Midnite babbling
23.00
Aku baru saja merebah badan diatas kasur.
Pulang ke kosan, bath-night activity, melucuti satu persatu pakaian di tubuh, dan melambung ke atas kasur kamarku sendiri.
Bukan kasur busa, bukan juga sering bed yang empuk memang. Hanya sebuah kasur kapuk diatas dipan kayu lapuk berukuran single. Tak apa, itu saja cukup.
Magnet gravitasi yang sudah ditiduri 3 tahun lebih sejak pertama tinggal di kota ini.
Badan lelah. Mata lelah. Dada dan perut nyeri. Kepala berat. Batuk darah tak hentinya.
Tapi lagi-lagi masih sulit terpejam.
Padahal raga sudah begitu payah.
Ayang bilang aku harus fokus pada kesehatanku.
Tapi alas. Aku malah tak setuju..
Memikirkan penyakit cukup sekedarnya saja, tak perlu dibanyakin. Nanti malah stress pusing sendiri.
Aku malah bosan sakit terus begini.
Itulah kenapa aku membiarkan saja imajiku liar. Membaca banyak-banyak, main game banyak-banyak, gawe ini itu, memikirkan hal-hal remeh hingga keberatan buat kadar otakku. Ahahaa..
Anything for distract me lah.
Kemarin. Kemarin banget.
Berbulan lalu lah.
Namanya sering kali ku sebut dan ku bangga di selipan pembicaraan ku dengan siapa saja.
Bahkan sebelum ia menggenggam hatiku.
Saat berbincang dengan si ini dan itu di masa pdkt yang lain. Aneh ya malah kata-kata dan idenya yang terngiang dan jadi bahan pembicaraan ku. Ah Abang memang telah meracuniku.. dan semua itu tak sengaja. Tanpa sadar.
Kemarin yang lalu banget..
Membayang dan memikirkan tentangnya adalah part menyenangkan yang favorit dan selalu ku sediakan di sela hariku yang kadang membosankan, kadang menyebalkan, kadang pedas. Mengenang sosok dan hadirnya menjadi bumbu pencerah dan pengobat lelah dan luka yang menyenangkan. Moodbooster.
Atau di sela hari yang menyenangkan dan suka, aku ingin ia jadi orang pertama yang ku bagi cerita atau kabar menyenangkan. Entahlah. Aku ingin dia juga bahagia kali ya..
Membertemuinya, mendengar suaranya atau namanya disebut, sekedar melihatnya dari jauh. Ah itu sudah mencerahkan hari. Obat segala rasa lelah ku sudah tersedia fikirku..
Ada cerah mata yang bersinar tiap melihat, rasa hangat yang menjalar di dada. Biarpun aku tak tahu atau selalu menampik apa maknanya kala itu.
Tapi itu kemarin.
Kemarin sekali..
Dan aku hanya bisa mengenangnya dalam rindu yang mengikis.
Mungkin lama dan bosannya sakit ini sudah membuat eror otakku. Semakin ngaco dan irasional.
Atau ini memang fase wajar yang kan kita jalani, seperti katamu waktu itu : "ntar juga abis 3bulan, bosen dan males ."
Entahlah.
Aku tak punya jawabnya.
Aku terlalu malas mencari tahu. Dan mungkin di satu sisi, aku takut akan jawabannya..
Batukku makin keras.
Bercak darah yang muncul di dahak yang keluar pun makin banyak.
Ah kan, akunya yang lagi ga sanggup mikir lurus kali ya..
Atau emang sebenernya sedang ada yang salah. Aku gatau.
Belakangan ini kamu muncul di depan mataku. Tapi aku lupa ingatan apa yang ingin kuucap.. ingatanku sedang kacau.
Yang kutahu, makasih udah nyempetin nunjukin khawatir biar sedikit, menemani ke dokter dalam kepayahan ku yang senantiasa ku kabutkan ini.
Makasih.
