Salah sendiri pernah terlanjur berharap!
Belum sempat aku menelaah syukur atas hal positif dan baik yang berhasil kamu tularkan padaku sayang.
Belum selesai dan memang tak kan pernah selesai tuk menjadi dan berusaha menjadi..
Banyak peer.
Dan utamanya merubah mindset. Bukanlah sesuatu yang instan.
Aku belum selesai menyesapi nya.
Belum sempat menganalisisnya dan mendapat konklusi tertulis akan itu.
Banyak terimakasih sayang, atas pendampingan dan kesediaanmu menularkan hal baik juga padaku, di hidupku, di dunia sekarang yang sedang ku tinggali.
Aku bermaksud menuliskannya setelah hari berakhir. Tapi...
Malam ini tiba-tiba saja semua schedule berantakan. Sedang aku tak berhenti lalu tetap memilih keluar tuk mencari koneksi internet menunggu email kerjaan baru semoga segera muncul. Alas... Belum.
Hari ini cerah, ku coba tepis segala kekhawatiran dan fikir negatif. Aku hampir berhasil. Sebentar lagi.
Namun alas. Penghujung malam menggoyahkan pertahanan ku.
Aku percaya kamu sayang. Aku berusaha percaya kamu. Dan aku tahu dimana pun kamu, kamu tahu untuk selalu tetap jaga dirimu juga. Kamu baik-baik saja.
Nothing to worry about you said..
And i try to believe it.
Maaf ternyata aku masih payah.
Aku gagal bertahan di akhir.
Aku yang berlebihan memang. Maaf. Masih saja ternyata gagal menahan diri.
Aku lupa aku sudah pernah terlanjur menunggu dan berharap padamu, bahkan di kepalaku sudah pernah merangkai skenario yang mungkin akan terjadi, yang mana semuanya tak baik.
Entah ada apa kenapa.
Gambar itu tiba-tiba mengusikku.
Ada celos kecewa sesak dan entah apa.
Entah kenapa lagi.
Padahal aku sudah tahu akan kecewa,
Padahal aku sudah janji tuk tak lagi berharap dan meminta apa-apa padamu.
Pikiranku mendadak liar.
Entah benar atau salah asumsi yang muncul di kepala, tapi tawa girangku malam ini tiba-tiba redup. Lelucon gilanya orson yang selalu jadi partner banteran gila pun tak bisa lagi sepenuhnya membawa gelak itu muncul.
Mendadak aku ingin segera pulang saja.
Mungkinkah salah satu skenario di kepalaku itu benar adanya akhirnya terjadi, wiih.. aku sudah praduga, tapi Fitri masih aja bodoh. Kenapa masih kecewa?
Gatau.
Bodoh fit!
Kamu berlebihan..
Salah sendiri pernah terlanjur berharap dan lupa belom selesai di tata ulang harapannya. Salah sendiri fit! Bodoh!
Ini bukan tentang aku tak percaya kamu sayang. Aku percaya.. aku masih percaya lelaki baik kesayanganku itu takkan aneh-aneh juga sengaja mau nyakitin dan merusak percayaku..
Ini salah ku sendiri yang masih gagal menata harapan..
Padahal hati dan jiwa sudah letih.lelah. ingin menyerah.
Dan sekarang sudah terserah. Kali ini terserah. Aku tak ingin terlalu memusingkan peduli lagi. Kamu sudah terlalu banyak menyita waktu. And you dont deserve it! You are not worthy that much time to expense..
I never demand you to shower me with gift, money, gold or diamond. I just wish and ask your time and attention. I learn to not expect anything from you, not put high expectation at our relationship like i used to do. I know you babe. I know that somewhere there, i know that you love me, and truly care about my wellbeing. And thank you. But even when i say i dont expect anything, sometime i want to know, say it, show it, Prove it to me that i am really being cherish in your life, like i cerish you. Sometime i really wish you there, give a time for some quality time either just doing nonsense or deep-talk discussion about life, galaxy, your dream, your trouble, or else. Anything, to make me believe that i matter, that we are matter.
But alas,
Im so tired to ask.
I've already ask too much maybe.
It irasional in your eyes maybe.
But it really matter to me, 'us, you is matter to me. But i dont believe it in you. Alas i dont know anything anymore.
Maaf masih gagal menata harapan. Dan lagi aku menjadi cengeng dan egois.
Maaf hanya bisa banyak merepotkan.
Aku akan berusaha untuk tak lagi. Berdiri di kakiku sendiri seperti biasa. Belajar percayai kamu bukan lagi jadi elemen penting. Aku ga perlu kamu. Jangan lagi mengharap dan menggantung padamu.
Maaf aku masih cengeng.
Maafkan aku terlalu rindu kamu dan terlalu banyak berharap tuk menggenggam tanganmu erat. Memeluk tubuhmu erat.
Aku menyesal tak pernah memelukku dengan erat, tapi bagaimana bisa aku rindu? Aku tak tahu..
Terakhir kutahu kamu tak lagi membaca blogku, jadi kuharap kamu pun tak membaca postingan kali ini.
Apa yang ku tulis kadang adalah kata mulutku yang sedang tak dapat kuujar langsung di depanmu, kadang begitu dalam harus digali dulu baru bisa aku curahkan. Ya ini. Aku bercurah disini hal yang mungkin bahkan takkan berani disampaikan sendiri padamu.
Kamu tak perlu tahu. Tak perlu baca.
Aku akan terlalu malu tuk membahas ini lagi.
Sudahlah malam, usah selesai keluarkan penat dan selesaikan air mata yang menetes. Kamu tak berhak atas itu. Kamu tak pantas setiap butirnya. Im more than that. More precious than that.
And if you couldn't know the value, then maybe you are not that worthy, like i ever thought you do.
Comments
Post a Comment