Holding breath

Sabtu malam, 21 Oktober 2016 .

Emosi ku agak redaan setelah keliling kota sendirian, mandi sholat dan ketemu beberapa orang.

Maghrib, Irfan udah memanggil-manggil minta dijemput..
Sabar pan sabar, ane datang..

Dan disana aku melihatnya. Ia dia, lelakiku yang saat itu sangat memuakkan juga kurindukan..

Ditengah perjalanan ka asti meminta cau.. so, cau lah aku nungguin Kaka asti di sekre.

Saat sebelumnya Abang bilang mau nongkrong dulu, ya aku pikir masih lama jadi ga perlu ketemu dy lagi. Tapi ternyata ia cepat datang.

Ah abaang..
Di satu sisi amarah dan kecewa ini sudah menyakitkan. Tapi di sisi lain aku masih begitu takut dan enggan melepaskan sesuatu yang hebat seperti kamu.
Tuhan beri kekuatan dan keberanian..
Tapi aku harus bicara, keluarkan malam ini..
Tak lagi bisa tinggal diam, diamku sudah menyiksaku, yang a da malah memurkakan teman-temanku..
Bagaimana hasilnya biarkan lihat saja, semoga aku kuat dan ikhlas..

"Ada apa?" Katanya.

Aku langsung memberi hapeku dan meminta nya menyuruh hapus seperti yang biasa ia lakukan padaku. Aku tak nyaman. Ini menggangguku.. aku berasa tak dihargai. Dan alangkah tidak menyenangkan untuk terus diingatkan semua orang bahwa aku hanyalah nomor dua bagimu. 'oh bang Rio pacarnya Caca..'
Fuck lah ay..

Aku tau aku egois hanya melihat dari kacamata ku. Tak melihat lebih jauh tentang kamu. Tapi excuse ku, bahkan kamu tak pernah lagi membiarkan ku tau apapun tentangmu lagi.. you left me in the dark. And i get lost in it..

Dan kamu berbicara.. panjang.. bagaimana kamu saat ini. Krisismu. Kebutuhanmu akan penemuan jawaban oleh dirimu sendiri, tapi sayangnya aku masih aja sering menuntut banyak hal darimu..

Ah Abang ku sayang. Maafkan aku. Gadismu yang tak tahu apa-apa ini. Yang tak menyadari sedang seberapa jatuhnya kamu dan malah melulu berkutat dengan egonya sendiri.

'aku ingin sendiri'

Kata-kata itu terngiang di kepala ku sayang. Dan itu semakin meneguhkan hatiku saat itu, bahwa kita harus istirahat sejenak. Break. Untuk sama-sama saling berbenah hidup masing-masing kita..

'biarin aku sendiri dulu fit, kamu bisa?'

Aku tak tahu bisa apa ngga sayang. Ngga tahu. Sulit, tapi harus. Aku harus bisa. Pun aku sudah tahu cepat atau lambat aku harus berani pamit diri untuk menyendiri lagi, tapi selama ini aku yang tak tega dan merasa bersalah bilakah tak membalas tanya atau mengabarimu barang sejenak. Aku tak ingin membuatmu khawatir, padahal entahlah kamu pun pernah khawatir atau ngga..

Aku tahu diriku. Yang haus akan kasih sayang dan perhatian, karena tak mendapatkan banyak selama ini. Maka aku pun memaetyrkan diri, aku memilih membagi kasih sayang ke orang lain. Walau Trust issue dan agak phobia sosial, aku terus berusaha. Dan ya biasanya seperti ini, aku mencintai begitu intens. Begitu banyak..

Kini biar kita saling berbenah saja. Aku dan diriku. Kamu menata lagi hidupmu.

Aku bersyukur kamu pernah mau padaku. Dan maafkan bila kini dan seterusnya aku masih selalu ingin tahu kabarmu.

Aku belajar banyak dari kamu, dari kita. Terimakasih sayang.

Mungkin tak akan begitu kentara bedanya selain aku yang benar harus menjauh darimu. Biarkan kamu di ruang hidupmu sendiri. Belajar menahan diri untuk menjawab segala kekhawatiran ku alyang selalu ingin tahu kabarmu.

Sayang..
Ayaang..
Aay..

Apa ini sudah benar-benar berakhir sayang?
Untuk selamanya?
Atau kita hanya sedang mengambil waktu istirahat sejenak saja ?
Aku tak tahu sayang.. dan aku tak tahu, aku pun takut akan jawabannya.

Apa aku tak berhak lagi tahu kabarmu?

Lalu siapa lagi yang akan kupanggil dengan 'sayaang lagi, beb?
Seolah aku punya sesuatu atau seseorang kesayangan yang begitu berharga..

Apa aku masih boleh memanggilmu 'ayang?'
Apakah akan lagi ku dengar 'ay' saat kamu mengapa ku..

Ah sepele dan lebay mungkin. Tapi menyayangimu adalah kekuatanku juga. Buatku merasa menjadi manusia yang berarti dan pingin berusaha yang terbaik buat kamu bahagia. Menginspirasi. Biar kamu dan semua orang yang katanya peduli padaku pun bangga akan ku.

Sudah 'sayaang jangan khawatirkan aku.
Aku tak apa.
Aku tak akan dan tak mau lebih jatuh lagi dari ini.
Pun Jangan, bilakah hanya untuk melihat kau memaksakan diri disampingku. Aku tak akan suka. Itu akan sangat menyakitkan ku. Memaksamu bertahan saat kau tak menginginkanku.

Maka pergilah.
Kamu bebas
Sekarang kamu tak perlu terbebani oleh tanggung jawabmu akanku. Kamu kembali menjadi makhluk bebas seperti inginmu..

Terbanglah sayang.
Berbenah diri dan hidupmu.
Aku ingin lihat kamu bangun dan hidup lagi. Jadi orang yang lebih baik. Bangun dan ga takut mengejar apa yang kau inginkan di hidupmu, tak sekedar stay back dan pasrah pada sistem.
Kamu yang ku kenal dan ku banggakan harus lebih baik lagi. Jadilah besar. Jadilah tinggi Abang. Kamu bisa..

Aku berusaha menyingkir dari langkahmu.
Menjaga dan mengawasi mu dari jauh saja. Memeluk dan menguatkan mu lewat doa saja.

Ini berat. Berat bagaimana caranya menghilangkan kamu dari kepala dan hatiku.
Bagaimana berhenti menghubungi dan mengabarimu.. bagaimana berhenti khawatir dan ingin tahu tentang dirimu.

Tapi ini harus.

Menahan saja.

Karena tahu. Menghilangkan kamu dariku mungkin tak bisa, sangat sulit. Tapi ikhlaskan dan tahan semua yang berlebih itu.

Terimakasih untuk banyak hal sayang.
Terbanglah lelaki yang ku banggakan..
Jaga diri kamu baik-baik yah.

Aku sayang kamu

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know