Remomabilia 2016
Ah,
moodku sedang bagus malam ini.
Memang benar,
melihat dan mengunjungi panorama alam selalu mampu jadi obat penenang dan booster dari segala penat fikir, tubuh dan hati.
Ah, alam..
selalu mampu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi.
Berbicara soal jatuh cinta,
maka izinkanlah aku sekali lagi bercerita tentangnya..
lelaki baik yang pernah..
menguasai hati dan jagat pikiranku, memenuhi ruang-ruang duniaku.
Rio Satrio Hapsoro.
Ah aku tak tahu apa makna namanya..
Lelaki yang kutemukan sosoknya di salah satu ruang sudut dimensi waktu kala itu
Alam berkonspirasi entah apa,
tapi tiba-tiba saja menjadi lebih ngeh akannya.
Dan satu pertemuan biasa menjadi terbiasa, hingga entahlah tiba-tiba saja menjadi tak lagi biasa.
Yang kutahu awal tentangnya, hanyalah sekedar : "oh mungkin dia alumni", "temennya mas dan Abang yang ini dan itu"...
dan oke,
Aku cukup respek dan segan akannya
osok yang tampak keren,
asyik,
seru
dan berwawasan luas
ya karna doyan baca buku.
Dan sudah aku tak pusingkan, toh saat itu ada makhluk lain yang sedang ku beri fokus perhatianku.
Lalu patah hati itu datang.
Dan aku sempat terhenyak.
Seketika teman sekitar seakan menjadi terlalu baik, memberi wajah dan laku simpati.
Ah aku benci dikasihani!
Ingin pergi, tapi...
ada tanggung jawab yang memintaku kembali bernaung di ruang sekre ini.
Maka aku pun tak kembali.
Tak peduli betapa henyak hati setiap kali melihat nya bersama wanita lain, atau mendengar dan menyaksikan dentuman permainan instrumen musiknya.
Menjadi supporter setia di tiap aksinya memanjat.. aku tak selemah itu untuk pergi hanya karena lelaki macam dia.
Dan kamu disana.
Baik-baik saja.
Acuh tak acuh akan dunia seperti biasa.
Satu-satunya manusia yang ku sedang bisa menjadi normal biasa saja.
Dan itu obat mujarab bagi sakit hatiku kalau itu.
Kamu menamparku balik ke kenyataan, bahwa aku berhak mendapat perlakuan yang lebih baik dari orang yang lebih baik lagi.
Tidak melulu sebagai perempuan,
pasangan,
namun setidaknya sebagai manusia yang pantai dimanusiakan juga.
You bring me back,
my sense of normality.
Thank you.
Satu cerita berlanjut ke pertemuan dan percakapan yang lain.
Aku mendapat kontakmu sekedar untuk mengabarkan akan acara rafting yang mau kau ikuti waktu itu.
Tak ku maksud untuk mengejarmu.
Tak.
Justru aku sedang lelah dan ingin rehat dulu,
menikmati kesendirian lagi dan sekali lagi memfilter lebih baik orang yang masuk dalam hidupku.
Aku hanya sedang lelah bersesah.
Perbincangan panjang dengan mas wullu menyadarkan ku juga untuk..
"usahlah bersesah pada orang yang salah"
baiknya pergi, dan jangan menengok lagi kebelakang.
Ikhlaskan.
Dan
enough is enough..
aku pun memilih ikhlas.
Satu lagi ujung dari kisah sesah dan perbincangan itu,
aku tahu yang kubutuhkan bukan lagi lelaki bocah yang malah berujung membuatku tampak selalu jadi orang yang ngemong dan provide.
Aku butuh orang yang sejajar.
Memperlakukanku sebagaimana manusia,
bisa menjadi partner diskusi dan perjalanan yang menyenangkan dan seru,
Cukup tangguh untuk diajak berlari dan menembus badai,
Cukup bisa diandalkan untuk bersandar dan berlindung saat sedang lemah,
cukup baik dan lembut untuk membesarkan anak-anakku,
cukup dewasa untuk sanggup menopangmu,
Cukup hebat untuk selalu ku banggakan dan support di setiap langkahnya.
Comments
Post a Comment