Langit Malam dan Rindu yang menggebu

Langit
Memandang dan menghayati langit selalu jadi bagian ritual hidup favorit di sela hari.

Ia begitu tinggi, si Langit itu. begitu sulit disentuh, setinggi apapun aku dengan sok-nya ingin meloncat, sejauh apapun aku sudah mendaki gedung pencakar langit paling tinggi di metropolitan Ibukota; memanjat tebing atau Gunung-gunung beribu meter diatas permukaan laut. aku masih saja terlalu kecil. terlalu pendek. tak sampai untuk menyentuhnya.

Luas saja tak cukup, Megahlah ia. Sungguh megah, sungguh mewah, aku sampai tak mampu melihat ujung-ujung tepiannya. ah ia begitu megah si langit itu. tak terhingga, tak terbatas, mataku terlalu sipit mungkin yah. Begitu kokoh dan megahnya ia, aku selalu terkagum, Cakrawala yang begitu tak terhingga-luar biasa.

Bahkan berdiri di pundak sang raksasa saja nampaknya aku masih terlalu kerdil untuk melihat semesta raya.

Ah, langit. kau congkak sekali berdiam di tempat tinggi sekali yang megahnya membuatku iri, tapi kamu pelit, aku tak boleh menyentuhmu.



Aku
Aku si manusia kecil diantara keluarbiasaan semesta raya ini. si kerdil kurcaci yang tak berarti apa-apa mungkin dimata dunia.

aku dan keegoisan kecilku. ah aku sombong bila seringkali merasa semesta berkonspirasi tuk meninggalkan dan menimpaku dengan satu beban dan masalah lainnya yang tak kunjung henti. baru segitu saja aku suka mengeluh, merasa dunia tak adil. tuhan tak adil. menyiksaku begitu, seolah menjadi manusia paling tidak beruntung di dunia. Ah si kecil Sombong!

setiap kepusingan melanda lalu aku mengurung diri, mengunci diri, karena merasa toh tak ada yang kan peduli, yang kan mengerti. sungguh sombong! bukankah sakit hati, sedih, amarah, kecewa itu bukan hanya emosi kepemilikanmu seorang fit!

dan lalu aku mendongakkan wajah keatas. ku lepaskan kacamata yang membiaskan mataku. merasakan angin yang lewat dan menyentuh masuk pori-pori wajahku. bola mataku berpendar mengikuti polah-polah gugusan awan yang bergelantung disana, seakan ada tali yang menggamit gantungnya agar tak terjatuh ke pemukiman warga.

aku menggambar polah dan corak dan motif bentuk di awan itu. kadang berbentuk domba, kadang menjadi ufo, kadang ku dapat melihat lukisan wajahnya, si lelaki yang selama beberapa bulan belakang menjadi topik bahasan dan tulisanku, mengisi rongga-rongga fikir dan jiwa.

dan bilakah aku melihat ia, mungkin saja aku sedang rindu. rindu gelak tawanya, celotehan bawelnya, semangatnya yang terpancar saat berbicara ide atau mendiskusi sesuatu, teduh matanya yang kadang bisa buatku tenggelam disana. atau aku sedang mengingat dan mengenang hal-hal bahagia tentangnya. lalu aku akan tersenyum simpul atau malah bergelak sendiri hingga sobat sekitar mempertanyakan kewarasanku.

Langit Siang & Malam
Langit siang yang biru cerah dan awannya yang putih, berteman dengan sang mentari yang cerah dan hangat. ah aku seperti sedang melihat warna-warni permen atau cupcake kesukaanku. sang siang, aku seperti sedang bernafas lega, bebas, dan aku jadi berangan ingin terbang melanglang buana. bersemangat memulai dan menjalani hari, bergerak, berjalan, bertualang, menggemgam cakrawala, bertemu dan bersapa dengan banyak orang. berlaku produktif dan positif.

