Menggenggam udara kosong


"ketika pelukanmu pun tak lagi bisa, menenangkan hatiku yang sedih, aku memilih tuk mengakhiri ini dengan indah.."

Detik ini sayang, di sisi alas tidur yang kita tinggali semalam, aku meremang. Petikan lagu Jikustik lama kesayanganku seakan mengalun di balik kepala. Dan lagi, saat kamu telah ada di depanku seperti ingin ku, aku tak tahu harus berkata apa. Rangkaian kata yang mana yang harus kusingkap agar kau mengerti, agar kau mau mendengar. Agar segera lepas segala kepenatan yang menyesakkan ini.

Tapi memandangnya saja sayang, bibirku Kelu, lidahku kehilangan daya tuk berderak sedikit saja. Aku hanya bisa terdiam. Dan seperti semua kemarahan dan kekecewaan yang lalu, aku botolkan dalam diam, semua kesesakan yang membuncah.

Hari-hari yang berlalu dan henyak. Siang dan malam yang hanya bisa kunikmati sendiri, membolak-balik slide gambar wajahmu di layar ponselku. Mengenang lagi satu-satunya momen yang mau kau dampingi ku masuk menikmati duniaku, fase resmi keluargaku disini menjadi saksi kita bersama.

One of the best night in my life so far. Enjoy the starry night at my lovely nature, with Someone special in my life.

.. Haha.. cheesy banget. Biarlah!
Paling nggak aku masih punya memory favorit yang menyenangkan bersama kamu, yang sekarang kalo diinget masih bisa mengingatkanku lagi tentang rasa hangat di dada bahwa ya ternyata masih ada rasa sayang nyata. Bahwa aku tak se-empty dan mati rasa itu juga.

Menjadi dewasa itu rumit dan melelahkan kadang. Dan aku yang terbiasa memikul beban dunia sendiri ini, pantas saja mereka sebut anak yang serius, dewasa dan kuat. Aku sedang ingin jadi anak-anak. Mudah bahagia dan bebas tertawa..
Mungkin karena aku tak pernah menjadi benar anak-anak seutuhnya. Sejak kecil aku malah sudah dipenuhi oleh beban dan ambisi ini itu oleh dunia. Old soul they called. Aku tak pernah bermain dan tertawa lepas seperti anak-anak kebanyakan.
Dan disini, jadi anak sosiologi dengan interes ke anak dan keluarga, belajar bagaimana itu anak-anak, pun aku jadi tahu. Aku telah kehilangan kanak-kanak ku sejak lama. Dan saat ini, justru saat aku diawal tahun sedang ingin menjadi kanak-kanak, anehnya aku malah bertemu kamu sayang.. sosok unik dan anehnya aku pikir bisa tahu rasanya asem pahit hidup. Aku terlena sayangnya, aku sungguh ingin bersandar padamu. Saat kamu berkata nyaman padaku, aku masih detach dan tak membiarkan diriku lepas. Lalu perlahan kamu buat aku percaya kebaikan dan kekuatan diriku sendiri juga. Sayangnya, justru saat aku mulai percaya dan terlalu nyaman ingin bersandar padamu, disaat itulah kamu sudah tak bisa kutemui. Rasanya seperti ada benteng diantara kita. Dan kini aku hanya bisa mengais mencoba menyemtuhmu tapi tanganku tak lagi sampai. Aku menggenggam udara kosong.

Dan aku sadar, aku bukan siapa-siapanya kamu memang. Kamu pun bukan milikku. Harusnya aku tahu diri.

Bukan sayang. Aku tak khawatir di belakangku kamu main gila dengan perempuan lain. Tak sayang. Aku tak khawatirkan itu.
Yang ku keluhkan, yang ku sesalkan dan kadang membuat harus mengais sedih karena kau tak ada. Tak pernah lagi ada. And you always make me realize that i really didn't matter per se. Karena rasanya meminta waktu yang berkualitas dan eksklusif denganmu saja itu terlalu mahal bagiku yang sedang kere harta ini. Dan aku tahu kamu spesialnya aku, tapi aku bahkan bukan sesuatu yang berarti di matamu.

Aku iri padanya. Bukan karena insecure atau takut kamu meninggalkan ku untuknya. Toh nyatanya aku memang tak punya kamu, dan secara teknis kamu memang meninggalkanku untuknya. Itu ironis tapi tak segitunya membawa pilu.

Aku iri padanya karena ia mengenalmu jauh lebih dulu dan lama daripada ku. Ia lebih mengenal dan memahami mu mungkin. Ia pernah lebih lama dan mungkin lebih baik dalam menjagamu. Aku iri padanya karena bahkan detik ini, kamu yang bilang tak ada rasa padanya, aku tahu itu bullshit. Nyatanya kamu sangat peduli padanya. Nyatanya seluruh waktumu selalu tersita. Dan aku tak punya banyak kesempatan untuk bertanya dan mengenalmu lagi. Karena yang kulihat, kamu jauh lebih menghargainya daripadanya aku. Dan aku tak bisa apa-apa lagi selain menyelos dan mengelus dada, mengalihkan perhatian dan kepalaku untuk hal lain. Berusaha agar berhenti bergantung akan kenyamanan dan ketenangan bersamamu.

Kosong. Alangkah ironi justru aku lebih kesepian malah saat sekarang mereka bilang sudah punya pasangan. Aku kehilangan fokus dan kemandirian dan sibuk sendirinya aku semasa sendiri. Kepala multitasking ini. Bahkan sesibuk apa, aku tak bisa mengenyahkan kamu dari kepala dan hatiku. Dan aku benci.

Aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dan aku. Yang kutahu pasti, saat ini ku benci untuk mencintaimu.

Sadarkah justru aku malah terus berfikir untuk enyahkan kamu dan mencari yang lain?

Kamu Iyah, membantuku dan mendorongku untuk jadi pribadi yang lebih baik. Pahit asem. Seasamnya cinta dan patah hati. Sakit dan kesedihan yang ternyata hampir mengingatkanku akan rasanya di rumah. Aku berantakan lagi. Terimakasih sayang.

Mungkin nanti kalo udah saatnya, enough Will be enough. Nyatanya aku pun berhak bahagia. Kamu menyadarkan ku itu. Aku pun berhak mendapat orang yang mau membahagiakan dan memanjakan ku secara mewah pintamu dulu. Dan aku akan temukan kebahagiaanku yang sacred itu sayang, ada atau tidaknya kamu. Dan ku doakan kamu pun selalu bahagia dan dijaga Tuhan dimana pun dan bersama siapapun kamu nantinya

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know