A moment in time

A moment in time

Bukankah hidup memang tentang rangkaian gerak momen satu dengan lainnya yang saling terkait, saling bersinggungan, dan kita memang tak bisa menghidupinya seorang diri..

Lalu berbincang persoal waktu.
Sebuah misteri kata orang
Sebuah beban kata yang lain. Deadline.
Sebuah rekaman angka, kata yang lainnya..
Dan lainnya katanya..
Tak berhak membenarkan atau mempersalahkan.
Toh kita hidup di rentang waktu dan dimensinya masing-masing...

Lalu di sela persimpangan waktu itu aku membertemui orang-orang.
Kamu,
dia,
mereka.
Orang yang baik-orang yang tak melulu baik
Orang yang rapih-orang yang berantakan
Si pemalu - dan malu-maluin
Si pendiam, cuek, atau si pemberontak
Pesimist atau positivis atau oportunis

Dan semua ada masanya..
Akan ada waktu mainnya masing-masing

Dalam rentetan waktu, satu dua tiga bahkan puluhan orang bisa bertemu dalam waktu yang dekat.
Di hari lain, bahkan untuk menemukan satu orang terdekat pun amatlah sulit.

Maka ini cerita. Tentang sebuah kisah. Tentang masa. Tentang perjalanan.
Ketikanya semesta berkonspirasi mempertemukan jalan dua anak manusia. Aku dan lelaki itu, yang namanya bahkan masih terngiang samar di hati.

Namaku Fitri.
Gadis berusia belia tapi kadang berpampang sok dewasa. Perempuan biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa dari penampilan kecerdasan kekayaan.
Ia tumbuh dan besar oleh kealpaan kasih sayang sebuah keluarga. Ia besar lebih cepat, tapi juga manja lebih banyak harap. Pada masanya, ia pernah begitu berantak. Marah pada dunia, pada keluarga, pada Tuhannya.
Lalu ia mengasing. Menjejak kaki di perjalanan kota orang untuk mengenyam pengetahuan. Tuhan baik padanya. Tapi ia tak percaya. Dan si anak manja ini kadangkala tersesak dengan gelap dunianya sendiri.

Tersebutlah Satrio.
Lelaki biasa saja, yang usianya sudah matang. Tapi entah dengan kehidupan dan kemapanan materiilnya. Ia tak setampan para aktor. Tak sekaya bill Gates. Tapi sesederhana seorang biang kerok. Ia cukup. Cukup hebat untuk dirinya selama ini, untuk teman-temannya juga untuk seorang Fitri kala itu.
Tumbuh sebagai anak setengah Badung setengah baik. Memantapkan kaki di tanah bawor. Menjajal diri, hidup, pengalaman, pengetahuan, pemberontakan akan dunia. Mungkin di masanya, apa yang menjadi lingkar Fitri pernah ia lewatinya. Dan kini sekian belas tahun sejak pertama hadir di kota kecil yang silam membuatnya jatuh cinta, ia pulalah saksi hebat naik turun peliknya realita asmara.

A moment in time
We deserve to be happy
And just do it!
Together!
Fly!
Laugh!
Share!

Ada kala dimana rasa seolah dunia tak berpihak pada kita.
Ketika semua langkah dan jalan seolah tertutup palung dalam.
Dan kita akan bertanya-tanya akankah semua ini lekas berakhir, tapi kita lah yang jadi pemenangnya..

Kita terjerat ritme dan sistem manusia
Terstigma peluh suara masyarakat
Hingga kadang samar bahkan hilang dimana beradanya utuh diri
Tak mengenal lagi

Ketika selepas peluh butir keringat, mata lelah melihat dalam gelap sendirian. Fitri dan Satrio bertemu dan dijodohkan tuhan, untuk sejenak.
Biarkan mereka berdua,
untuk sebentar saja, merecharge semangat dan bahagia.
Mengecap senang.
Menggema harapan

Dan mereka bersama.
Seperti bentuk lain konspirasi semesta akan insan manusia.
Mereka tertawa
Mereka pernah berdekap. Saling menyeka. Saling bahu membahu. Pernah berbagi. Saling menginspirasi. Bermimpi meraih bintang bersama ke depan bersama.

