Foolish hope
Abang..
Lagi-lagi malam ini aku terjebak dalam fikir tentangmu lagi..
Kamu seperti ada dimana-mana. Saat sibuk dan banyak aktivitas, aku mengkhawatirkan kamu, apakah kamu sudah makan, bagaimana kabarmu, apa kamu baik saja? Kamu bakal marah kalau aku mengabaikan makan dan kesehatanku sendiri..
Saat istirahat dan sendiri. Aku bertanya-tanya apa yang kamu lakukan sekarang. Meremang lagi sebenarnya harus apa lagi aku saat ini, kita sebenarnya apa, aku mencintaimu tapi yang mana egoku sebenarnya, menolak untuk pergi dan ga nengok lagi, atau memilih diam seperti ini adalah jawabannya. Aku gatau.
Aku sungguh ingin tahu sayang..
Siapa aku sebenarnya bagimu?
Apa kamu pernah sedikit aja mencintaiku?
Apa pernah aku jadi sesuatu yang kamu anggap berharga dan berarti bagimu?
Johar pernah peringatin dulu.. "lelaki ya gampang aja fit bilang ini itu, suka pengen serius atau bla dan bla dan bla.. jangan mudah percaya! Aku ga mau kamu terluka lagi.."
Apa aku bodoh terlalu mudah percaya dan memberi kesempatan padamu sayang?
Aku segampang itu yah, dibodohin. Toh ternyata aku salah menilaimu.. apa semua ini kepalsuan aku ga yakin lagi yang mana harus dipercaya..
Aku merasa bodoh dan malu pada diriku sendiri, karena pernah dengan desperate nya telanjang di depanmu. Saking aku pengen tahu kejujuran dan wajah asli ku kaya apa. Aku jadi gampangan banget ginih..
Aku yang tertutup dan punya banyak ketakutan dan trauma di hidupku, ketemu lelaki logis, positif tapi ternyata egois kaya kamu. Dan aku berusaha apapun yang ku tau, aku mau jadi seperti yang kamu inginkan. Terbuka.
Tapi ini sulit sayang, saat aku belum menyelesaikan ketakutan dan trauma ku juga. Tapi kamu ga mau tahu. Yang kamu tahu adalah kamu benci direpotkan dengan insecure ku. Dimatamu menjadi terbuka itu adalah keharusan, sewajarnya manusia. Tapi kamu lupa bahwa manusia itu terlahir unik dan saling berbeda. Bahwa setiap individu punya sejarah masing-masing yang akhirnya membentuk mereka jadi seperti sekarang.
Kamu yang hidup dalam keluarga yang utuh dan disayangi semua orang sih tau apa tentang rasanya hidup broken home dan terbiasa akan ditinggalkan dan dikhianati. Kamu tahu apa sih sayang..
Atau mungkin akunya aja yang terlalu lemah. Dan belom bisa sehebat kamu. Maaf.
Tapi harusnya aku ga melulu harus minta maaf telah jujur dan menjadi diriku sendiri. Dan begini akhirnya. Aku gatau lagi harus apa, kamu minta aku jujur dan terbuka, tapi kamu malah terus ngejudge dan mengkerdilkan ketulusan dan upayaku.
Aku pingin pergi jauh darimu Abang.
Gausah ketemu dan ngehubungin kamu lagi.
Karena itu mungkin akan lebih sulit bagiku dan memaksaku melupakan dan membunuh apa yang aku punya denganmu..
Karna aku kehilangan pijakan ku. Aku di bumi, tapi kakiku sedang lelah karna terlalu lama berdiri kebingungan di tengah jalan begini.
Entah kepala atau hatiku.. mereka udah berkata, ya mungkin baiknya seperti ini, kita jalan masing-masing, toh kita ga mungkin terus bertahan.. aku akan selalu marah kecewa dan sakit tahu hubunganmu dengannya. Aku ga akan terima selalu jadi nomer sekianmu..
Kesendirian ini membuatku berfikir banyak..
Selama ini tiap ada yg nanya cita-cita..
Aku gatau mau jawab jadi profesi apa, karena aku udah terlalu dini mengubur mimpi-mimpi ku ..
