Tersulut api dimanapun
Ah sudah lama sekali..
Lama sekali tak seperti ini..
Begitu lama hingga hampir lupa dan tak ingat bagaimana begitu mudahnya segala apa disulut api dan dibakar hanguskan menjadi debu..
Pertama kali melangkahkan kaki hidup sendiri di tanah orang, sendirian, ga kenal siapa-siapa, ga tahu siapa-siapa, pertama kalinya jauh dan keluar dari rumah, perasaan kalut dan ketakutan luar biasa. Aku mau nangis. Aku sempat nangis ketakutan di sudut stasiun pasar Senen 3tahun yang lalu.. aku meraih lengan bajumu, dan saat kau melihatku dengan tanya kucoba jelaskan ketakutanku akan hidup sendirian di luar sana. Di lubuk hati terdalam, ya aku berharap kau akan memenangkan ku. Mengatakan : "tenanglah, semua akan baik-baik saja, kamu pasti bisa", tapi itu di kepalaku saja.. aku sadar dan melek apa yang akan kamu kata dengan cuek dan acuh hanya "ini kan pilihanmu, konsekuensinya. Kamu pengen ini. Dah ga boleh cengeng"
Aku tersentak. Dan lagi luka itu terus melebar. Berusaha menerima saja. Memang begini adanya.. realitanya aku memang sendirian. Ga cuma di di tanah rantau itu. Bahkan 17tahun tinggal di rumah sendiri pun sendirian kan. Aku ga punya siapa-siapa. Jadi sudahlah berhentilah berharap ada yang akan mengelus pundak dan kepala, memeluk saat jatuh dan bertepuk tangan keras saat sedang tinggi. Lupakan angan seperti itu.
Bertahun jauh dari rumah. Aku bertanya sendiri mengapa tak pernah berasa homesick seperti kawan lainnya.. mengapa ma ? Mengapa pa?
Kenapa motivasi ku untuk pulang ya karna aku begitu rindu adikku. Kenapa cuma itu? Aku bertanya sendiri.. dan angin tak menjawabnya..
Mencari tahu apa yang salah dengan diriku sendiri.. belajar sembuh. Belajar sabar dan menjadi sosok yang berbeda darimu mungkin yang coba ku kejar. Entah berhasil atau tidak..
Aku masih si pemberontak. Pembangkang di matamu. Anak yang selalu salah dan cacat di matamu. Yang aku tak pernah paham apakah kau benci atau kau cinta.. aku tak tahu..
Aku belajar menjaga jarak. Menghilang. Mencari kedamaian ku. Berdamai dengan diri. Mencari passion dan bahagianya aku sendiri. Dan yah disini di kota kecil tanah perantauan ku menuntut ilmu ini ku temukan kesederhanaan yang membahagiakan, bahagia itu sederhana..
Yang terjadi aku belajar bersabar. Menahan diri. Kontrol diri. Menahan konflik. Menghindari konflik. Walaupun struggle banget memang, karena denganmu apapun bisa disulut, bisa dibakar dengan gampang.
Aku belajar diam. Mengalah. Menjadi pasif dan terus mengalah. Toh capek juga selalu keras dan membenci darah sendiri. Aku pun ingin berdamai. Aku ingin bangun bahagia iti di rumah sendiri. Aku belajar ikhlas. Sudah lupakan. Menjadi lebih dewasa kata orang..
Tapi toh, seperti yang terjadi malam ini. Seperti beberapa kesempatan api itu terbakar lagi dan terus.
Begitu mudahnya.. aku pun lelah..
Aku belajar menjadi ikhlas. Aku belajar melepaskan dendam dan benci. Aku ingin sembuh.. tapi kenapa lagi.
Selalu saja. Begini lagi. Sama saja.
Kamu adalah satu-satunya orang yang selalu sukses merobek-robek hati dan jiwa, dengan mudah menaikkan amarah, menstimulasi tangis amarah dan frustasi. Lagi..
Aku capek.
Dan kau masih bertanya kenapa aku tak banyak bicara denganmu?
Hari ini, detik ini. Ketika telah kutemukan lelaki yang mungkin kan jadi pilihanku hidup.. ketakutanku semakin besar.
Kau yang pegang setir di rumah ini. Tak ada yang berani mengelak darimu.
Aku ingin jelaskan. Aku ingin bicara. Tapi harus bagaimana lagi? Saat kau tak pernah beri kesempatan..
Aaaaah..
Aku takut sayang. Aku takut akan apa yang akan terjadi pada kita. Aku tak tahu harus bagaimana meyakinkan mereka akan kita. Aku sungguh tak tahu.
Aku begitu takut sayang. Aku begitu kalut..
Untuk hal ini. Untuk mereka.. aku tak yakin aku bisa berkata mantra 'que Sera sera'
Aku takut sayang. Sungguh takut..
Comments
Post a Comment