Babbling
5 bulan
5 purnama yang singkat dihabiskan bersama..
Bahkan beluk satu chapter panjang selesai..
Singkat memang. Tapi bagiku sangat melekat.
Bagaimana disatu part kehidupan aku menemukan sosok yang bisa membuatku percaya dan menjadi manusia lagi. Membuatku percaya hingga mau membuka diri dan memperlihatkan semua lemah cacatku, tapi ia tak pergi. Saat itu, ia memilih tinggal bahkan setelah tahu buruk dan lemahnya aku.
Untuk sejenak aku terlena bliss. Perasaan dimiliki dan dipercaya olehnya memberi kekuatan yang luar biasa bagi diriku. Wajahku tak hentinya bersinar bahagia. Karena kehadirannya di sisiku. Di hatiku. Di hidupku.
Karena untuk pertama kalinya aku cukup percaya dan membiarkan seseorang masuk terlalu dalam ke dalam sisi dalam diriku. Part yang tak pernah ku ijinkan siapapun tahu. Ia yang telah melihat ku dengan semua kurang dan cacatku, namun memilih tinggal. Bukan cacatku yang melemahkan penilaiannya hingga rendah diriku di matanya.
Ia kata "justru kelemahanmu lah yang anehnya buatku suka"
Aku terbuai. Buta dalam euforia.
Untuk sejenak mataku hanya berkaca padanya.
Dan kisah ini. Singkat tapi begitu membekas dan membawa pelajaran bagi ku dalam hidupku.
Ia memilah tanggal, bukan karena nilai ku yang rendah. Tapi lambat laun, keegoisanku, kenaifanku yang justru membutakan langkahku. Menyempitkan arah pandangku. Aku tak bisa melihat realita, aku tak bisa melihat arah lain tanpa menengok padanya. Aku. Merendahkan nilai ku sendiri. Seolah tak ada hidup tanpa dia disana, hanya karena ia pernah berjanji tuk membersamai selamanya.
Ah aku begitu naif.
Jelas aku tau hancur hati wanita itu karena kehadiranku yang membawa hati lelakinya. Mungkin sebelas dua belas dengan sakit dan pedih yang kurasa tahui ia menjadi asing bagiku, tapi menjadi get-to-go selalu baginya. Ya. Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hidupnya.
Padahal dulu sekali Abang pernah minta jangan menjadi iri hati padanya. Tapi aku bisa apa bang. Human heart is so fickle.
Dan seperti yang kamu tahu ini hubungan serius pertamaku. Dan mungkin aku terlalu terkonstruksi persepsi populer tentang happily ever after. Aku menginginkanmu untuk diriku sendiri. Aku iri kamu yang tak pernah memberi sedikit waktu dan perhatian tuk sekedar duduk dan bercengkrama bersamaku, tapi bahkan begitu takut ia pergi dan menyisakan begitu banyak waktu hanya untuknya.
Ah saat itu aku benar buta.
Aku tahu. Aku tahu jelas kepedulian mu begitu lekat padanya, ia adalah prioritasnya kamu.. kekhawatiran, amarah, pedih, sedih dan tangisnya kamu adalah karena dia. Begitu dalam dan panjang yang terjadi diantara kalian aku bukan apa-apa.
Saat jelas pertama kali kamu menangis di pelukku dan berkisah tentangnya. Tampak dalam dan pedih lukamu dan rasamu, juga betapa enggan baik kamu dan ia untuk saling melepaskan. Membiarkan satu sama lain pergi dan dewasa menjalani hidupnya dan kebahagiaan nya masing-masing.
Dan disana yang ku bisa lakukan adalah merengkuhmu. Menjadi rumah tempat kamu pulang dan bersandar, menawarkan kehangatan yang hilang dari hidupmu karena terlalu jengah dengan amarah.
Melihat drama kamu dan dia yang tak bisa saling merelakan begitu. Aku padahal tahu akan selalu ada sesuatu diantara kalian. Dan yang kalian lakukan ini malah saling menyakiti satu sama lain.
Perpisahan denganmu abang, mengajarkan banyak hal, membukakan mata ku lebar-lebar.
Ini memang jalannya. Harus terjadi. Kita sedang tak mungkin bersama, takkan baik. Kita tak akan kemana-mana. Tak akan berkembang.
Walau perih pedih dan pilu mendalam ku rasa.
Berat mengucapkan selamat tinggal. Mengambil langkah benar-benar menjauh dan tak lagi menghubungi lewat nyata atau virtual. Menulikan mata hati dan telinga.
Padahal sebelumnya, aku yang meminta agar kita tetap baik sebagai teman dan saudara.
Aku hanya..
Aku hanya belajar dari semua ini Abang.
Dan aku tau limitku juga diriku sendiri.
Selama aku masih berada di sekitarmu dan berkontak denganmu, amarah dan kesedihan itu mungkin akan sulit hilang. Aku akan masih menggalau dan kepalaku masih khawatir berputar tentangmu saja. Aku akan mempermalukan dan merendahkan diriku dengan mengemis kamu kembali. Dan itu tidak bisa. Itu hanya akan semakin menyiksa baik aku dan membuat tidak nyaman kamu.
Aku sadari aku mungkin tidak tahu apa-apa tentang kamu. Maka aku tak akan berspekulasi apa pandangmu tentang ini.
Ini hanya jalanku untuk berdamai dengan kehilanganmu. Dengan diriku sendiri, dengan kenyataan, dan dengan bayang kamu yang sedikit demi sedikit sudah ku tanggalkan dibelakang sana.
Aku belajar bahwa seorang aku. Kelemahanku adalah tak bisa membiarkan sesuatu pergi. Percayaku, hatiku, barang kesayangan,dan kini orang terkasihku, kamu Abang.
Karena aku tidak ingin larut dan menjadi pembenci lagi. Maka sejenak aku harap tak kan lagi ada kamu. Hingga satu saat kamu hanya akan jadi bagian dari masa laluku, dan kita akan bisa berbicara normal layaknya teman lama. Sama seperti ke fajar, atau Ka gembel, atau mr. Guntur.
Dan lewat kisah kita yang tak sederhana itu, aku belajar. Lebih mawas diri, jangan lagi menjadi naif. Tahui apa yang dimaui.
Bila ada lagi pilihan antara mimpi dan asmara, maka tahulah salah satu itu yang mana yang tak akan meninggalkanmu hanya karena tidak lagi mencintai.
Yap. Seperti prinsip ku sebelumnya. Jangan ganggu orang yang sudah punya. Atau orang yang belum selesai dengan masa lalunya. Bukan karena apa..
Pasangan. Bukan untuk hanya diajak bicara dan melihat satu sama lain.
Aku lebih butuh orang yang mau diajak memamandang cakrawala luas dan melangkah maju bersama.
Tapi ah entahlah.
Aku sedang tak ingin dipusingkan hal asmara lagi.
Hidup bukan soal asmara semata.
Aku mending pusingin skripsi, problem, KKN, project baru, dan gimana cara biar bisa join relawan internasional. Yuhuu..
Jangan menyerah pit! 2017 baru saja dimulai. Ganbatte! Fighting!
Comments
Post a Comment