Lalu senja datang sebagai iklan sebelum sang malam menyapa. ah aku tak sabar.

dasar nocturnal. gelap malam, ketika banyak orang memilih beristirahat dan tidur. aku dan beberapa manusia lain sepertiku di kampus justru lebih aktif saat malam tiba. kalong!

jam malam malah membuatku yang setelah seharian hibernasi di tempat tidur justru ingin bergegas keluar dan menghirup udara senyap dingin khas sang malam. Biru Navy. hingga menjadi hitam. kadang kalau cerah aku bisa melihat bulan menemani dan bersinar, lalu gerombolan para bintang dan lintasan milkyway sedang bermain dan berkerlip jauh di semesta sana. Ceria. Malam yang terang justru membuatku hidup, membuat kepalaku semakin lancar mengembara lautan imaji.

bilakah sedang mendung, paling tidak aku tahu malam sedang diselimuti biar tak kedinginan. atau ketika hujan turun, aku malah nyengir karena lagi-lagi aku dibuat jatuh cinta oleh malam ditambah aroma khas hujan dan tanah yang terguyur hujan. ah aku jatuh cinta, aku takjub. aku bersyukur. Nikmat tuhan mana yang aku dustakan..


Tapi aku pun kadang marah pada sang malam.
kepalaku tak hentinya bekerja dan mengawang, seolah ingin tidur melayang ke angkasa, bersama para bintang-bintang. tapi resikonya, imjinasiku pun semakin liar. jadi bilakah hati dan di otak sedang ada yang mengganjal, justru malam dan sendiri senantiasa memperparah dengan menyumbuinya.

dan yah memang masalah di dunia tak hanya menimpa aku. dan masalahku pun bukan hanya tentang satu objek yang sama, tapi bagaimana lagi. hanya cerita dan kesesahan tentangnya yang mampu ku torehkan. part dan cerita susah tentang hal lainnya, bahkan otakku pun melarang keras untuk dibongkar. jadilah menyimpan sendiri.

dan maafkan mungkin semua orang sudah bosan bilakah mendengarku membahas namanya, membanggakan atau meracaukannya. biarkan saja! aku tak peduli. Aku tak akan bosan berbahas ia, tak bosan merindunya, karena memilih mencintainya, maka rindu adalah salah satu konsekuensi yang akhirnya senantiasa ku emban, senantiasa. selalu. kemarin, minggu lalu, tadi pagi, tadi sore, hari ini, detik ini, menjelang tidur dan bahkan esok saat mata terbuka dari lelapnya aku tahu rindu itu masih tersimpan rapih. walau kadang kadarnya berbeda-beda. kadang ringan sedikit, kadang nambah, kadang berkurah, lebih sering sih nambah.

si anak kecil ini. bocah malang nan naif ini. ia sudah pernah jatuh bangun di hidupnya. ditinggalkan, dikucilkan, disingkirkan, dihinakan, disakiti, dicurangi, dikhianati pernahnya ia hidupi. hingga ia memilih mematikan hati, dan jadilah ia mati rasa. ia kehilangan percayanya akan kebaikan di dunia, tentang hubungan antar manusia yang tak melulu mencari benefit, ia tak lagi percaya ada ketulusan yang bertahan lama. dan ia mematikan sendiri anak kecil dalam dirinya. dan dunia seakan begitu keras lagi, abu-abu, praktikal, terlalu sibuk saling mencemburui manusia lain, bertingkah sok dewasa. ia kehilangan dirinya. dan perlahan demi perlahan ia tak lagi mampu mengenali dirinya sendiri, ia kehilangan arah tujuan dan laku yang mana yang ia ingin mau. ia tak lagi merasa punya arti.

bahkan ketika aku kata aku telanjang di hadapan lelaki itu. aku masih terlalu detach. kepercayaan adalah hal yang mahal, dan begitu rapuh. aku akan selalu ragu untuk membagikannya pada orang lain. karena hidup telah mengajariku lagi dan lagi, bahwa tak ada satupun yang bisa dipercaya selain sendiri, dan bahkan sang diri bisa saja berdusta dan menipu dirinya.