Bliss

Kita terjebak fatamorgana oasis setelah melewati Padang gurun tandus yang terik

Fitri dan Satrio.
Seolah air segar dari Curug terdekat yang hijau, jernih .
Melepas dahaga yang membuncah.
Menyegarkan tubuh yang payah.
Teman beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Maka sebagaimana hakikat hidup yang berarti perpisahan.
Maka memang tak ada jalan lain selain kembali melanjutkan langkah masing-masing, yang ternyata memang bukan untuk kearah jalan yang sama.

Waktu tak mau menunggu
Kita terus beranjak dewasa.
Umur bertambah tua.
Dan kita memang harus saling melanjutkan langkah.

Kamu sudah lebih baik setelah beristirahat yang nyaman bukan ?
Aku juga sama .
Mungkin awalnya berat meninggalkan kesegaran itu. Mengingat terus. Ingin balik arah dan berlama-lama ditempat enak saja.

Tapi bahkan kita tak selamanya menjadi anak kecil.
Kita akan mulai menjadi remaja. Pemuda. Manusia menuju dewasa

Maka lihatlah, semesta sedang berbisik lewat perih dan kaca itu. "Waktu bermain sudah selesai sayang. Ayo lekas beranjak!"

A moment in time

Bukan tentang tempat, kekayaan, kemewahan dan apa.
Momen. Ini tentang manusia. Tentang kenangan. Tentang harapan. Tentang senyuman. Kebahagiaan. Tangisan. Kesedihan. Air mata. Berbagi. Cinta.

Dan seiring jalan. Kita akan terus menemukan makna makna baru bagi definisi momen hidup kita.
Kita koleksi
Kita peluk erat.

Dan suatu hari. Kita akan menengok balik dan tersenyum.

"Semua baik-baik saja"




____________________________________________
Selamat malam.
Ini malam pertama bersapa kamar kosan lagi setelah 35 hari berbagi kasur dengan saudara baru.
Baru saja menapak kasur. Badan masih lelah dan pegal. Kantuk pula.
Di sepanjang perjalanan pulosari-purwokerto ,  di atas boncengan motornya Anggito tri Hutomo, aku merangkai sedikit sedikit kata yang diselakan dalam bait diatas.

Entah. Aku sedang ingin saja bercerita tentang momen. Misteri waktu. Dan teka-teki kisah sejenak aku dan lelaki itu.

Kadang rindu datang
Aku rindu kakakku.
Rindu teman diskusi ku
Rindu teman mimpiku
Pembacaku
Aku rindu mencintai nya
Melakukan apa hanya untuk membuatnya bahagia, hari-harinya menyenangkan. Walau terkadang tak pernah terlihat, walau kadang terlalu berlebih...

Rindu memang
Tapi bukan berarti aku ingin memaksa kembali. Tidak.

Aku paham betul langkahku bukan kearahmu. Jalan kita berbeda.

Ada hal-hal yang harus aku cari sendiri. Aku pahami setelah melepasnya.

Adalah bohong bila dikata aku tak ingin kembali padamu. Kamu oasis di Padang gurun ku.

Tapi realita memang begitu.
Cinta kadang tak cukup, sayang.

Kita harus belajar menanggalkan kenyamanan untuk menggapai dan mengenyam keindahan dan keberhasilan lainnya. Dan itu bukan dengan berdiam diri di satu tempat untuk waktu yang panjang.

Maka ini jalannya. Jalan kita. Bertemu di satu titik, lalu beranjak ke titik lainnya.

Dulu aku pernah melepas move on ditengah perjalanan panjang. Mungkin itu kenapa aku menata ini. Aku ingin sepenuhnya move dari seorang kamu.

Hidupku sudah berjalan. Jauh sejak kamu. Lebih baik insyaallah. Lebih positif dan banyak bersyukur.

Aku mungkin tak ada di titik ini bila masih bersama kamu Abang. Aku tahu diriku, aku akan lupa diri dan hanya tahu fokus pada kamu dan kebahagiaanmu.

Padahal aku juga butuh bahagia. Butuh berkembang.

Dan sekarang sedang menuju dan terus belajar terus. Tak akan berhenti sampai disini.

Terimakasih pernah hadir walau singkat. Aku tahu hidupmu lebih produktif juga sekarang .
Teruslah berkarya abangku..

Ini aku. Di detik-detik pertambahan tahun ku. Masa dimana aku tak pernah yakin akan ada di titik ini.

Tapi here i am. Alive. And happy. Blessed by friend and close acquitance. And im full of love, hope, dream and the spirit to reach Allah of it.

Thanks God, it's 21.
I feel so blessed.

Comments

Popular posts from this blog

hollow

a long time needed journey

now i know