Hilang [29 okt 16]

"apa kamu masih mencintaiku?" Tanyaku penuh harap.

Tak ada jawaban darinya. Dia bungkam, dan mengalihkan pandangannya kemanapun selain mataku. sejujurnya sedikit perasaan  kecewa menjalar kehatiku, dan mulai berfikiran negatif tentang maksut dari kebungkamnnya itu, namu aku buru buru menepisnya. Aku harus percaya padanya, harus.

Lalu ia menatapku. Seketika dadaku sesak, rasanya seperti ada benda yg berat jatuh menimpanya. Mataku memanas.
Tatapannya tak lagi sama, ada yang hilang di sana. Tak ada kehangatan dan cinta dalam sorot matanya. Aku meringis. Cintanya untukku telah hilang, tak bersisa. Kenapa?

Kutatap lekat lekat matanya, berusaha mencari sedikit harapan di sana. Namun nihil, yg kulihat hanya sorot... Kasihan? Kali ini aku tak mampu menahannya lagi, perlahan embun mengalir dari kelopak mataku. Kasihan? Dia mengasihani ku? Apa semenyedihkan itu aku dimatanya? Sungguh, aku membenci tatapan itu. jadi hubungan yang sudah terjalin selama beberapa bulan ini hanya karena dia mengasihani ku? Miris. Aku tertawa hambar.
Aku menghapus jejak air mata di pipiku, dia tak pantas untuk ku tangisi. Aku menarik nafas mencoba menormalkan emosiku.

"Aku gak butuh itu. Kalau mau pergi, pergi aja".

"Maaf" lalu ia bangkit meniggalkan kursinya.

Aku terus memandang punggungnya, punggung yg menjadi tepat bersandar favoritku. Aku masih tak percaya ini. Bahkan aku masih ingat saat pertama aku bertemu dengannya, disini, di sudut sekre ini, ruang yg menjadi saksi kebersamaan juga perpisahan kami. Aku merasa bagaikan sampah, dia telah menjajah hatiku. Dan sekarang bagai mana aku hidup tanpanya?

Aku tak sanggup lagi, kali ini aku tak bisa menyembunyikan tangisku.

Dia hilang. Cintanya untuku hilang. Kenangan kita hilang. Harapanku hilang. Dan rasanya jiwakupun ikut menghilang, menguap bersama cintanya.

hilang.

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know