nyatanya hanya sejenak aku titipkan kepercayaan utuh pada lelaki itu. sebentar saja, aku terlena, sebelum akhirnya kutarik lagi sedikit, dan sisanya terkikis oleh waktu dan keadaan, juga luka dan tetes air yang entah sengaja entah tidak, lelaki itu mengambilnya sendiri.

hingga ragu terus menyeruak. tanya demi tanya tak terjawab, kata demi kata tak tersampaikan. aku dibuat sensitif oleh kesendirian dan badai di malam-malam dinding kamarku. kali ini aku rasai, sendirian menghasilkan kesepian. dan ia yang sempat kuharap jadi obat penawarnya enyah ditelan hiruknya siang.

marah. kecewa. ragu. sedih. menyeruak. ia memanggil-manggil meminta ingin keluar. dikeluarkan. hingga tiba-tiba iauncul di hadapku, tapi aku terlanjur kelu. kebingungan kata mana yang boleh kulontarkan terlebih dahulu. dan kita hanya terus melestarikan bisu. diam diantara dua manusia cerewet macam aku dan si abang.

tapi sungguh tak mudah memutuskan melepaskan. dan bila terjadi pastilah aku sendirian yang akan menyesal pula, karena ya saudara-saudara, aku sudah mencintainya. dan itu banyak. ga tau sebanyak apa. aku yang mecintainya, biarlah itu jadi urusanku. Bagaimana ia terhadapku, biarlah itu urusannya.

berat. eman. sayang buat melepas sesuatu yang luar biasa sepertinya. aku belum rela. aku egois yah?!
aku belajar banyak darinya, dari kisah kami. maka semakin beratlah aku membiarkannya hilang dari pandangan. yah aku hanya berharap ada satu atau dua hal yang ia pelajari juga, dapati dalam bersamaan kami. biar impas. biar seimbang. simbiosis mutualisme.

walaupun mereka ilang lebih baik menyesal diawal daripada di belakang dan tambah kesakitan, aku tetap masih memilih bersakit-sakit dengan isi kepalaku yang selalu kacau meracau tentangnya. tentang cemburuku pada si dia dan dia yang bertemuinya, pada motornya ang menemani harinya kemanapun, pada anak-ank kucingnya yang ia biarkan peluk elus dan manjakan biar lelah kaya apa tetatp lucu, pada buku-buku dan layar hape yang selalu ia tatap, pada bantal dan gulingnya yang menjadi teman tidurnya. ah si bodoh ini sedang aneh, masa cemburu pada hal semacam itu.
biar! mereka bilang cemburu itu hanya untuk orang yang tak percaya diri, dan saat ini aku sedang tak percaya diri. aku cemburu pada isi dunianya, karena kurasa tak ada aku disana, padahal aku ingin sekali bisa ambil bagian disitu.

sudah lah intinya si bodoh ini sedang rindu dengan manusia menyebalkannya itu..
makanya kadang meracau sayang, bahagia, tapi detik bertikutnya bisa saja merutukinya yang menyebalkan lagi dan lagi. intinya yang dibahas tetep aja: Satrio, si biangkerok yang emang biangnya banget. ish.

bahkan dalam bete pun aku masih saja menyebutmu dengan panggilan 'sayang..'
yah aku tetap biarkan. itu akan jadi indikator besar sebenarnya. semarah apapun, tapi bila kata sayang memanggilmu, itu akan mengingatkanku lagi kalau benar, orang ini pernah aku begitu kasihi dan semoga saja kasih itu masih tersisa. bilakah nanti semua kata telah habis, tapi sayang itu masih ada. maka kau selamat abangku sayang.
tapi bila sebaliknya, seluruh alfabet lengkap, semua kata tersedia, tapi sayang itu sudah tak bisa kau raba. mungkin saat itu aku sedang berusaha mati-matian mematikan kamu jadi kesayanganku. biasanya sih gitu.

Tapi aku tak ingin berkhayal soal itu. negatif ah, hush hush!

Terimakasih abangku sayang, pernah mau denganku. dan kini, biarlah aku yang terus mau tahu tentang kabarmu.

ini sudah malam.
Aku rindu kamu! itu, akan selalu

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know