..Yang telah membuat hati begitu berdarah-darah..
Sekarang angin berhembus lagi.. Cahaya matahari mulai muncul lagi malu-malu. Kicau burung terdengar lagi..
Aku pun perlahan belajar ikhlas.. Terima kan keadaan dan belajar tersenyum lagi.. Bahagia lagi.. Dan ku sungguh bersyukur aku tak sendiri ditengah badai ini. Aku tak sesendiri itu biarpun sepi.. Aku belajar bernafas lega lagi.. Temukan binar mataku lagi..
Dan ia datang..
Sosok familiar yang tampak mencuri waktu dan tempat didekatku.. Meski aku masih terlalu letih.. Aku terlalu takut untuk jatuh lagi...
Ia tak berbuat apa-apa selain menemani hatiku dengan bahan omongan dan diskusi ngalor-ngidul dari soal hal remeh remeh seperti permen hingga persoalan perpolitikan ekonomi negara yang bikin banyak orang kolot.. Sekedar gangguin satu sama lain.. Janji petualangan dan olahraga bareng... Aku senang.. Ia begitu menghibur kek idaman hariku.. Makasih ya abang!
Ia bukan sosok sempurna tampan dan kaya.. Ia hanya sosok biasa yang update soal kehidupan, sudah cukup matang dalam berfikir, supel, tersenyum senang saat berjumpa atau mengganggu aku.
Ia tak memperlakukan ku seperti permaisuri seperti yang kamu tuduhkan, tidak.. Ia hanya biasa saja.. Dan menghargai ku dengan baik selayaknya manusia.. Menghormati apa yang ku beri dan lakukan, sekecil apapun itu... Mendengar cerita dan kisahku dengan baik tanpa nada 'judging, bukan sekedar angin lewat.. Menasehatiku saat tingkah dan mauku mulai aneh-aneh tak terkendali.. Hedon..
Ia cuma disana.. Menemani layaknya kawan baik.. Menjaga dan menasehati layaknya saudara... Dan entah adakah yang lain?!
Tapi dari ia.. Lewat sosok ini.
Aku sadar.. Aku sudahlah sudah.. Kamu sudah terlalu.. Menyadarkanku bahwa aku begitu berharga daripada sekedar disepelekan olehmu.. Masih banyak orang yang bisa memperlakukan ku jauh lebih baik darimu..
Ia memberi tahu ku lagi bagaimana rasanya menjadi berharga dan special ketika melihat binar senang di matanya saat melihat dan bersamaku.
Tenanglah! Kamu tak aku lupakan.
Belum!
Aku menulis ini hanya untuk meresahkan emosi yang meluap-luap di dada..
Kamu masih tertinggal kok.. Masih tersimpan rasa buat kamu.. Radar ku masih aktif mencari kamu... Aku masih cemburu dan bisa membaca gerak-gerik cemburu mu karna kedekatan ku dengannya... Aku masih takut juga meninggalkan dan menyakiti hatimu... Aku masih sayang kamu.
Tapi aku harus pamit.. Aku harus berbenah diri.. Aku ga bisa kayak begini terus.. Dengan ataupun tanpaku, ku harap kamu baik dan bahagia saja... Karna aku pun sedang berusaha menemukan bahagia ku sendiri...
Comments
Post a Comment