Sayang ajari aku menjadi skeptis

Sayang, ajari lah aku menjadi skeptis.. akan hidup, akan dunia, akan manusia dan hubungan diantara mereka.

Kebodohan dan kesalahanku selama ini seringkali sama. Aku terlalu mudah, terlalu gampang percaya. Gampang dipengaruhi, dan akhirnya mudah dimanfaatin oleh orang-orang yang sebenernya ga pantas dapat apa-apa.

Ujungnya? Balik lagi pasti aku yang sakit. Aku yang kecewa, aku yang terluka. Sendirian. Tapi susah move on. Oh damn!

Akhirnya pengalaman itu membawaku menjadi makin tertutup, menutup diri, sembunyi dalam bayangan dan menjadi kelabu saja.. aku memilih menarik diri, aku tak lagi bisa terbuka dan percaya utuh pada manusia. Aku berusaha menjadi teka-teki yang berbeda bagi orang2 yg kutemui.

Sampai aku ketemu kamu. Kamu yang hidupnya skeptis.

Kamu yang buat aku berhenti untuk istirahat, untuk cek ulang perbekalan dan rute hidupku kedepan. Kamu yang mengalihkan duniaku dan membuatku mengobservasi lagi bagaimana menjadi skeptis. Bagaimana mencintai yang tetap skeptis biar tidak kebablasan.

Ah bahkan terkadang aku bertanya-tanya benarkah kau mencintaiku? Aku belum bertanya memastikan. Kamu sering.

Lalu aku resapi caramu memandang dan memperlakukanku dengan hangat. Dan kamu entahlah, sukses bikin aku merasa berharga dan special sebagai manusia. Walau aku entah masih bingung,, takut.. adakah kepalsuanmu disitu ?

Zegh..

Setelah sekian lama. Seorang kawan lama memperingatkan lagi. "Jangan fit, jangan ama dia.. ati-ati. Cari yang lain aja!"

Duh!

Thanks kakak cantik ku, telah mengembalikan ku ke bumi, mengingatkan dan menyadarkan agar tetap bermawas diri. Tidak sepenuhnya percaya dan bersandarkan segalanya padamu sayang.

Bukan aku langsung mempercayainya begitu saja dan tak mengindahkanmu. Justru ia sebagai alarm. Agar aku tetap di "keep alert mode : on"

Ia hanya ingin menjagaku. Adik dan kawan lama yang ia sayangi.  Ia tak ingin aku terjatuh dan alami kesakitan yang dulu pernah ia alami.

Aku , dia dan semua perempuan kan hanya ingin bahagia. Kita cuma ingin bahagia dan bersama orang yang tepat diakhir hari.

Ia hanya khawatir akanku. Ia pernah percaya hingga akhirnya dihancurkan jatuhkan. Dan kini ia mungkin belum lagi bisa mantap menemukan his special one.

Tapi apakah aku sudah?
Apakah di kamu aku bisa percaya untuk tidak mematahkan lagi hati yang ku titipkan padamu?
Apakah kamu orang yang tepat untukku berhenti mencari dan menghabiskan sisa hidup membangun rute baru bareng, bersamamu?
Akankah itu jadi kamu?

Aku berharap aku se-skeptis kamu dalam berfikir. Biar nggak kegampangan baper kalo bahas hal kayak gini.

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know