Mimpi musim panas

Menulis tentangmu rasanya tak ada habisnya yah bang...

Dulu sekali.
Blog ini berisi keindahan dan kekaguman ku a tas manis yang pernah tercipta.

Tapi seiring berjalan.
Justru hal indah yang paling menyenangkan tuk dikenang tak lagi sempat dan mampu digambarkan kata-kata.

Yah. Memang tak ada kata yang cukup mewakilkannya..
Kesimpulan yang lalu kuambil. Menarik dari buku novel yang sedang ku baca "Norwegia Wood" : kukira yang bisa dituangkan ke dalam wadah tak sempurna, yang disebut kalimat itu, hanyalah ingatan dan kenangan yang tidak sempurna saja.

Sedang hal sempurna di kepala ku saat itu, nyatanya memang tak pernah ku selesaikan ceritanya. Aku tak sanggup menangkap semua kata untuk deskripsinya.

Hingga kala itu kamu bertanya "apa aku sudah tak membuat hadir senang lagi?"

Ah. Salahku si pembuat kata yang lupa menyelesaikan cerita.

Kamu tak tahu gemuruh dan rasa bahagia juga terimakasih hanya sekedar atas keberadaan dirimu Abang.

Pertama kalinya. Kamu adalah deskripsi sempurna dari lagu favorit "not with me" nya bang Bondan Prakoso.

Dan seperti di lirik lagu itu. Aku terbangun di mimpi musim panasku, berharap kamu baik saja dimanakah kamu ada.

Dan seperti itulah kamu. Mimpi di musim panas. Ceria, dan cerah kan hari di era tahun itu. Tapi di selanya aku harus menahan getir dan peluh keringat selagi bernaung dibawah teriknya mentari musim panas.

Lalu saat musim panas berlalu.

Seiring kamu mulai beranjak dari sampingku. My dream and reality be shattered.

Mimpi indah itu berubah jadi nightmare. Mimpi buruk yang aku ingin segera bangun. Aku ingin kembali bangun dan temui bayang wajahmu diatas wajahku. Hembus panas dan aroma nafasmu di pipiku. Lembut jemarimu yang membelai lembut rambut dan wajahku. Kecup lembut dengan berasa agak geli atas kumis dan janggut tipisnya.

Saat itu. Aku yang belum bisa menerima kenyataan. Berharap itu semua hanya mimpi. Bahwa kepergianmu adalah mimpi siang bolong. Dan saat aku terbangun kamu masih ada disampingku. Menyesap kopi, merokok dan asik dengan buku-buku bacaan mu.

Tapi terlalu lama. Aku pun sadar. Ditampar kenyataan. Sepi itu nyata. Kamu tak lagi ada disampingku.

Kalau dulu hanya ragamu yang hilang. Tapi aku masih bisa mencari kekuatan dan sandaran lewat kehadiran jiwamu yang kuoercaya ada untukku.

Kini kamu benar hilang.

Aku gegap.
Aku tergagap.

Perih itu nyata. Air mata itu bocor dan tak kunjung habis. Tapi kenyataannya kamu sudah tak ada.

Butuh waktu memang. Tapi hidupku pun harus ku lanjutkan. Aku membuka mataku, bangun di pagi hari. Berjalan. Melangkahkan kaki membuka pintu dan jendela pagi. Menyesapnya sinar matahari ke wajahku. Bersiap memulai hari. Berangkat dan mulai tenggelam dalam aktivitasku yang ada saja atau ku ada-adakan. Intinya aku harus berjalan. Sama seperti dulu. Ada atau tidak adanya kamu hidupku harus berfungsi. Aku harus tetap bahagia.

Dan mataku sudah melekat sempurna.
Setiap hari ada saja hal yang kutemui yang buatku bersyukur akan hidup dan langkah yang ku temui. Akan ketidaksempurnaan dunia juga keindahan dalam perbedaan dan kasih sayang.

Aku seperti terlahir kembali. Mereset isi kepala. Menjadi lebih positif dan senantiasa bersyukur. Hidup simpel sederhana dan bahagia.

Ini mungkin salah satunya berkat kamu Abang. Kamu . Pembelajaran darimu terus ku terapkan dan kubagi. Perih kepergianmu membuatku bergegas bangun dan makin menata diri. Dan kini aku di kaki sendiri sedang menata hidup tuk jadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Kamu Abang, adalah titik balik hidupku. Terimakasih.

Aku si penyuka kata dan penulis puisi juga fiksi. Kalau dulu sempatnya kamu jadi penerima dan pembaca tulisanku bacalah. Kini aku menulis klbukan lagi untuk atau tentang kamu.

Aku hanya begitu. Pemikir hal random. Yang absurd jalan fikir lalu berkontemplasi dalam dan kadang berbuahkan sesuatu.
.
Aku menulis karena aku mau. Tak lebih.

Ini bukan lagi tentang kamu Abang

Tapi tentang aku. Dan ingin mengekspresikan apa yang sedang terfikir sesaat sebelum kata dikepala hilang semua.

Aku sudah berjalan di jalan yang berbeda denganmu . Jauh. Hingga tak kulihat kamu di sela depan atau belakang jalan ini.

Aku bukan maksud dan memang tak ada maksud melupakan kamu. Toh kamu adalah pialang titik balik hidupku.

Kalau dulu kehilanganmu sempat buatku seolah dalam mimpi buruk berkepanjangan. Maka sekarang saat aku sudah terima dan relakan kamu berlalu. Aku ingin menempatkan kamu sebagai salah satu mimpi di musim panas 2016 ku saja. Tak lebih dan tak kurang

Lalu selayaknya kebanyakan mimpi hanya mampu diingat sebagian, lalu semakin lama ingatan tentangnya kian memudar.

Seperti itu pula. Aku tahu dan ingin bayangan tentang masa itu memudar dan berkurang esensialnya di hidupku.

Lalu aku melanjutkan hidup seperti biasa. Seperti sedia kala. Dan hanya akan mengenang kisah kita sebagai mitos masa silam. Yang indah dan pedih tapi untuk pelajaran semata. Yang tak boleh terlalu lama ditinggali.

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know