Salatiga dan sebuah langkah perjalanan yang aku suka
Tcadaaaaaa..
Aku ada di Salatiga
Yuhuu..
Bermodal nekat, uang pas-pasan dan.. dan apa yaa..
Jadilah pulang ujian KKN ngejar tiket kereta buat berangkat ke Semarang.
Okeh.
Kalo ga bisa ketemu temen-temen Greenpeace. Yah udah aku datang ke Semarang , jejalan keliling kota, numpang mba aulan, atau ya nyari kereta pulang lagi.
Ini bukan soal tempat, jauh dekat atau mau apa.
Ini. Perjalanan ini. Seperti yang kamu selalu bilang. Lakukan sesuatu karena ingin. Itu saja.
Jadi
Perjalanan ini. Mungkin modal nekat. Mungkin ga ada lagi tujuan atau persiapan jelas. Aku hanya ingin . Sedang ingin. Sangat ingin keluar kota. Entah untuk apa.
Melakukan perjalanan. Menikmati proses melakukan perjalanan itu sendiri.
Sepanjang perjalanan, kawan sebangku ku berganti ganti. Ada mahasiswa, ada gerombolan bapak-bapak karyawan pabrik Baygon dimana ngobrol panjang kali lebar soal sosial politik Indonesia.
Ada pasangan bapak ibu yang mau jenguk anaknya yang sedang hamil.
Ah dunia begitu berwarna yah...
Aku mungkin anak sosial yang masih tak pandai menjalin bicara dengan masyarakat, tapi aku berusaha. Aku belajar.
Dan perjalanan ini juga bagian dari pembelajaranku.
Melakukan perjalanan seorang diri. Untuk alasan sendiri. Lewat itu aku seolah melangkah ke kebebasan, melangkah kekuatanku..
Membuka cakrawala ku.
Sampai di Semarang. Aku senang.
Aku bagai anak kecil yang baru jalan-jalan.
Yap. Seperti masa kecilku, dimana aku begitu cinta Jalan-jalan sama papah. Kemanapun asal jalan.
Dan kini aku memeluk kebebasan diriku sendiri. Kekuatan sebenar-benarnya aku..
Aku mencintai perjalanan.
Aku senang.
Aku bertanya-tanya kenapa tak dari dulu aku senekat ini. Tinggal beli tiket dan cusss..
Tapi sebelum ini aku memang gadis penakut. Terlalu banyak alasan untuk bilang tidak.b
Dan kini. Aku dengan kesendirianku.
Bukan lagi berbicara soal kesepian..
Tapi berbicara soal kebebasan..
Kekuatan untuk berdiri sendiri. Menjadi kokoh. Berani membuat langkah baru untuk mencapai sesuatu. Tak ada jalan lain selain mengandalkan diri sendiri memang.
Aku di tanah orang.
Di ruang tengah penginapan ini.
Mati lampu.
Menghabiskan malam berkumpul dan bernyanyi bersama teman-teman Greenpeace lainnya. Sedulur baru.
Setahun lalu aku si penakut. Tak berani apa dan kemana.
Aku tak kenal orang-orang ini. Kenal pun tak pernah berani menyapa apalagi berbicara canda lepas begini.
Dan hari ini aku. 14 Januari 2017. Di tanah Salatiga, aku dapat kesempatan ini, sebuah tanggung jawab berada di barisan perjuangan membela hak rakyat ini.
Aku masih sangat muda. Awam. Tak berpengalaman dan tak tahu apa-apa. Tapi aku dapat kesempatan ini. Dan aku merasa sangat beruntung. Aku senang...
Aku cinta ini. Menjadi senang. Menjadi mudah bersyukur. Positif.
Aku mulai menyukai menjadi seorang aku. Fitri.
Yang tak sempurna, banyak cacat dan kasarnya. Tapi bagi beberapa porsi aku masih berguna dan mampu bermanfaat. Menginspirasi orang lain katanya..
Apapun a ku.Siapapun sebenarnya aku.
Aku belajar mencintai ini.
Ini adalah hidupku. Ini adalah aku.
Kamu Abang. Adalah part berharga di masa laluku.
Kamu. Adalah titik balik pandang mataku.
Drama tak berujung. Membukakan mataku.. aku kuat, aku hebat. Aku layak dicintai balik. Sebesar aku mencintai kamu.
Dan cinta. Memang tak sekotak hanya berada pada ikatan romansa bersama.
Aku mencintaimu. Masih. Aku tahu itu. Tapi dengan cara yang lain. Salah satunya dengan melepasmu, membiarkan satu sama kita membangun dan menata hidup kita masing-masing. Bahagia masing-masing...
Cinta itu ada dalam wujud yang beragam. Esok rasa ini bukan sekedar hasrat membara.. ini sesuatu kasih tulus , platonis dan berkasih..
Kamu abangku. Sahabatku. Di masa lalu, kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku.
Tapi itu dulu.
Waktu telah berganti..
Hidupku harus berlanjut.dan aku melangkah.
Ini langkahku. Embrace the new me.
Aku yang mencintai hidup dan diriku sendiri. Terus berubah menjadi lebih baik.
Kamu bukan lagi duniaku.
Aku adalah duniaku sendiri. Duniaku lebih luas lagi dan terus memperluas.
Lewat itu, perjalananku juga sedang memperluas dunia dan cakrawala hidupku
Comments
Post a Comment