2014
Desember 2020..
Ditengah pusing merekap dan audit data keuangan perusahaan baru yang sedang ku rintis bersama rekanku.
Tetiba saja dia bergurau..
1..2..3..4..5..6..
"Kamu pernah sakit hati, terluka dan kacau banget Enam tahun lalu ya, fit?", Tanya pak Kantong.
"Ah.. Enggak juga..", Ujarku tanpa fikir panjang.
"ini jelas banget kok gini.. Cara kamu nulis dan titik kamu berhenti"..
Kekeuh si bapak bos ga ada kerjaan yang hobi nganalisis tulisan tangan orang lain itu.
Hmm..
Enam tahun sih berarti tahun?
"2014"
Hmm.. Ada sih momen, tapi kalo dipikir lagi sekarang, ga parah-parah banget kok.
Udah ga kepikiran, apalagi rasa sakit apa-apa..
"Ya sekarang, Dulu koh.." pungkasnya,
Akhirnya aku berhenti menulis, menoleh kearahnya dan mencoba mengingat kembali ke belakang.
Memorabilia,
Aku hampir tak ingat. Sudah lama tak ku fikirkan makanya lupa mungkin.
Memori kesakitan terbesarku beberapa tahun belakangan lekat oleh keputusasaan dan sakit bercampur rindu pada mantan kekasih sekaligus partner Intelegensi juga orang yang kuanggap Twin Flame.
Orang yang frekuensinya paling sinkron, mengajarkan banyak perubahan.. Sekaligus kepergiannya meninggalkan duka dan luka yang paling mendalam. Bahkan bertahun setelahnya.
aku masih trauma.
Tak lagi percaya akan mencintai yang lepas,
apa adanya
dan percaya akan loyalitas abadi.
Bagiku.
Semua ada kemungkinan masa kadaluarsanya.
Semua berawal punya kemungkinan berakhir.
Kecuali manusia itu cukup keras kepala untuk bertahan.
Atau tuhan sudah bikin jalan berbeda, Twist dalam skenario yang ia tulis untuk makhlul ciptaannya yang satu ini.
Malam ini, selentingan tentang 2014 memaksaku flashback. Ke era aku masih Maba, polos, tampak hyper di luar untuk menutupi gelapnya dunia dan hatiku.
Hingga di satu titik, si Introvert-extrovert ini diajak nemenin Motret Bintang malam-malam.
Nemenin nyari bintang di langit Utara Purwokerto, Baturaden.
Aku yang pecinta bintang, langit dan alam. Selalu berandai bisa menjelajah dan menyentuh dunia yang lebih luas. Stargaze..
Dan ia?
Lelaki yang saking magernya hunting Milkyway sendirian makanya minta nemenin temen cewek yang baru dikenalnya..
Asyik dengan kameranya.
Mata fokus pada layar lensanya.
Mencari fokus agar bisa mendapat cahaya dan kenampakan yang bagus di Fotonya. Dan Video Time-Lapse malam berbintangnya..
Sepersekian kali kami menghabiskan malam. Berdua. Kadang bertiga. Kadang bersama lainnya.
Tapi semakin rutin aku. Menaninya..
Berangkat sore atau malam, pulang menjelang pagi.
Lalu kita sarapan di tukang bubur langganannya depan kampus pusat.
Sebelum akhirnya ia mengantarkan ku pulang ke tempat kos, dan kita melanjutkan aktivitas siang hari kita masing-masing. Kuliah. Organisasi. Main.
Tapi saat senggang, saat lapar, saat bosan. Tetiba kita sudah boncengan saja entah mau kemana, makan apa, dimana saja..
Simple.
Pertemanan yang simpel. Hubungan Simbiosis mutualisme antar dua insan manusia yang saling membutuhkan dan menguntingkan.
Lalu Dieng Tiba.
Sebuah Event Hunting Milkyway bersama teman-teman dari komunitas fotografer 'Landscape Indonesia'
Dan...
Siapa lagi yang akan ia bawa, dan rengek agar ku mau ikut?
Yap. Mamad. Itu sapaan teman-temannya..
Muchammad Sigit Bachtiar tepatnya.
Nama panggilan yang tampak gesrek dari nama indah karunia orang tuanya.
Di Dieng aku mulai jatuh cinta.
Pertemanan platonis itu mulai membuka mata dan pintu hatinya.
Ia, Mas Mamad.
Laki-laki yang sekalipun berakhir menyedihkan, harus selalu aku beri applause terimakasih.
Terimakasih telah membangunkanku dari tidur panjang.
Dari gelap gulitanya jiwa dan fikiran akan duniaku selama ini.
Ia adalah cahaya pertama yang berhasil masuk lewat jendela.
Dengan tengil, cahayanya masuk ke ruang gelap di hidupku. Dan menerangi atau setidaknya memberikan tampak atas apa-apa saja yang ada dan kosong dari ruang ku.
Ia menggetarkan duniaku.
Maafkanlah, aku mulai tidak bisa platonis.
Ia mengenalkanku pada cahaya. Membuatku sadar apa-apa saja yang kurang dari hidupku.