Aku biasanya jawab 'bahagia' . Aku hanya ingin bahagia. Tapi definisi bahagia ternyata masih terlalu luas.
Dibalik itu aku sadar, luka masa kecilku lebih besar dari yang kutahu.. kehilangan. Ah tidak, ini bukan kehilangan. Bagaimana bisa menyebut kehilangan ketika saat itu aku tak tahu apa yang hilang. Kegagalan fungsi keluarga bagiku menghancurkan aku.
Dan hal yang paling aku rindukan. Kasih sayang keluarga. Ternyata itu mimpi besar yang ku kubur juga.
Aku segitu terluka. Hingga begitu takut berfikir akan dipaksa punya keluarga sendiri satu saat. Lalu lelaki ini dengan naif dan optimisnya benar harapan dan mimpi ingin menikahi ku. Aku takut seketika. Tapi juga excited dan senang. Dan aku dengan bodohnya percaya dan menggantung harap duluan..
Aku akhirnya tak setakut itu lagi. Thanks Abang..
Hingga aku pernah membuat jalan damai.. bila setelah tahun ini usai dan ia masih di sampingku, dan niatnya masih tak berubah, then why not? Aku akan melakukannya. Berhenti dan membangun rumah baruku sendiri dengannya. Keluarga kecilku sendiri, dengan Fitri atau Satrio kecil yang kelak akan ku bawa bertualang menikmati dan mensyukuri karunia Tuhan. Mengajaknya menikmati hotel 5 juta bintang, kita stargaze liat milkyway dan konstelasi bintang lainnya.. dan kamu akan membawa dan mengajarkan renang, menjadi manusia yang baik, dan laaa laa laa.. mbuh apalagi.
Tapi bila akhirnya, shit happen. Dan semua selesai diantara kita.. mungkin sudah dulu. Aku akan kembali ke rencana awalku. Mungkin menikah diusia nanti-nanti aja, jadi volunteer atau internship abroad. Atau gausah nikah, aku mau ngangkat anak yang banyak, dan ngebesarin, nyiptain safehaven kami sendiri.
Ah betapa aku desperate akan kasih sayang ternyata. Aku menginginkan bisa punya keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang diantara masing-masing anggota keluarga. Dan saat kamu menawarkan mimpi. Aku dengan bodohnya langsung percaya dan sekarang masih berharap.
Ah bodoh.
Dan mungkin biar begini aja.
Que Sera sera yang sebenarnya.
Aku harus berhenti kepoin kamu. Khawatirkan kamu.
Pun aku dah ga berhak marah atau kecewa karena selalu dinomorduakan olehmu, juga atas kedekatanmu dengannya..
Ku dengar ia ingin menikah di tahun depan. Sebelum wisuda seperti yang kamu bilang? Kamu bilang mau bantu wujudinnya..
Aku bertanya-tanya apakah kamu mewujudkan menjadi mempelai lelakinya juga Abang?
Akankah aku segera melihatmu naik pelaminan, disaat aku masih begini saja, belum lulus dan belum siap meninggalkan kota ini dan banyak kenangan berarti di dalamnya..
Ah aku berfikir terlalu jauh.
1:21 Abang. Dan aku belom bisa tidur.
Aku ingin bertemu kamu. Mendengar suaramu. Menghirup aromamu. Membiarkan duniaku beralih sekali lagi. Inikah yang dikatakan rindu? Aku tak tahu. Tak ingin mendefinisikan nya juga.
Aku yang masih terus ingin tahu kabarmu. Sedang mencari cara untuk segera belajar menerima keadaan. Belajar melepaskan. Mengikhlaskan, merelakan kamu pergi.
Sudah pulang ke rumah dengan selamat kan kamu. Aku tak berhak lagi tau kabarmu. Pun aku tak tau harus berkata apa padamu.
Ku harap aku segera bangun.
Membiarkanmu dengan dirimu sendiri lagi. Tak lagi menghubungi mu.. tak menjadi seperti orang bodoh karena jatuh cinta sendirian lagi.
Selamat malam Abang.
Jaga diri dan kuatlah selalu dimana pun kamu berada..
Comments
Post a Comment