Kamu satu-satunya yang ku percaya ngeliatku payah. Saat sobat-sobatku yang lain memang sedang tak ada waktu, dan aku paham. Ini waktu yang sibuk dalam setahun.
Maafkan bila kerap merepotkan mu sayang.
Maafkan,, saat kau ada, aku seolah selalu ingin di dekatmu, mengais sedikit perhatianmu, obrolan apapun, anything as long i could be with you.. walau ga penting kebanyakan.
Maaf kamu terganggu, mengusikmu.
Kamu tampak tak nyaman sayang. Terganggu kah karena ku?
Maaf.
Aku yang egois ingin kamu, selalu sama kamu. Minta waktu dan perhatian khusus kamu. Seolah aku special.
Hanya mikirin diri sendiri.
Berharap kehadiranmu bisa nularin lagi energi positif. Buat nguatin aku lagi. Nenangin penatku. Meredakan gundah dan nyeri sedih. Nyemai semangatku lagi saat lagi lelah dan payah seperti ini. Karena aku pun mengamini fikiran yang sehat akan menstimulasi tubuh yang sehat, jadi mungkin membantuku sehat lagi. Jiwa pun sehat.
Aku egois yah.
Maaf.
Aku ingin mendengar suaramu malam ini. Sedikit saja lagi. Menaikan ku yang sedang patah ini.
Tapi boro-boro. Kamu kan tak ada lagi, tak pernah mau lagi pula berbagi kesahmu lagi..
Aku hanya mengerjapkan mata. Menarik nafas dalam.
Membanting ponselku entah kemana...
Mataku berair, semoga cuma karena sakit ku saja. Bukan karena kamu.
Belasan menit berlalu.
Ada suara berdering.. aku buru mencari ponselku. Dalam hati aku pikir itu kamu sayang. Tapi mari liat namanya..
Di layar handphone ku?
Foto lawas dengan wajah familiar. Sejak kapan aku menyettingnya aku tak sadar.
Foto beberapa tahun lalu.. aku dan a' Adan saat naik salah satu wahana di Trans studio.
Wajahku tampak sangat sumringah disana, sambil menikmati gulali di tangan kananku. Adan disampingku di belakangku.. tangannya tengah merangkulku. Dan wajahnya hanya tampak samping karena sedang mengecup kepalaku.
Oh dia masih memasang foto itu jadi gambar email-nya? Oh.
Padahal udah lama banget ya. Jaman-jaman masih belum berkerudung sehari-hari juga. Noh buktinya rambutku yang agak pirang kecoklatan jelas banget.
Yah. Dia lagi-lagi nelfon.
Seperti kadang di malam lainnya. Mungkin baru rebahan mau istirahat atau sedang rehat jam jaga.
Sama seperti saat aku bercerita tentang lelaki lain di masa lalu ku. Aku tak banyak bercerita. Dan aku pun tak kan menjelaskan banyak obrolan ga penting kami di tulisan ini.
Receh. Yang notabene hanya ngebahas hari ku dan harinya.. kekonyolan dan kecapaian yang kami tertawa kan saja. Mencoba membenarkan apa yang di masa silam sempat menjadi salah hingga membuat berjarak. Tentang keluargaku juga keluarganya. Teman-teman kami. Tentang eksperimen gagalku mau bikin masakan buat Abang, tempat-tempat yang ingin ku kunjungi di masa depan, plan-plan yang ku rancang untuk di realisasikan hingga akhir tahun depan.
Tuh kan ga penting.
Hal-hal yang tak lagi bisa ku bagi dengan lelakiku sendiri.. ironisnya malah kubagi dengan Adan. Ah aku pun pilu.
Sudah ah. Semakin malam.
Terimakasih semesta.
Terimakasih dan maaf juga kang Adan untuk hal-hal yang sudah lewat dan yang sedang ataupun kamu harap terjadi kelak.
Terimakasih bang Rio, karena membuatku terus tak berhenti berusaha.
Selamat malam.
Comments
Post a Comment