Ia mengenalkan dan mengajakku mencintai Folk. Sembari memainkan gitar, aku membayangkan sembari menyanyikan
"Dan menarilah.. Hariku.. Diatas jalan berbatu. Lewati semua sepi ku dan sendiriku.
Kau tetap indah, malamku. Jari jemariku menyentuh.."
Kau membuatku ingin menari.
Di tengah malam.
Di tengah hutan.
Di atas padang rumput di perbukitan.
Di pinggir danau sikunir.
Di atas jalan berbatu.
Dan kisah kita menjadi rumit jalurnya.
Aku yang bodoh dan pengecut, mengetahui banyak kawan kita yang menyukaiku. Memutuskan mengambil jalan pintas dengan memacari orang asing dari Yogya. Dari luar area bermain kita. Dari luar limgkaran kita.
Aku pengecut. Atau juga terlalu malu dan sadar diri bilakah kamu tahu rasaku tak seenteng dulu lagi. Aku berusaha menepisnya, membawa kita tetao sebagai teman stargazing. Teman bintang. Toh aku tak percaya kau punya rasa padaku, amd.
Tapi nampaknya kamu tergugah. Aku memituskan memacari orang lain, kamu terganggu. Kamu menjadi semakin posesif akan waktu dan duniaku.
Dari beberapa kali dalam semimggu. Menjadi tiap hari. Tiap malam. Tiap pagi dan siang. Dan sore.
Di situ ada aku, kamu ada.
Aku kekasih orang lain, tapi kamulah manusia special dan selalu adanya aku.
Tak banyak fikir, sebulan berselang kuputuskan kekasih asing asal yogya itu. Ku bulatkan tekad untuk fokus menemanimu.
For a while, everything Bliss..
But then,
I realize..
All of it, is a lie he tell and show in front of me.
Hakikatnya bukan aku orang yang ingin ia tuju.
Aku salah prasangka.
Atau ia yang jago berpura-pura memainkan harapan dan perhatian.
After a kiss, he tell me..
That he doesn't have interest to get in relationship for a while. He enjoy what he is. What we are. Two Single people who enjoy each other time.
Glegh.
Rasanya kaya disambar petir. Kaya ada samurai yang perlahan ditancapkan di dadaku yang rentan saat itu.
Sejatinya kami hanya Teman tapi Entah..
Tak pernah ada kejelasan dari tingkah dan laku kami dalam beberapa bulan kala itu.
Tak ada makna tertentu mengapa aku dan ia harus menjadi kita.
Dan itu aku merasa hatiku patah.
Aku dan Sigit, sejatinya hanya sebuah kisah dari Kasih yang tak menjadi.
Tak sempat jadi..
Tak berbentuk dan mungkin memang tak ada niatannya untuk menjadi.
We promise each other to stay by and continue be the best stargaze friend we are.
But,
Once again. It's a lie.
Mamad orang pertama yang membuka juga mematahkan hatiku.
Ia pula yang mengajarkanku ketulusan melepaskan, mencintai dalam diam asal orang yang kita kasihi bahagia.
Sekali lagi, ia pun mengajari.. Bahwa kita tak bisa berteman dengan orang yang pernah dan sedang kita pendam rasa padanya.
Entah rasa bersalah, malu, ego, atau apa..
Perlahan ia menghilang setelah itu.
Sosoknya yang mengisi hariku 24 Jam sehari, 7 hari seminggu. Perlahan lenyap.
Lalu aku tak pernah lagi bisa mengintip barang bayangannya sekalipun.
Ia hilang. Seolah tak pernah hadir dan mengaduk warna dalam duniaku.
Dan aku kosong.
Hari berganti, bulan berjalan.
Tiga bulan sejak perpisah jalan kami. Kudengar ia mulai berkencan. Dengan seorang Mahasiswa Baru, junior di Mapala kampusnya.
Selamat!
Getir.
Hambar.
Tapi aku mencari kaca.. Tak kutemukan titik air mata. Tidak.
Aku terlalu menyayanginya dengan tulus mungkin. Bahagianya adalah bahagiaku. Walau bukan aku yang disampingnya ataupun membuatnya bahagia lagi.
Walau bukan aku lagi teman makan, ngawur, stargaze dan motret alam dan bintang di dunianya lagi.
Aku telah lenyap dari dunianya. Hilang tak berbekas. Seiring hadirnya perempuan baru di hidupnya.
Dan 2020, baru-baru ini kudengar berita pernikahan mereka. Selamat Mamad dan Erni. Selamat menua dan menari bersama di bawah hujan dan kerasnya alam kehidupan..
Mamad. Aku lupa bagaimana sebelum Satrio, kamu adalah luka terlama dan getir membara yang meninggalkan kehampaan dan membulatkan tekadku untuk menjombo, memutuskan fokus pada diri srndiri. Menolak berpacaran, lelaki manapun yang mendekat.
Akh lupa Satrio, Dua tahun setelahnya.. Sebelum kamu memasuki hidupku. Hati, Jiwa dan Duniaku tertinggal di 2014.
Comments
Post a Comment