Day1: perjalanan #30haribercerita
Namaku Fitri. Seorang gadis biasa dari tempat yang biasa saja.
Di sepagi ini aku bangun pagi, bergegas dan berpamitan pada kedua orang tua dan adik kesayanganku. Yap, aku ambil kereta pagi tuk kembali ke Purwokerto, kota peraduanku dan menimba ilmu selama tiga tahun belakangan ini. Ada pilu dan sedih saat harus mengecup panjang dan memeluk adikku yang masih terlelap sehingga tak ikut mengantar pergiku ada keengganan untuk meninggalkan rumah. Tapi tinggal bukanlah sebuah pilihan yang mungkin.
Berangkat subuh dari rumah, langit masih gelap. Tampak beberapa bintang masih tampak di gelap langit subuh, namun berbelok dan terus melaju di jalan raya perkotaan Jakarta menuju stasiun PS. Senen bintang itu sudah tak tampak lagi. Mungkin karena gedung-gedung dan cahaya kota yang terang, mungkin karena asap limbah udara akibat aktivitas produksi pabrik di sepanjang bekasi-jakarta. Entahlah.
Jalanan menuju stasiun tak begitu padat. Mungkin karena masih sangat pagi, atau mungkin efek tahun baru (?) Aku juga tak yakin. Sedang stasiun orang sudah lalu lalang di sekitar pintu masuk cek tiket atau sekedar duduk di emperan menunggu giliran kereta mereka datang. Orang-orang non petugas stasiun ini, kebanyakan orang jakarta yang hendak kembali ke daerah Jawa untuk kembali kuliah atau kerja setelah menghabiskan libur tahun bersama sanak keluarga disini; yang lainnya ialah keluarga dari daerah Jawa tengah dan Jogja yang justru memilih menghabiskan tahun baru di Jakarta.
Agak unik yah, ketika orang ibukota memilih liburan ke daerah, sedang orang daerah malah mencari hiburan di ibukota, ingin melihat Jakarta katanya. Seolah ada pertukaran ide dan konsep mencari kesenangan disini. Semuanya benar dan sah-sah saja mau libur atau mencari hibur dimana.
Masa liburan panjang menjadi momen yang banyak dimanfaatkan orang untuk berbondong-bondong pergi ke suatu tempat, dekat atau jauh, sebentar atau lama, sendiri atau beramai setelah di hari lainnya terlalu fokus dan sibuk berkutat mengejar materi tuk pemenuhan hidup sehari-hari. Setelah bekerja banting tulang hingga lebih dari 40jam seminggu, nyatanya penghasilan yang didapat hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan sedikit menabung. Yah itu realita yang ada di dunia kerja Indonesia, buruh pabrik, pegawai koorperasi atau PNS, nyatanya kita masih hanyalah pekerja di negeri sendiri. Sebagai buruh wali dengan majikan yang berbeda-beda.
Maka beruntunglah aku dan mereka yang kutemui dan ku bersamai dalam perjalananku kali ini, berarti kita masih orang yang cukup mampu, punya rizki dan berkesempatan berpergian melintasi daerah dan daerah ini.
Perjalanan selalu menjadi aktivitas menyenangkan bagiku. Entah karena bisa berpergian dari satu tempat ke tempat lain, menemui banyak wajah manusia dan menyaksikan interaksi manusia yang pula beragam wujudnya, lainnya ya karena bagiku semua perjalanan itu sakral dan special, caraku menikmati sekaligus bersyukur akan Rizki Tuhan akanku.
Menjadi perantau di tanah orang, aku bersyukur. Aku bersyukur memiliki kkesempatantinggal dan bergumul sendiri dengan hidupku jauh, walau kadang sepi, rindu dan susah kerap terasa karena jauh dari keluarga. Aku bersyukur, rantau menjadikanku harus kuat dan mandiri mengurus hidupku, membuat tangguh dan tak melulu takut saat harus melakukan perjalanan kemanapun seorang diri. Berjuang menata keuangan untuk makan sebulan, mengurus diri sendiri saat jatuh sakit. Semua perjalanan ini mengajarkan dan meninggalkan pembelajaran yang menarik sendiri dalam diriku.
Jauh dari keluarga dan terpaksa harus membangun rumah dan jaringan saudara sendiri di tanah asing, nyatanya hidup memang tak bisa seorang diri tanpa bantuan orang lain. Jauh meninggalkan rumah dan keluarga mengajariku makna rindu dan syukur akan kehadiran keluarga sampai hari ini lebih menghargai waktu saat bersama. Ia juga menumbuhkan rindu untuk pulang.
Maka beruntunglah kamu yang berpergian, di padanya, diantara semua perjalanan yang kau lalui, diantara itu kamu akan merasakan rindu untuk pulang dan bersama orang tersayang.
Andai hidupku berbeda, aku akan tetap memilih melakukan perjalanan demi perjalanan. Dan aku tak sesali itu. Karena aku si tukang kelana ini jadi tahu rasanya ingin pulang.
Tak seperti kecilku yang masih tak mampu kemana-mana , hingga fikir tuk pergi dan berkelana terus menghantui dan menjadi impian yang bikin gigit jari, terus bertanya-tanya what if dan apa yang ada diluar sana.. hanya karena halangan materi , atau aku yang terlalu takut melangkahkan kaki keluar zona aman.
Comments
Post a Comment