Conscious
Haha..
Ada apa dengan Fitri?
Entah.
Hari ini, detik ini. Nyatanya segala wacana teori dan visi prinsip hidup yang pernah nya ditemukan, dicari pemaknaannya secara mendalam, dihayati, dan upaya diterapkan. Entah apa yang terjadi, seketika aku tampak lupa ingatan.
Aku tampak sudah melenceng berjalan lumayan jauh, terjerembab dan tampak sesat di jalanku. Lupa jalan pulang.
Aargh.
Maafkan tolong..
Maafkan Mama, papa, aa, adek.. mataku tertutup kemarahan dan luka lama yang tak kunjung sembuh.
Maafkan sista, bradda.. aku lupa kalian ada
Maafkan abaang, seringnya aku menyesahkan dan merepotkan mu dengan rengekan dan rewelan saja, tuntutan ini itu, mendadak moody senang sedih kesal amukan, terlalu banyak mengeluh dan bertingkah kekanakan.
Maafkan Tuhan.. seringnya hamba lalai dan tak bersyukur atas karunia kehidupan ini..
Tiba-tiba aja.
Kaya abis ditampar balik ke kenyataan. Dibangunin dari Inception yang menyesatkan..
Aku bangun dan melek dan kaget. Apa yang telah kulakukan?
Kenapa bisa lepas kendali lupa segalanya..
Mata seakan dibutakan oleh kabut tebal.
Padahal bukankah kita telah sepakat fit?!
Hidup itu anugrah sendirinya..
Semua kehidupan adalah berharga..
Semua makhluk adalah penting dan punya perannya masing-masing bagi kehidupan..
Semua manusia adalah special dengan sendirinya, unik, tak ada yang sama. Tak sempurna, selalu ada yin-yang.
Bahwa dunia itu bukan hanya hitam-dan-putih warnanya.
Love.. Live.. Laugh..
Hidup itu untuk belajar, ga pernah boleh berpuas diri dan berhenti belajar. Bukankah semesta begitu tak terhingga dan kita manusia hanyalah sel atom kecil sekali. Jadi ga boleh jumawa juga ga boleh berpuas diri..
Hidup itu harus bermanfaat. Bukan hanya omong tentang diri sendiri, alangkah indahnya ketika bisa berguna dan bisa menolong orang lain menjadi lebih berdaya, atau sekedar berbagi tolong dan menyebar senyum dan kebaikan ke orang-orang yang kita temui. Ah, berbagi kehidupan, berbagi cinta kasih, berbagi senyum dan tawa..
Dan bilakah hingga hari ini aku masih gagal bahkan dalam menggenggam komitmen ku sendiri. Sungguh aku malu. Malu pada diriku sendiri. Pada Tuhan. Pada alam semesta.
Maafkan..
Entah apa yang ku harapkan dari pinta maafku. Tapi aku ingin merendah sekali saja, menelaah sejauh mana aku telah jatuh dan harus bangun lagi.
Keikhlasan. Lapang dada.
Aku sedang belajar ilmu ikhlas dan pelajaran menjadi sederhana. Akan tiba saatnya semua bisa selesai. Semua luka akhirnya sembuh, aku semakin dewasa untuk tak lagi mudah tersayat dan bangun dari traumaku sendiri. Memaafkan.
Memaafkan diri. Memaafkan keluargaku. Memaafkan kedua orang tuaku. Memaafkan dunia.
Aku sedang belajar.
Aku dalam proses menuju titik itu.
Doakan saja semoga segera sampai.
Pun karna ku percaya hasil takkan mengkhianati proses.
Kebebasan dan komitmen.
Aku sedang mencoba menelaah dan memilah kembali makna hubungan antar-insan manusia.
Darimu aku memulai.
Darimu sayang aku belajar.
Darimu sayang aku mengkritik.
Darimu sayang aku berupaya sebegitu jauh..
Karena dan untukmu sayang, aku berusaha tak segampang itu menyerah. Masih mencoba memahami. Memaknai. Menjaga. Entah sampai kapan dan dimana.
Aku begitu keras struggle, tatkala imaji tentang romansa tak pernahnya kan terwujud, aku harus menata emosi dan mengelola harapan, agar tak lagi mudah kecewa.
Aku mengeras tatkala sesak dan kecewa akan ketiadaanmu di hari-hari ku. Akan semua kata tidak, dan tolakanmu yang seolah tak pernah punya waktu dan ingin tuk membahagiakan ku barang sedikit saja.
Aku meninju dada dan mengerjapkan mata dengan pedah. Tatkala emosi dan cemburu itu menguasai, setiap kamu yang tak adil. Setiap waktu aku selalu merasa diperdaya dan didua-tigakan olehmu. Setiap kamu sdi tiap saatnya sigap untuknya tak seperti pernah kau upaya untukku, seakan aku tak pernah jadi bagian besar dalam hidupmu, eh emang tak pernah kan ya.
Ah sudahlah.
Bukankah cinta harusnya menguatkan dengan kebebasan.
Kamu bebas menentukan dan berlaku atas kehendakmu, pun sama denganku. Harusnya tak perlu ku risaukan lagi kamu. Rasa sepi dan kosong ini harusnya tak lagi jadi fokus yang menyiksa dan menyita menguras diriku, kini aku harus menata kembali mimpi dan harapan untuk diri sendiri, menata diri, memantaskan diri, menjadi dinamis kembali, berubah menjadi lebih baik lagi. Mengejar dan berupaya mewujudkan mimpi-mimpi baru setiap harinya.
Soal komitmen?
Entahlah aku masih tak mengerti banyak.
Yang kutahu.. bahkan ketika ragamu dan jiwamu tak pernah lagi ada dibagi untukku lagi. Bahkan ketika rasa-rasanya aku turun kasta, berlaku dan hari-hari kesepian selayaknya masih manusia jomblo mana. Toh aku tak bisa sebebas itu. Dalam bawah sadar ku akan terus menagihku, mengingatkanku, membebaniku bahwa aku terikat. Ada janji, ada komitmen yang memaksa dan memintaku untuk bertahan entah pada apa.
Pada akhirnya aku ingin kembali memaknai kita sebagai rumah istana yang nyaman untuk saling berpulang.
Home is not you always Live, but the place which you know that you are safe and could be whatever you wanna be.
Kamu bebas dengan kehendakmu. Pergilah sejauh apapun, lakukan apapun yang kau mau, yang menyenangkan mu. Aku yakin kamu baik saja dan bisa jaga diri. Pun aku masih percaya kamu lelaki baikku takkan macam-macam sengaja merusak percayaku juga dimana pun kamu, sama siapapun kamu. Aku masih yakin, hati tahu kemana ia bisa pulang. Dan kuharap, bagimu aku masih jadi rumah yang nyaman untuk kau berpulang.
Pun sama denganku. Aku akan terbang dan laku apapun yang ku mau. Kamu selalu bilang percaya padaku. Bahkan ketika lelah dan godaan itu seakan memintaku untuk membagi hati dan mencari yang lain. Aku masih hanya ingin pulang ke kamu. Semoga peluk dan genggamannya masih tersedia dan terbuka untuk menyambut ku pulang.
Selamat malam kamu..
Aku rindu.
Comments
Post a Comment