Pain of the past
"aku pernah di posisi itu dek. Hampir gila. Mikir sih pingin ke psikiater. Tapi duite pit."
Mahal banget yah mas?
"Ho..oh mbul"
Trus apa yang koe lakuin mas?
"Apa ya. Untuk sejenak, eh agak lama deh, menghilang dari peredaran. Karena ga ada yang bisa dilakuin selain nuntut diri sendiri buat bangun dan ngobatin lukanya sendiri..
Memang ada satu dua hal dimana luka bisa dicuekin, didiemin Ampe lupa, nanti juga sembuh sendiri. Tapi bukankah luka yang tak ditangani dengan benar akan menyisakan bekas luka di tubuh, atau malah berpotensi menambah penyakit rembet kemana-mana.."
Ah. Makasi mas Angga. Makasi sambutan hangatnya lagi. Makasi pundak dan telinganya..
Dan hari ini. Aku masih mengingat jelas percakapan Tempo hari itu.
Kalo Abang punya saran yang agak beda. "Dont give a fuck" katanya mah..
Haha. . andai bisa segampang itu yah bang.
Aku pun tau menjadi santai dan cuek jalan yang menyenangkan.
Dan entah. Aku sedang tak bisa santai. Aku kehilangan ketenangan ku..
Tapi aku paham juga. Bahwa semua sakit dan luka harus ditangani sebisanya dan sebaiknya, kalau memang luka ringan mau dibiarkan ya terserah. Tapi kalau ternyata tak ringan, bukankah harus selalu preventif dan siaga. Obati sebisanya, sampe sembuh kalo bisa. Karena luka yang dibiarkan berangsur-angsur menganga tanpa penanganan.. mungkin saja kering. Tapi selalu ada juga potensi bila terluka sedikit, luka itu akan semakin menganga dan berdarah kembali.
Dan aku masih dalam pengobatan kurasa.
Aku hanya sedang kehabisan obat.
Atau kurasa butuh bantuan medis. Tapi apa daya..
20tahun. Dan aku menghabiskan hidupku dengan banyak tanda tanya dan ketidakpuasan, semua tanya, luka, amarah yang berakumulasi dan terus menggunung.
Seolah beban dunia ada di pundak dan kepalaku. Aku pun tenggelam. Terkubur oleh segala pressure dan ekspektasi dunia.
Perlahan tapi pasti.
Aku kehilangan tawaku, aku kehilangan mimpiku, aku kehilangan senyum ku..
Aku kehilangan diriku sendiri.
And i lost..
Di kota ini. Aku membangun diriku lagi..
Aku belajar berdiri diatas kaki sendiri
Aku membangun istana dan lingkaran ku sendiri.
Aku mencoba menemukan kembali cahayaku lagi. Mengembalikan senyum tulus itu.
Ya. Aku mungkin si anak pendendam yang marah pada dunia.
Aku marah. Merasa dunia tak adil.
Dan aku menyimpan dendam tak tersentuh selama bertahun..
Aku tahu. Dibalik perangai kasar dan tingkah sok tua ini. Hati kecilku masih anak kecil yang haus akan perhatian dan kasih sayang.
I fill my head with epic story.. bubble of happiness..
I yearn for it. The love, the shower of sweetness, my own fairytale.. hoping that somewhere in the way i found my true happiness, Someone who would swept my foot of the ground and being me to my happy ending..
See..
How childish and naive i am.
Im grateful of your presence in my life babe..
I appreciate it really..
But deep down.
My little and fragile heart still yearning my own fairytale. That i know you dont bring with you..
Aku bersyukur, ketemu kamu, orang yang selalu buatku ga jadi lemah dan terus berubah, ga berhenti berusaha..
Aku belajar banyak dari kamu lelaki hebatku.
Maaf kalau masih lemah.
Aku akan baik-baik saja.
Aku akan berusaha baik saja..
Dan maaf juga kalau aku masih berharap lebih dari seorang kamu.
Aku pun bertanya tanya.. kebohongan ku pada diri sendiri itu saat merasa lelah bertahan ataukah justru saat mencoba bertahan padahal sesak dan perih banyak. Padahal banyak orang yang mungkin lebih mampu dan mau membahagiakan aku sendiri..
Pada akhirnya aku akan menemukan jawaban yang tepat bagi diriku sendiri. Obat yang manjur buat semua luka itu.
Akan.
Aku masih mencari itu.
Aku takut ga ketemu.
Tapi aku pernah dengar, saat ada ketakutan.. justru itulah. Berikutnya pasti berhasil.
Aku yakin. Aku akan menemukannya..
Comments
Post a Comment